![]() |
| Emanuel Macron, Presiden Prancis. | Office of the Vice President of the United States/Wikimedia Commons |
Presiden Prancis Emmanuel Macron menolak keras kebijakan tarif baru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menyusul rencana Washington mengenakan bea masuk menyeluruh terhadap delapan negara Eropa mulai Februari 2026. Macron menegaskan Eropa tidak akan tunduk pada tekanan atau ancaman dalam bentuk apa pun.
Pernyataan tersebut disampaikan beberapa jam setelah Trump menulis di Truth Social bahwa Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia akan dikenai tarif 10% atas seluruh ekspor ke AS per 1 Februari, yang kemudian naik menjadi 25% mulai 1 Juni.
Bea masuk itu, menurut Trump, akan tetap diberlakukan “sampai tercapai kesepakatan untuk pembelian Greenland secara lengkap dan menyeluruh.”
Merespons pengumuman itu, Macron menyampaikan sikap kolektif Eropa melalui unggahan di X. “Tidak ada intimidasi atau ancaman yang akan memengaruhi kami—baik di Ukraina, maupun di Greenland, atau di mana pun di dunia ketika kami dihadapkan pada situasi seperti ini,” tulis Macron. Ia menegaskan ancaman tarif tidak dapat diterima dan Eropa akan merespons secara bersatu dan terkoordinasi jika langkah tersebut dikonfirmasi.
Sikap serupa disampaikan pemerintah Jerman. Juru bicara pemerintah Stefan Kornelius mengatakan Berlin tengah berkoordinasi erat dengan mitra-mitra Eropa untuk menyiapkan respons bersama, dengan langkah lanjutan yang akan diambil secara terukur pada waktu yang dianggap tepat. Dari London, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyebut rencana tarif Trump sebagai kebijakan yang sepenuhnya keliru.
Delapan negara yang menjadi target tarif merupakan anggota NATO dan dalam beberapa hari terakhir mengerahkan personel militer ke Greenland atas permintaan Denmark. Prancis mengirim 15 tentara, dengan Macron menyatakan pasukan telah diberangkatkan dan akan disusul aset darat, udara, serta laut. Jerman mengirim 13 tentara, sementara Swedia, Norwegia, dan Belanda turut ambil bagian dalam latihan yang oleh para pejabat disebut sebagai pelatihan bersama untuk menunjukkan kesiapan NATO mengamankan kawasan Arktik.
Ancaman Trump juga memicu aksi demonstrasi di Denmark pada Sabtu. Ribuan orang berkumpul di Kopenhagen dan berarak dari Balai Kota menuju Kedutaan Besar AS sambil membawa bendera Greenland dan meneriakkan penolakan atas rencana pembelian wilayah tersebut.
Aksi serupa terjadi di Nuuk, ibu kota Greenland, di mana para demonstran termasuk Perdana Menteri Jens-Frederik Nielsen tetap turun ke jalan meski suhu mendekati titik beku, mengenakan topi bertuliskan “Make America Go Away.”
Trump membela kebijakan tarifnya dengan menyatakan China dan Rusia menginginkan Greenland serta menilai Denmark tidak mampu menjamin keamanannya. Ia juga mengklaim Greenland saat ini hanya memiliki dua kereta luncur anjing sebagai perlindungan. Menurut Trump, pengerahan pasukan Eropa justru menciptakan situasi yang sangat berbahaya bagi keselamatan dan keamanan global.
Krisis ini mencuat setelah pertemuan awal pekan antara pejabat Denmark dan Greenland dengan Wakil Presiden AS JD Vance serta Menteri Luar Negeri Marco Rubio gagal menghasilkan titik temu. Menteri Luar Negeri Denmark Lars Løkke Rasmussen menyatakan pertemuan tersebut berakhir tanpa kemajuan karena adanya ketidaksepakatan mendasar.
Sementara itu, delegasi lintas partai Kongres AS yang berkunjung ke Kopenhagen pada Sabtu berupaya meredakan kekhawatiran sekutu. Senator Chris Coons mengatakan sikap Trump tidak mencerminkan pandangan mayoritas warga Amerika dan menegaskan tidak ada ancaman keamanan yang dapat membenarkan kebijakan tersebut.

0Komentar