Gambar udara Antelope Reef di Laut Cina Selatan. | European Union

China dilaporkan kembali melakukan reklamasi lahan secara diam-diam di wilayah sengketa Kepulauan Paracel, Laut China Selatan. Aktivitas tersebut terdeteksi melalui analisis citra satelit Sentinel-2 milik Badan Antariksa Eropa yang menunjukkan pengerukan pasir intensif di Antelope Reef sejak pertengahan Oktober 2025.

Formasi karang itu berada sekitar 400 kilometer di timur Kota Hue, Vietnam, dan sekitar 281 kilometer tenggara pangkalan angkatan laut China di Sanya, Hainan. Citra satelit memperlihatkan pengerukan di sisi timur dan selatan laguna, membentuk daratan baru di area yang sebelumnya hanya berupa gosong pasir.

Analisis Asia Maritime Transparency Initiative (AMTI) menilai pengerukan tersebut berpotensi ditujukan untuk memperluas fasilitas pelabuhan sekaligus memperkuat pos terdepan militer China di Paracel. Langkah ini ditempatkan sebagai bagian dari investasi jangka panjang Beijing untuk mengonsolidasikan klaim kedaulatannya di kawasan sengketa.


Citra Vantor menunjukkan Antelope Reef sebelum (kiri) dan setelah (kanan) dimulainya pengerukan dan reklamasi lahan. | Citra satelit © 2026 Vantor/© 2026 Janes

Perkembangan fisik yang lebih jelas terpantau hingga Januari 2026. Citra satelit komparatif yang dianalisis lembaga intelijen pertahanan Janes menunjukkan munculnya jalur akses yang lebih tegas serta dermaga roll-on/roll-off yang lazim digunakan untuk pendaratan dan pemindahan peralatan berat. Infrastruktur tersebut mengindikasikan peningkatan fungsi logistik dan militer di Antelope Reef.

Di dalam gugusan Paracel, lokasi ini dinilai strategis karena relatif dekat dengan Hainan sehingga mudah dipasok ulang. Laporan Asia Times menyebut Antelope Reef berpotensi difungsikan sebagai titik tambahan bagi helipad, jangkar kapal perang, serta operasi penegakan hukum maritim dan milisi maritim China. 

Fasilitas baru itu juga dinilai dapat memperkuat jaringan pengawasan dan kemampuan anti-access/area denial PLA, termasuk signal intelligence, peperangan elektronik, serta sistem pertahanan udara atau rudal anti-kapal.

Aktivitas reklamasi terbaru ini menambah daftar sekitar 20 pos terdepan yang telah dibangun Beijing di Kepulauan Paracel sejak 2013. Wilayah tersebut diklaim oleh China, Vietnam, dan Taiwan, meski secara de facto berada di bawah kendali Beijing.

Hingga kini, Vietnam belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait pengerukan terbaru di Antelope Reef. Sejumlah laporan, termasuk dari Newsweek, menyebut Hanoi cenderung mengkalibrasi responsnya terhadap langkah sepihak China demi menjaga stabilitas hubungan diplomatik dan dagang dengan salah satu mitra dagang utamanya. Meski demikian, pekan lalu Vietnam tercatat secara terbuka memprotes pemasangan dua stasiun identifikasi kapal otomatis China di Paracel.

Dalam konteks regional yang lebih luas, aktivitas China tersebut berlangsung bersamaan dengan percepatan reklamasi Vietnam di Kepulauan Spratly. Data AMTI mencatat, hingga Maret 2025 Vietnam telah menciptakan sekitar 70% dari total lahan buatan yang sebelumnya dibangun China di Spratly, dengan reklamasi di sejumlah fitur baru yang hampir menyamai skala pembangunan Beijing.

Kondisi ini menunjukkan bahwa reklamasi di Antelope Reef berlangsung dalam pola pembangunan infrastruktur maritim yang berkelanjutan di Laut China Selatan, di tengah klaim tumpang tindih dan persaingan kepentingan strategis di kawasan tersebut.