Putra Mahkota terakhir Kerajaan Iran, Reza Pahlavi. Foto: AFP/ODD ANDERSEN


Gelombang protes yang kembali meluas di Iran sejak akhir 2025 mengembalikan sorotan pada Reza Pahlavi—putra mahkota terakhir yang hidup dalam pengasingan. Dari luar negeri, ia menyerukan demonstrasi nasional dan menawarkan diri membantu proses transisi politik jika Republik Islam runtuh.

Krisis domestik Iran berlangsung di tengah tekanan ekonomi yang kian berat. Data per Januari 2026 menunjukkan nilai tukar rial melampaui 1,4 juta per dolar AS, sementara inflasi berada di atas 40%. Kenaikan harga pangan dan energi mempersempit daya beli rumah tangga, terutama di wilayah perkotaan dan provinsi terpencil.

Pada saat yang sama, kebijakan pembatasan sosial termasuk penegakan hukum hijab dan tekanan terhadap aktivisme mahasiswa memperluas spektrum protes dari tuntutan ekonomi menjadi kritik terhadap sistem teokrasi. Kelangkaan air dan energi di sejumlah daerah turut memperkuat ketidakpuasan publik.

Dari simbol pengasingan ke suara oposisi

Dalam pesan di media sosial, Reza Pahlavi menyebut jumlah peserta demonstrasi “belum pernah sebanyak itu sebelumnya” dan mengklaim menerima laporan bahwa “rezim sangat ketakutan dan kembali berusaha memutus akses internet” untuk menahan arus protes. Seruan ini menandai fase terbaru keterlibatannya yang lebih terbuka dalam dinamika oposisi.

Sejak Revolusi Islam 1979 menggulingkan monarki ayahnya, Mohammad Reza Shah Pahlavi, Reza hidup di pengasingan. Saat revolusi terjadi, ia tengah menjalani pelatihan sebagai pilot tempur di AS. Ia menyaksikan dari jauh ketika ayahnya mencari perlindungan politik di berbagai negara hingga wafat di Mesir akibat kanker.

Kehilangan kekuasaan mendadak membuat keluarga Pahlavi tanpa kewarganegaraan dan bergantung pada jejaring simpatisan di pengasingan. Dalam dekade berikutnya, tragedi keluarga termasuk bunuh diri adik perempuan dan adik laki-lakinya membentuk posisinya lebih sebagai simbol ketimbang figur politik operasional.

Kini, pada usia pertengahan 60-an, Pahlavi berupaya memosisikan diri sebagai figur rekonsiliasi. Dari kediamannya di pinggiran Washington DC, para pendukung menggambarkannya sebagai pribadi yang mudah didekati. 

Pada 2022, ketika ditanya apakah ia menganggap dirinya pemimpin gerakan protes, ia dan istrinya, Yasmine, menjawab serempak, “Perubahan harus datang dari dalam.”

Dalam beberapa tahun terakhir nadanya kian tegas. Setelah serangan udara Israel pada 2025 yang menewaskan sejumlah jenderal senior Iran, Pahlavi menyatakan di Paris bahwa ia siap membantu memimpin pemerintahan transisi jika Republik Islam runtuh. 

Sejak itu, ia menguraikan rencana 100 hari untuk pemerintahan sementara, menegaskan bahwa langkah tersebut bukan untuk “memulihkan masa lalu”, melainkan “mengamankan masa depan demokratis bagi semua warga Iran”.

Daya tarik simbolik dan batas pengaruh

Kehadiran Pahlavi memengaruhi dinamika oposisi yang sejak lama terfragmentasi. Di satu sisi, namanya dikenal luas secara internasional dan memiliki daya tarik simbolik bagi sebagian diaspora serta generasi muda yang merasa terasing dari ideologi Revolusi 1979. 

Di sisi lain, memori tentang era Pahlavi yang bagi sebagian warga identik dengan modernisasi cepat, tetapi bagi yang lain sarat sensor dan represi oleh polisi rahasia Savak membuat penerimaan publik tetap terbelah.

Di lapangan, muncul kembali slogan yang merujuk pada dinasti Pahlavi dalam sejumlah demonstrasi, menandakan pergeseran sentimen di sebagian basis akar rumput. 

Namun, mengukur dukungan riil di dalam negeri tetap sulit karena ketiadaan jajak pendapat independen dan risiko keamanan bagi pendukung oposisi.

Sikap keras Teheran dan kehati-hatian internasional

Pemerintah Iran menanggapi aktivitas Pahlavi dengan sikap keras. Media pemerintah seperti Fars dan Tasnim kerap melabelinya sebagai “boneka Barat”. 

Jaksa Agung Mohammad Movahedi Azad menyebut keterlibatan dalam kerusuhan terorganisir dapat dikategorikan sebagai moharebeh atau “musuh Tuhan”, tuduhan yang membawa ancaman hukuman mati. 

Otoritas juga mengerahkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan milisi Basij untuk meredam protes yang mereka klaim dipicu hasutan dari luar negeri.

Di tingkat internasional, sikap negara-negara Barat cenderung berhati-hati. Meski sejumlah pejabat AS bertemu tokoh-tokoh oposisi, hingga Januari 2026 belum ada pengakuan resmi terhadap Pahlavi sebagai pemimpin pemerintahan di pengasingan. 

Fokus tetap terbagi antara dukungan terhadap gerakan pro-demokrasi dan kekhawatiran atas stabilitas regional bila perubahan berlangsung mendadak.

Jejak upaya koalisi dan kontroversi

Upaya Pahlavi membangun koalisi oposisi telah berlangsung lama, termasuk melalui Dewan Nasional Iran untuk Pemilu Bebas yang diluncurkan pada 2013. 

Namun, perbedaan internal dan keterbatasan jangkauan di dalam Iran membuat dampaknya terbatas. Ia secara konsisten menolak kekerasan dan menjauhkan diri dari faksi bersenjata seperti Mojahedin-e Khalq (MEK), sembari menyerukan transisi damai dan referendum nasional untuk menentukan sistem politik masa depan.

Sejumlah langkahnya memicu perdebatan. Pada 1980, ia menggelar penobatan simbolis di Kairo, yang menurut sebagian lawan politik melemahkan pesan reformasi demokratis yang kini ia tekankan. 

Kunjungan ke Israel pada 2023 termasuk menghadiri peringatan Holokos dan bertemu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga memecah opini. Bagi sebagian pihak, itu dipandang pragmatis; bagi yang lain, berpotensi menjauhkan sekutu Arab dan umat Islam di Iran.

Dalam wawancara dengan BBC, ia pernah ditanya soal sikap terhadap serangan Israel yang berisiko menimbulkan korban sipil. Pahlavi menegaskan warga awam bukan target, seraya mengatakan bahwa “apa pun yang melemahkan rezim” akan disambut oleh banyak orang di Iran pernyataan yang kemudian memicu perdebatan luas.

Tiga pilar strategi yang ditawarkan

Dalam seruan terbarunya, Pahlavi menekankan tiga garis besar pendekatan: referendum nasional untuk menentukan bentuk pemerintahan monarki konstitusional atau republik sekuler; transisi tanpa kekerasan melalui pembangkangan sipil dan mogok nasional; serta kesiapan memimpin pemerintahan sementara selama 100 hari untuk stabilisasi awal dan persiapan pemilu bebas.

Basis dukungannya saat ini terutama datang dari diaspora Iran di AS dan Eropa, sebagian generasi Z dan milenial di dalam negeri yang meromantisasi era modernisasi pra-1979, serta kelompok monarkis. Namun, keterbatasan data membuat peta dukungan tetap sulit dipastikan.

Di tengah tekanan ekonomi dan sosial yang menekan Iran, kemunculan kembali Reza Pahlavi sebagai figur oposisi menambah satu variabel penting dalam dinamika politik yang kompleks. 

Ia menempatkan diri bukan sebagai calon raja, melainkan sebagai simbol transisi dan rekonsiliasi nasional—sebuah peran yang terus diperdebatkan antara daya tarik simbolik, keterbatasan pengaruh langsung di dalam negeri, dan kehati-hatian komunitas internasional dalam merespons perubahan yang masih penuh ketidakpastian.