Friedrich Merz, Kanselir Jerman. | AFP


Kanselir Jerman Friedrich Merz menilai Republik Islam Iran berada di ambang kejatuhan di tengah gelombang protes nasional yang disertai tindakan keras aparat keamanan dan menelan ratusan korban jiwa. Penilaian itu disampaikan Merz pada Selasa, saat kunjungan resmi ke Bengaluru, India, di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap Tehran.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika demonstrasi antipemerintah terus berlangsung di berbagai wilayah Iran sejak 28 Desember. Aksi protes dipicu anjloknya nilai rial serta memburuknya kondisi ekonomi, yang kemudian direspons aparat keamanan dengan tindakan represif.

"Jika sebuah rezim hanya bisa bertahan di kekuasaan dengan kekerasan, maka rezim itu benar-benar sudah tamat," kata Merz saat kunjungan ke Bengaluru, India, sebagaiman dikutip dari Al Jazeera. "Saya yakin kita sekarang sedang menyaksikan hari-hari dan minggu-minggu terakhir rezim ini. Bagaimanapun juga, rezim ini tidak memiliki legitimasi melalui pemilu di kalangan rakyat. Rakyat sekarang sedang bangkit menentang rezim ini."

Laporan organisasi hak asasi manusia menunjukkan tingginya korban jiwa akibat penindakan aparat. Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia mencatat sedikitnya 648 demonstran tewas hingga Senin. Sementara Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan 646 kematian serta lebih dari 10.700 penangkapan di seluruh 31 provinsi Iran.

Kedua organisasi tersebut menyebut angka korban kemungkinan jauh lebih tinggi. Mereka menyoroti pemadaman internet selama lebih dari 100 jam yang membuat verifikasi independen hampir mustahil. Sejumlah perkiraan internal menyebut jumlah korban tewas bisa melampaui 6.000 orang.

Sebelumnya, Merz juga mengecam respons Tehran terhadap demonstrasi sebagai tindakan yang “brutal dan tidak proporsional”. Ia menempatkan kekerasan terhadap warga sipil sebagai cerminan lemahnya legitimasi politik. 

Di Berlin, sejumlah anggota parlemen Jerman mendorong Uni Eropa memasukkan Garda Revolusi Iran ke dalam daftar organisasi teroris serta membekukan aset pejabat Iran di Eropa.

Tekanan terhadap Iran juga datang dari Washington. Presiden Donald Trump pada Senin mengumumkan kebijakan tarif 25% terhadap seluruh perdagangan negara-negara yang masih berbisnis dengan Iran ke Amerika Serikat. Trump menyebut kebijakan tersebut sebagai keputusan yang “final dan konklusif”.

Mengutip NPR, Selain langkah ekonomi, Gedung Putih membuka kemungkinan opsi militer. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan bahwa “serangan udara akan menjadi salah satu dari banyak, banyak opsi” yang sedang dipertimbangkan pemerintah AS, seraya menegaskan jalur diplomasi tetap diprioritaskan.

Peringatan keras disampaikan dari Tehran. Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada Minggu menyatakan bahwa instalasi militer AS dan Israel akan menjadi “target yang sah” apabila Washington melancarkan serangan terhadap Iran.

Merz mengatakan pemerintah Jerman tengah menjalin komunikasi intensif dengan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa terkait situasi Iran. Ia menyebut Berlin berharap masih tersedia ruang untuk “mengakhiri konflik ini secara damai”. 

Protes yang telah memasuki hari ke-16 tersebut dipandang sebagai tantangan paling serius terhadap kekuasaan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam beberapa tahun terakhir.