Aktivitas bongkar muat peti kemas di sebuah pelabuhan menggunakan derek gantry. | yosuyoshi CHIBA/AFP


Perjanjian dagang yang tengah difinalisasi antara Amerika Serikat dan Indonesia berpotensi melipatgandakan nilai perdagangan bilateral hingga empat kali lipat, dari sekitar US$40 miliar menjadi US$160 miliar per tahun. Kesepakatan itu ditargetkan ditandatangani bulan depan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden RI Prabowo Subianto.

Potensi lonjakan nilai perdagangan tersebut disampaikan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie di sela pertemuan World Economic Forum di Davos, Swiss, Kamis (waktu setempat). Amerika Serikat saat ini merupakan mitra dagang terbesar kedua Indonesia.

Menurut Bakrie, kesepakatan ini tidak hanya ditujukan untuk memperbesar volume perdagangan, tetapi juga menata struktur yang lebih berimbang antara kedua negara.

“Perdagangan akan menjadi lebih seimbang tetapi total perdagangan akan berkembang mungkin tiga atau empat kali lipat,” kata Bakrie kepada Reuters di pertemuan tahunan di Pegunungan Alpen Swiss.

Perjanjian yang diberi nama Agreement on Reciprocal Trade (ART) tersebut telah memasuki tahap akhir setelah tim negosiator Indonesia dan Amerika Serikat mencapai konsensus atas seluruh isu substantif pada Desember lalu. Proses itu kemudian dilanjutkan dengan tinjauan hukum final dan penyusunan dokumen di Washington pada pertengahan Januari.

Dalam kerangka ART, Indonesia sepakat menghapus hambatan tarif terhadap sekitar 99% produk pertanian dan industri Amerika Serikat yang masuk ke pasar domestik. Sebagai bagian dari pengaturan tarif, Indonesia juga menyetujui tarif resiprokal sebesar 19%, lebih rendah dibandingkan ancaman tarif awal sebesar 32% yang sebelumnya disampaikan pemerintahan Trump.

Sebagai imbalannya, Amerika Serikat berkomitmen memberikan pembebasan tarif bagi sejumlah komoditas ekspor unggulan Indonesia, termasuk minyak kelapa sawit, kakao, kopi, dan teh. Indonesia juga menyatakan kesiapan membeli energi dari Amerika Serikat senilai US$15 miliar, produk pertanian senilai US$4,5 miliar, serta 50 unit pesawat Boeing sebagai bagian dari pengaturan komersial yang menyertai kesepakatan tersebut.

Pengumuman ini bertepatan dengan kehadiran Presiden Prabowo Subianto di World Economic Forum, di mana ia memaparkan kondisi dan prospek ekonomi Indonesia di hadapan para pemimpin global dan pelaku usaha internasional.

Dalam pidatonya, Prabowo mengutip penilaian Dana Moneter Internasional (IMF) terhadap perekonomian Indonesia di tengah perlambatan global.

“IMF baru-baru ini menggambarkan Indonesia sebagai ‘titik terang global’ dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat di tengah lingkungan ekonomi yang menantang,” kata Prabowo kepada para delegasi.

Prabowo juga menegaskan komitmen Indonesia terhadap keterbukaan perdagangan dan integrasi ekonomi global. Ia menyampaikan bahwa Indonesia telah menyelesaikan sejumlah perjanjian perdagangan bebas dalam setahun terakhir, termasuk dengan Uni Eropa, Kanada, Peru, dan kawasan Eurasia.

“Kami percaya integrasi perdagangan bila dilakukan secara adil bukanlah ancaman bagi kedaulatan. Kami percaya perdagangan adalah alat untuk kemakmuran,” ujarnya.

Meski demikian, sejumlah analis menilai kesepakatan tersebut masih menyisakan persoalan keseimbangan. Ekonom Yose Rizal Damuri menilai perjanjian ini belum sepenuhnya mencerminkan prinsip resiprokal karena beberapa ekspor manufaktur utama Indonesia, seperti alas kaki dan tekstil, tetap dikenakan tarif impor sebesar 19% di pasar Amerika Serikat, sementara produk Amerika Serikat memperoleh akses preferensial hampir di seluruh sektor.

Data resmi pemerintah Indonesia menunjukkan nilai perdagangan bilateral Indonesia dan Amerika Serikat mencapai US$36,2 miliar dalam sepuluh bulan pertama 2025, menegaskan posisi Amerika Serikat sebagai salah satu mitra dagang utama Indonesia di tengah upaya diversifikasi pasar ekspor.