Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier. | ANADOLU

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier melontarkan kritik terbuka terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump yang dinilainya berisiko merusak tatanan dunia berbasis aturan yang dibangun setelah Perang Dunia II. Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah simposium di Berlin, Rabu malam, 7 Januari 2026.

Dalam pidatonya, Steinmeier memperingatkan agar dunia tidak bergerak ke arah situasi ketika negara-negara kuat bertindak semaunya dan mengabaikan norma internasional. Ia menilai sejumlah langkah AS belakangan mencerminkan pergeseran serius dari prinsip multilateralisme yang selama puluhan tahun menjadi fondasi hubungan transatlantik. Pernyataan tersebut dilaporkan Reuters.

“Dunia tidak boleh menjadi tempat di mana yang tidak bermoral mengambil apa pun yang mereka inginkan,” ujar Steinmeier, menegaskan bahwa aturan internasional bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi stabilitas global.

Pidato itu disampaikan dalam simposium yang digelar untuk menandai ulang tahun ke-70 Steinmeier. Meski jabatan presiden di Jerman bersifat seremonial, ia dikenal kerap menggunakan forum publik untuk menyampaikan pandangan moral dan politik luar negeri, terutama terkait demokrasi dan tatanan internasional.

Tanpa menyebut langsung nama Trump, Steinmeier menyatakan tindakan AS saat ini menunjukkan pemutusan nilai oleh mitra terpenting Jerman, yang sebelumnya ikut membangun sistem internasional pascaperang. Ia menggambarkan kondisi tersebut sebagai situasi yang berisiko mengikis kepercayaan terhadap aturan global.

Lebih jauh, Steinmeier mengaitkan kritiknya dengan perkembangan geopolitik dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyebut aneksasi Rusia atas Crimea dan invasi besar-besaran ke Ukraina sebagai titik balik runtuhnya tatanan keamanan Eropa. Namun, menurutnya, erosi nilai-nilai global kini tidak hanya datang dari Moskwa.

Steinmeier menyebut telah terjadi dua historic ruptures dalam tatanan dunia. Yang pertama adalah tindakan Rusia di Ukraina. Yang kedua, menurutnya, adalah perubahan arah kebijakan AS yang dinilai meninggalkan prinsip-prinsip yang selama puluhan tahun menjadi pegangan bersama negara-negara Barat.

Kritik tersebut muncul di tengah sorotan terhadap peran AS dalam dinamika politik global awal 2026. Sejumlah laporan media internasional menyebut adanya keterlibatan atau dukungan Washington dalam operasi yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Isu ini memicu perdebatan di Eropa terkait batas intervensi dan penghormatan terhadap kedaulatan negara lain.

Di sisi lain, wacana lama pemerintahan Trump mengenai keinginan untuk mengakuisisi Greenland kembali mencuat. Pernyataan itu memicu reaksi keras dari sejumlah pemimpin Eropa yang menilai pendekatan tersebut menghidupkan kembali politik kekuasaan lama dan mengabaikan hukum internasional. Dalam konteks ini, kritik Steinmeier dibaca sebagai sinyal ketidakpuasan Berlin terhadap arah kebijakan luar negeri Washington.

Pernyataan Steinmeier sejalan dengan perubahan sikap publik di Jerman terhadap AS. Survei terbaru lembaga penyiaran publik ARD menunjukkan penurunan tajam tingkat kepercayaan warga Jerman terhadap Washington. Jajak pendapat yang dilakukan Infratest dimap dan dipublikasikan pada 8 Januari 2026 mencatat 76% responden menilai AS bukan lagi mitra yang dapat diandalkan.

Dalam survei yang sama, hanya 15% warga Jerman yang menyatakan masih percaya pada AS, angka terendah sejak survei serupa pertama kali dilakukan. Prancis menempati posisi teratas sebagai mitra paling tepercaya dengan tingkat kepercayaan 78%, disusul Britania Raya 74%. Ukraina mencatat 40%, sementara Rusia berada di posisi terbawah dengan 9%.

Di tingkat Eropa, kritik terhadap Washington juga datang dari Paris. Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam sejumlah pernyataan terpisah menilai AS semakin menjauh dari aturan internasional dan cenderung membagi dunia ke dalam zona pengaruh. Macron menyebut kecenderungan tersebut sebagai kembalinya Doktrin Monroe dalam bentuk modern.

Sejalan dengan dinamika itu, pemerintah Jerman dalam beberapa tahun terakhir mendorong gagasan strategic autonomy Eropa, yakni upaya memperkuat kapasitas politik, ekonomi, dan pertahanan Uni Eropa agar tidak terlalu bergantung pada AS. Wacana ini kian menguat di tengah meningkatnya ketidakpastian arah kebijakan luar negeri Washington.

Hingga saat ini, Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Steinmeier. Kritik terbuka dari kepala negara Jerman tersebut menambah daftar ketegangan politik antara Eropa dan AS yang terus berkembang sejak awal masa jabatan kedua Trump.