Drone Rusia. | LinkedIn Vladyslav Klochkov


Pasukan Ukraina untuk pertama kalinya mencatat penggunaan drone kamikaze BM-35 Rusia yang dikendalikan melalui internet satelit Starlink. Temuan tersebut dilaporkan pada 15 Januari 2026 oleh pakar perang elektronik Ukraina, Serhii “Flash” Beskrestnov, berdasarkan dokumentasi unit militer di lapangan.

Mengutip Kyiv Independent, Drone itu terdeteksi beroperasi di wilayah pertempuran Ukraina dengan kendali jarak jauh yang diyakini berasal dari operator yang berada di Rusia. Penggunaan koneksi satelit menandai perubahan signifikan dalam pola operasi drone Rusia di medan tempur.

Sistem komunikasi berbasis satelit memungkinkan BM-35 tetap terhubung meski berada di area dengan gangguan perang elektronik intensif. Mekanisme ini membuat drone lebih sulit dialihkan atau dijatuhkan dibandingkan drone yang mengandalkan frekuensi radio darat.

Sebelum temuan ini, kendali satelit serupa hanya terdeteksi pada drone kamikaze tipe Molniya milik Rusia, yang umumnya digunakan untuk serangan taktis jarak menengah. BM-35 sendiri merupakan drone kamikaze berbahan bakar bensin yang pertama kali muncul di medan tempur pada awal September 2025.

Beskrestnov menjelaskan, integrasi terminal Starlink secara mendasar mengubah efektivitas drone serang. Ia menyebut sistem tersebut membuat drone nyaris kebal terhadap metode perang elektronik konvensional yang biasa digunakan Ukraina. 

“Ini adalah bencana bagi kami,” ujarnya. Ia menambahkan, tautan satelit memungkinkan pengiriman perintah dan video secara stabil dengan jeda minimal, sehingga operator dapat membidik target bergerak dengan presisi tinggi.

Di lapangan, pasukan Ukraina juga menemukan langkah pengamanan tambahan pada drone Rusia. Dalam sejumlah kasus, terminal Starlink dipasangi bahan peledak untuk mencegah pengambilan data intelijen. Pemeriksaan terhadap reruntuhan drone Molniya yang jatuh menemukan muatan TNT seberat 75 gram yang dirancang untuk menghancurkan terminal jika drone berhasil diamankan, sebagaimana dilansir United 24 Media.

Peringatan lain disampaikan Beskrestnov terkait potensi adopsi teknologi serupa pada drone kamikaze Shahed buatan Iran, yang selama ini digunakan Rusia untuk menyerang kota dan infrastruktur Ukraina. 

Menurut dia, penggunaan Starlink pada Shahed akan membuat metode spoofing GPS—teknik memalsukan koordinat untuk mengalihkan drone—menjadi tidak efektif. “Ketika Shahed mulai terbang menggunakan Starlink, itu hanya soal waktu,” katanya, dilansir Newsweek.

BM-35 diketahui memiliki desain sayap delta dan menggunakan mesin bensin dua tak DLE. Analisis bangkai drone tersebut mengungkap setidaknya 41 komponen asing yang berasal dari Swiss, Amerika Serikat, Taiwan, dan Tiongkok, berdasarkan pemeriksaan teknis yang dilakukan pihak Ukraina.

Sementara itu, SpaceX menyatakan layanan Starlink tidak beroperasi di Rusia dan perusahaan tidak menjual terminal ke negara tersebut. Perusahaan juga menyebut akan menonaktifkan perangkat yang terbukti digunakan oleh entitas yang terkena sanksi. Meski demikian, laporan lapangan Ukraina menyebut pasukan Rusia diduga memperoleh terminal Starlink melalui negara ketiga untuk digunakan di medan perang.