![]() |
| Pasukan pengintai Jerman ditarik mendadak dari Greenland hanya 44 jam setelah tiba, atas perintah Berlin di tengah latihan NATO di Arktik. | Guglielmo Mangiapane/REUTERS |
Pasukan pengintai militer Jerman menarik diri secara mendadak dari Greenland pada Minggu (18/1/2026), hanya 44 jam setelah tiba di wilayah tersebut. Penarikan dilakukan atas perintah langsung dari Berlin, lebih cepat dari jadwal awal yang semula diperkirakan akan diperpanjang.
Tim berjumlah 15 personel itu meninggalkan Nuuk, ibu kota Greenland, pada Minggu pagi. Misi berada di bawah komando Laksamana Madya Stefan Pauli dan merupakan bagian dari kegiatan eksplorasi keamanan Arktik bersama mitra NATO.
Juru bicara Komando Operasional Angkatan Darat Jerman menyatakan misi awal telah diselesaikan, meski sejumlah agenda tidak berjalan akibat cuaca buruk. Bundeswehr menyebut tim tersebut semula berencana tinggal satu hari lebih lama di Greenland, namun kondisi cuaca di kawasan Arktik membatasi mobilitas dan pelaksanaan beberapa pertemuan yang telah dijadwalkan.
“Kelompok tersebut telah menyelesaikan tugas awal untuk mempelajari situasi sebagai bagian dari inisiatif latihan dan pelatihan,” ujar juru bicara militer Jerman, seperti dikutip media Eropa.
Namun, laporan Bild menyebut perintah penarikan datang secara mendadak tanpa penjelasan rinci kepada personel di lapangan. Akibatnya, seluruh agenda koordinasi yang telah dijadwalkan dengan pihak terkait di Greenland dibatalkan. Informasi serupa dilaporkan RBC-Ukraine yang menyebut keputusan tersebut sepenuhnya berasal dari otoritas di Berlin.
Penarikan cepat ini terjadi di tengah meningkatnya friksi antara Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa terkait aktivitas militer NATO di Greenland. Sebelumnya, Jerman bersama Prancis, Swedia, Norwegia, Inggris, Belanda, Finlandia, dan Belgia mengirimkan pasukan dalam skala terbatas ke wilayah tersebut sebagai bagian dari latihan bersama bertajuk Operation Arctic Endurance yang dipimpin Denmark.
Latihan tersebut dirancang untuk menilai peluang latihan lanjutan dan potensi pengerahan pasukan NATO di kawasan Arktik. Sejumlah analis keamanan menilai kehadiran militer Eropa di Greenland berkaitan dengan meningkatnya perhatian strategis terhadap Atlantik Utara dan wilayah Arktik.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump merespons keras aktivitas militer NATO tersebut. Pada Sabtu (17/1), Trump mengumumkan rencana penerapan tarif impor sebesar 10% terhadap delapan negara Eropa, termasuk Jerman, mulai 1 Februari 2026. Tarif itu direncanakan naik menjadi 25% pada 1 Juni 2026 jika tidak tercapai kesepakatan terkait pembelian Greenland.
Trump juga memperingatkan bahwa pengerahan personel militer negara-negara Eropa ke Greenland merupakan “situasi yang sangat berbahaya bagi keselamatan, keamanan, dan kelangsungan hidup planet kita,” menurut pernyataannya yang dikutip CNN.
Hingga kini, pemerintah Jerman belum memberikan penjelasan tambahan mengenai alasan spesifik penarikan cepat pasukan pengintainya dari Greenland, selain faktor cuaca dan klaim bahwa misi awal telah terpenuhi.

0Komentar