![]() |
| Transaksi mata uang lokal Indonesia melonjak hampir dua kali lipat pada 2025. BI mencatat nilai LCT menembus US$25,66 miliar, menekan ketergantungan dolar AS. | UNSPLASH/FREDERICK WARRENT |
Bank Indonesia (BI) mencatat nilai transaksi Local Currency Transaction (LCT) sepanjang 2025 mencapai US$25,66 miliar, hampir dua kali lipat dibandingkan realisasi 2024 sebesar US$12,5 miliar. Lonjakan tersebut mencerminkan percepatan strategi BI dalam mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat melalui penguatan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara.
Capaian itu disampaikan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Gubernur BI Januari 2026 di Jakarta. BI mencatat peningkatan transaksi LCT berlangsung konsisten sepanjang Januari–Desember 2025, dengan akselerasi terutama terjadi pada paruh kedua tahun lalu.
“Di Desember akhir LCT kita mencapai 25,66 miliar dolar AS, dan angka ini jauh meningkat dibandingkan 2024 yang besarnya adalah 12,5 miliar dolar AS,” ujar Destry.
Menurut dia, peningkatan tersebut mencerminkan semakin luasnya adopsi mekanisme transaksi non-dolar oleh perbankan dan pelaku usaha.
Penguatan transaksi berbasis mata uang lokal ditempatkan BI sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional. Dengan menurunnya ketergantungan pada dolar AS, risiko nilai tukar dinilai dapat ditekan, terutama di tengah volatilitas global.
Sebelum lonjakan pada 2025, transaksi LCT Indonesia masih relatif terbatas dan didominasi mitra di kawasan ASEAN. Dalam dua tahun terakhir, BI memperluas kerja sama LCT ke sejumlah mitra strategis di Asia dan Timur Tengah sebagai bagian dari diversifikasi mata uang transaksi.
Hingga 2025, Indonesia telah menjalin kerja sama LCT dengan delapan negara mitra, yakni Malaysia, Thailand, Jepang, China, Singapura, Korea Selatan, India, dan Uni Emirat Arab. Skema ini memungkinkan penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi langsung menggunakan mata uang masing-masing negara tanpa melalui dolar AS.
Sejalan dengan itu, BI terus mengembangkan pasar valuta asing non-dolar di dalam negeri. Salah satu langkahnya adalah mengaktifkan pasangan mata uang baru, termasuk rupiah–yen dan rupiah–yuan, yang dalam sebulan terakhir menunjukkan tren transaksi meningkat.
Selama ini, kebutuhan yuan oleh perbankan domestik umumnya dipenuhi melalui dolar AS. Pola tersebut dinilai kurang efisien karena menambah biaya transaksi sekaligus memperbesar dominasi dolar dalam sistem keuangan.
“Ini yang kami coba potong, sehingga ke depan mereka membutuhkan CNY, itu kita akan dorong supaya pasar rupiah–CNY juga akan aktif,” kata Destry.
Ia menyampaikan penguatan pasar langsung rupiah terhadap mata uang mitra diharapkan menyederhanakan dan mengefisienkan mekanisme transaksi.
Data BI menunjukkan transaksi LCT Indonesia–China menjadi salah satu kontributor terbesar sepanjang 2025. Dalam tujuh bulan pertama tahun lalu, nilai transaksi LCT dengan China mencapai sekitar US$6,23 miliar atau sekitar 45% dari total transaksi LCT Indonesia dengan seluruh mitra. Nilai tersebut bahkan sempat menembus kisaran US$1 miliar per bulan pada akhir 2025, sebagaimana diberitakan CNBC Indonesia.
Selain China, transaksi LCT dengan negara-negara ASEAN juga mencatat pertumbuhan signifikan. Hingga pertengahan 2025, nilai transaksi LCT dengan kawasan ASEAN mencapai US$14,1 miliar, tumbuh lebih dari 100% secara tahunan, mengacu pada laporan Antara News yang mengutip data otoritas moneter.
Di sisi kebijakan, BI tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga terlibat aktif dalam perdagangan mata uang non-dolar untuk memperdalam pasar. Bank sentral menyiapkan pengembangan instrumen operasi moneter valas berbasis yuan dan yen, termasuk transaksi spot dan swap, guna mendukung likuiditas pasar dan menjaga stabilitas rupiah.
Langkah tersebut ditempatkan untuk memperluas ruang pengelolaan stabilitas nilai tukar, terutama saat kondisi dolar AS cenderung mengetat akibat dinamika kebijakan moneter global.
Pada September 2025, BI bersama People’s Bank of China meluncurkan kerangka kerja LCT Indonesia–China yang diperluas. Kerangka ini mencakup penyelesaian transaksi untuk seluruh item Balance of Payments dan disebut sebagai bagian dari penguatan integrasi sistem pembayaran dan transaksi lintas negara.
Sepanjang 2025, BI mencatat semakin banyak pelaku usaha dan perbankan memanfaatkan skema LCT seiring meningkatnya kebutuhan transaksi lintas negara di tengah dinamika ekonomi global.

0Komentar