CNS Tangshan (122), sebuah kapal perusak berpeluru kendali Tipe 052DL milik Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLAN).


Kapal-kapal perang dari China, Rusia, Iran, Afrika Selatan, dan Uni Emirat Arab menggelar latihan angkatan laut gabungan di lepas pantai Cape Town, Afrika Selatan, akhir pekan ini. Latihan bertajuk Will for Peace 2026 itu menjadi latihan maritim pertama yang secara resmi dilaksanakan di bawah kerangka BRICS yang telah diperluas.

Mengutip Reuters, Kegiatan dimulai pada Sabtu (10/1/2026) dan dijadwalkan berlangsung hingga 16 Januari di wilayah sekitar pertemuan Samudra Hindia dan Samudra Atlantik. Latihan dipimpin China dan dibuka melalui upacara resmi di Pangkalan Angkatan Laut Simon’s Town.

Fokus latihan diarahkan pada operasi gabungan, termasuk perlindungan jalur pelayaran internasional serta pengamanan aktivitas ekonomi maritim. Otoritas pertahanan Afrika Selatan menyebut sejumlah pejabat militer dari negara peserta hadir dalam seremoni pembukaan tersebut.

China mengerahkan kapal perusak berpeluru kendali Tangshan dan kapal pasokan komprehensif Taihu, dilengkapi helikopter kapal serta pasukan operasi khusus. Iran mengirimkan kapal perusak Jamaran, kapal angkatan laut Mahdavi, serta IRIS Makran, kapal tanker yang telah dialihfungsikan sebagai pusat logistik lanjutan dan komando.

Rusia berpartisipasi dengan korvet Stoikiy dan satu kapal tanker pengisian bahan bakar. Afrika Selatan menurunkan sebuah fregat, sementara Uni Emirat Arab mengirimkan satu unit korvet.

Brasil, Indonesia, Ethiopia, dan Mesir hadir sebagai pengamat. Namun, India dan Brasil—dua anggota pendiri BRICS—tidak terlibat sebagai peserta aktif. Sejumlah analis pertahanan menilai absennya India mencerminkan upaya New Delhi menjaga keseimbangan hubungan strategis dengan Amerika Serikat, terutama di tengah proses negosiasi perdagangan yang masih berlangsung.

Latihan ini digelar di tengah situasi diplomatik yang sensitif. Afrika Selatan saat ini memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan pemerintahan Presiden Donald Trump. 

Washington sebelumnya memperingatkan bahwa negara-negara anggota BRICS berpotensi menghadapi tarif tambahan di luar bea masuk global yang sudah berlaku. Trump bahkan menyebut BRICS sebagai blok yang bersikap “anti-Amerika”.

Sorotan juga tertuju pada keterlibatan negara-negara yang tengah dikenai sanksi internasional oleh AS dan sekutunya, khususnya Rusia dan Iran. Latihan ini sejatinya dijadwalkan berlangsung pada November 2025, namun ditunda untuk menghindari benturan dengan KTT G20 di Johannesburg, yang kala itu diboikot Washington di tengah perselisihan diplomatik dengan Pretoria.

Pemerintah Afrika Selatan menegaskan latihan tersebut bersifat profesional dan tidak ditujukan kepada pihak tertentu. Wakil Menteri Pertahanan Afrika Selatan Bantu Holomisa mengatakan kerja sama militer semacam ini merupakan bagian dari hubungan internasional yang sah. 

“Mari kita tidak panik hanya karena AS bermasalah dengan negara-negara tertentu. Mereka bukan musuh kita,” ujar Holomisa kepada media setempat, dikutip dari AFP.

Kritik, bagaimanapun, datang dari dalam negeri. Democratic Alliance, partai politik terbesar kedua di Afrika Selatan sekaligus mitra koalisi pemerintah, mengecam pelaksanaan latihan tersebut. Juru bicara pertahanan partai itu, Chris Hattingh, menilai label kerja sama BRICS digunakan untuk meredam kontroversi politik.

“Menyebut latihan ini sebagai kerja sama BRICS adalah trik politik untuk memperhalus apa yang sebenarnya terjadi. Pemerintah memilih hubungan militer yang lebih erat dengan negara-negara nakal dan yang dikenai sanksi seperti Rusia dan Iran,” kata Hattingh. Partainya mendesak pemerintah menarik kapal-kapal yang berada di bawah sanksi serta memperkuat pengawasan diplomatik terhadap kehadiran militer asing di wilayah Afrika Selatan.

Militer Afrika Selatan membantah tudingan tersebut. Kapten Nndwakhulu Thomas Thamaha, komandan gugus tugas gabungan Afrika Selatan untuk latihan ini, mengatakan kerja sama maritim lintas negara semakin penting di tengah tantangan keamanan laut yang kian beragam. “Dalam lingkungan maritim yang semakin kompleks, kerja sama seperti ini bukan pilihan, tetapi kebutuhan,” ujarnya.

Latihan Will for Peace 2026 dipandang sebagai simbol meningkatnya koordinasi militer di antara negara-negara BRICS yang diperluas, khususnya di sektor maritim. Kehadiran negara-negara yang berada dalam pusaran sanksi internasional membuat latihan ini terus dipantau oleh komunitas global, termasuk Washington dan sekutu-sekutunya.