Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, kanan, dan Presiden Rusia Vladimir Putin saling menyapa selama pertemuan mereka di Teheran, Iran, 19 Juli 2022.  | Office of the Iranian Supreme Leader


Israel dan Iran secara diam-diam bertukar jaminan untuk tidak melancarkan serangan lebih dulu melalui jalur diplomasi rahasia yang dimediasi Rusia pada Desember 2025. Komunikasi ini berlangsung beberapa pekan sebelum gelombang protes besar pecah di Iran pada 28 Desember, sebagaimana dilaporkan The Washington Post.

Jalur belakang tersebut difasilitasi Presiden Rusia Vladimir Putin dan disebut sebagai salah satu komunikasi paling tidak lazim antara dua negara yang selama ini bermusuhan, terutama setelah konflik bersenjata selama 12 hari pada Juni 2025. Dalam pertukaran pesan itu, Israel menyampaikan komitmen tidak akan menyerang Iran kecuali diprovokasi, sementara Teheran membalas dengan janji serupa melalui perantara yang sama.

Sejumlah diplomat dan pejabat regional yang dikutip The Washington Post menyebut kesepakatan tidak resmi tersebut muncul di tengah memburuknya situasi internal Iran. Kerusuhan dan aksi protes terhadap pemerintah meningkat tajam pada akhir Desember, disertai penindasan aparat yang, menurut Human Rights Activists News Agency, menewaskan sedikitnya 2.571 orang.

Respons Teheran terhadap pendekatan itu dilaporkan bersifat hati-hati. The Jerusalem Post menyebut pejabat Iran masih mencurigai niat Israel dan menilai jalur komunikasi tersebut tidak sepenuhnya menutup kemungkinan adanya serangan militer Amerika Serikat yang terkoordinasi.

Di sisi lain, pejabat Israel disebut telah menyampaikan pandangan mereka kepada pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar menunda opsi militer terhadap Iran. Rekomendasi itu disampaikan ketika Trump mempertimbangkan sejumlah skenario, mulai dari serangan udara, operasi siber, hingga pengetatan sanksi ekonomi, sebagai respons atas penindasan terhadap para pengunjuk rasa di Iran.

Dalam laporan yang sama, NBC News mengutip pandangan pejabat Israel yang menilai intervensi militer asing justru berpotensi merugikan gerakan protes di dalam negeri Iran. 

“Pejabat Israel telah memberi tahu pemerintahan Trump bahwa meskipun mereka sepenuhnya mendukung perubahan rezim di Iran, mereka khawatir intervensi militer asing saat ini dapat menghalangi para pengunjuk rasa untuk menyelesaikan pekerjaan mereka,” tulis NBC, mengutip pejabat AS dan Israel.

Sebagai alternatif, sumber-sumber Israel menyarankan langkah lain yang dinilai lebih efektif, antara lain meningkatkan akses dan konektivitas internet bagi warga Iran, memperkuat sanksi ekonomi, serta meluncurkan serangan siber yang lebih terarah terhadap infrastruktur rezim.

Pertimbangan tersebut didorong oleh kekhawatiran bahwa campur tangan terbuka dari luar akan dimanfaatkan Teheran untuk mendeligitimasi aksi protes dengan melabelinya sebagai agenda asing. 

“Konsensusnya adalah bahwa campur tangan apa pun dari kami hanya akan memperumit masalah,” kata seorang pejabat Israel kepada CNN.

Pejabat yang mengetahui isi komunikasi itu mengatakan kepada The Washington Post bahwa tujuan Israel membuka jalur rahasia melalui Moskwa adalah untuk menahan eskalasi di satu sisi, sambil memberi ruang bagi persiapan kemungkinan operasi militer besar terhadap Hezbollah di Lebanon. 

Bagi Teheran, menjaga jarak dari konflik Israel–Hezbollah dinilai menguntungkan, mengingat tekanan domestik telah melemahkan posisi regional Iran dan menggerus dukungannya terhadap kelompok militan Lebanon tersebut.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka mengonfirmasi adanya upaya komunikasi tersebut pada akhir Desember. Dalam wawancara dengan Fox News, Netanyahu mengatakan Israel “tidak mencari ketegangan” dengan Iran. 

Putin sebelumnya juga mengakui peran Rusia sebagai perantara pada Oktober, dengan menyatakan bahwa Israel meminta Moskwa menyampaikan pesan bahwa mereka tidak menginginkan “konfrontasi dalam bentuk apa pun”.

Sementara itu, situasi keamanan kawasan turut memicu langkah antisipatif dari Amerika Serikat. Pemerintah AS mulai mengevakuasi sebagian personelnya dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar setelah Iran memperingatkan bahwa pangkalan-pangkalan militer Amerika akan menjadi target balasan jika terjadi serangan militer. Teheran juga dilaporkan memutuskan jalur komunikasi langsung dengan Washington menyusul ancaman yang disampaikan Presiden Trump.