Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengunjungi sebuah pabrik yang terlibat dalam pembuatan senjata berpemandu taktis di tempat yang dirahasiakan di Korea Utara pada 3 Januari 2026. | KCNA


Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un memerintahkan perluasan kapasitas produksi senjata taktis berpemandu hingga 250% setelah meninjau sebuah pabrik persenjataan pada 3 Januari 2026. Perintah tersebut dilaporkan oleh media pemerintah, beberapa jam sebelum Pyongyang meluncurkan sejumlah rudal balistik dari pesisir timur Semenanjung Korea pada 4 Januari.

Menurut Korean Central News Agency (KCNA), Kim memeriksa fasilitas yang memproduksi senjata berpemandu presisi dan menginstruksikan peningkatan drastis produksi. Senjata ini, yang akan menggantikan sebagian peran artileri konvensional, dijadwalkan mulai "dilengkapi secara sistematis di unit-unit kunci" pada paruh pertama 2026.

Pabrik tersebut diyakini memproduksi Bulsae-4, sistem rudal anti-tank berpemandu jarak menengah dengan perkiraan jangkauan antara 10 hingga 25 kilometer.

Langkah tersebut diambil menjelang Workers’ Party Congress Kesembilan yang dijadwalkan pada Januari atau Februari 2026, yang akan menjadi kongres pertama dalam lima tahun terakhir. Banyak analis menganggap forum tersebut sebagai ajang bagi Kim untuk memaparkan rencana lima tahun baru, termasuk modernisasi kemampuan pertahanan nuklir dan konvensional.

Beberapa jam setelah laporan kunjungan Kim ke pabrik senjata tersebut, Korea Utara meluncurkan beberapa rudal balistik dari wilayah dekat Pyongyang sekitar pukul 07.50 waktu setempat pada 4 Januari. Kepala Staf Gabungan Korea Selatan melaporkan bahwa peluncuran ini merupakan uji coba rudal pertama Pyongyang pada 2026, serta yang pertama sejak November 2025.

Mengutip Kyodo News, Kementerian Pertahanan Jepang mengonfirmasi setidaknya dua rudal terdeteksi terbang dengan lintasan tidak beraturan sejauh sekitar 900 hingga 950 kilometer sebelum jatuh di luar zona ekonomi eksklusif Jepang. Tokyo menganggap peluncuran ini sebagai pelanggaran resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Perkembangan ini juga terjadi bersamaan dengan dinamika diplomatik di kawasan. Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung berkunjung ke Beijing pada 4 Januari untuk bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Kunjungan ini merupakan perjalanan pertama Lee ke Tiongkok sejak menjabat pada Juni 2025, serta kunjungan kenegaraan pertama Presiden Korea Selatan ke negara itu sejak 2017.

Seoul berharap Beijing dapat menggunakan pengaruhnya terhadap Pyongyang untuk membuka kembali ruang dialog antar-Korea.

Waktu peluncuran rudal Korea Utara ini juga terkait dengan dinamika global, termasuk eskalasi operasi militer Amerika Serikat di Venezuela pada 3 Januari yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro.

Hong Min, analis Korea Institute for National Unification, menilai bahwa uji coba ini mencerminkan kekhawatiran Pyongyang terhadap kemampuan Amerika Serikat dalam melancarkan serangan presisi mendadak terhadap rezim yang dianggap bermusuhan. 

"Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa menyerang Korea Utara tidak akan semudah serangan terhadap Venezuela," kata Hong, seperti yang dilaporkan oleh Yonhap News Agency.

Dalam beberapa tahun terakhir, Korea Utara mempercepat produksi dan pengujian berbagai sistem persenjataan. Laporan intelijen internasional menyebut Pyongyang berusaha meningkatkan kemampuan serangan presisi sambil menguji sistem tersebut sebelum diekspor ke luar negeri. 

Laporan tersebut juga mengindikasikan bahwa Korea Utara telah memasok Moskwa dengan lebih dari 100 rudal balistik, termasuk sistem anti-tank Bulsae-4, serta jutaan peluru artileri yang digunakan dalam perang di Ukraina.