![]() |
| Seorang pria bersepeda di wilayah Donbas, Ukraina, yang hancur akibat perang dengan Rusia. Kiev sebut serangan Rusia di Donbas seperti film Perang Dunia II. | REUTERS |
Invasi skala penuh Rusia ke Ukraina memasuki hari ke-1.418 pada 11 Januari 2026, menyamai durasi perang Nazi Jerman melawan Uni Soviet pada Perang Dunia II. Tonggak waktu itu disoroti Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam pidato malamnya di Kyiv, ketika pertempuran masih terkonsentrasi di wilayah timur Ukraina, khususnya Donbas, yang sejak awal menjadi target utama pasukan Rusia.
Zelensky membandingkan metode perang Rusia saat ini dengan praktik fasisme abad ke-20. Ia menyatakan invasi yang dimulai pada 24 Februari 2022 itu kini berlangsung selama konflik Nazi Jerman melawan Uni Soviet, yang dimulai melalui Operasi Barbarossa pada 22 Juni 1941 dan berakhir dengan menyerahnya Jerman pada 9 Mei 1945.
“Perang skala besar Rusia terhadap Ukraina telah berlangsung selama perang Nazi Jerman melawan Uni Soviet,” ujar Zelensky, seperti dikutip Kyiv Independent, Senin (12/12026)
Menurutnya, Moskwa tidak hanya mengulang ambisi teritorial masa lalu, tetapi juga pola kekerasan terhadap warga sipil, yang ia sebut sebagai pengulangan “penghinaan terhadap manusia” yang pernah terjadi pada abad ke-20.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah stagnasi militer Rusia di lapangan. Meski mengerahkan sumber daya besar selama hampir empat tahun, Rusia belum mencapai tujuan strategis utamanya.
Sejumlah analis militer Barat, dikutip Reuters, menilai rencana blitzkrieg yang diharapkan Kremlin pada awal invasi telah berubah menjadi konflik bersenjata terpanjang di Eropa sejak Perang Dunia II.
Situasi medan tempur juga menunjukkan pergeseran dibanding fase awal perang. Rusia kehilangan kendali atas sejumlah wilayah yang sempat diduduki pada 2022, termasuk area di Ukraina utara, sebagian wilayah Kharkiv, serta Kherson. Saat ini, pertempuran lebih banyak berlangsung dalam bentuk perang posisi di Donbas, dengan pergeseran garis depan yang terbatas.
Sumber militer Ukraina melaporkan bahwa total korban di pihak Rusia sejak awal invasi mencapai sekitar 1.218.940 orang, termasuk tentara yang tewas dan terluka. Dalam laporan harian otoritas militer Ukraina, sekitar 1.130 korban tercatat hanya dalam 24 jam terakhir. Zelensky menyebut sejak Desember lalu Rusia kehilangan sedikitnya 1.000 personel per hari di medan perang.
Dalam pidato yang sama, Zelensky menegaskan fokus militer Rusia belum berubah. “Rusia berusaha merebut Donbas yang sama seperti hampir empat tahun yang lalu,” katanya, merujuk pada wilayah yang sejak lama menjadi pusat konflik bersenjata antara kedua negara.
Di jalur diplomatik, Ukraina tetap melanjutkan upaya menuju gencatan senjata. Pada pekan yang sama, pejabat Ukraina menggelar pertemuan dengan mitra Barat di Paris. Pertemuan itu dihadiri perwakilan dari 35 negara yang tergabung dalam apa yang disebut sebagai “koalisi yang bersedia”, dengan agenda membahas jaminan keamanan bagi Ukraina jika gencatan senjata tercapai.
Prancis dan Inggris menyatakan kesiapan mengirim pasukan ke Ukraina sebagai bagian dari mekanisme pengamanan pascagencatan senjata. Amerika Serikat, menurut pernyataan pejabat yang mengetahui jalannya perundingan, menyampaikan komitmen untuk memimpin pemantauan pelaksanaan gencatan senjata.
Rusia hingga kini menolak tuntutan utama Ukraina dan sekutunya. Pemerintah Rusia secara konsisten menegaskan klaimnya atas wilayah Ukraina yang diduduki dan menolak skema penyelesaian yang melibatkan kehadiran pasukan asing di wilayah Ukraina, sebagaimana disampaikan pejabat Kremlin dalam berbagai pernyataan resmi.

0Komentar