F/A-18E/F Super Hornet dan B-52 Stratofortress Angkatan Udara AS terbang di atas Gerald R. Ford Carrier Strike Group di Samudra Atlantik 13 November 2025. | Navy Seaman Zamirah Connor


Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi bahwa AS telah menyerang fasilitas dermaga di Venezuela. Serangan ini menandai aksi militer pertama AS di wilayah Amerika Selatan sejak Washington mulai menargetkan pengiriman Venezuela di Karibia dan Pasifik timur pada September 2025.

Berbicara kepada wartawan saat bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Florida, Trump mengatakan telah terjadi “ledakan di Venezuela” di fasilitas tempat kapal-kapal yang diyakini AS membawa narkoba biasanya dimuat.

“Ada ledakan besar di area dermaga di mana mereka memuat kapal dengan narkoba,” kata Trump, dilansir Al Jazeera. “Mereka memuat perahu dengan narkoba, jadi kami menabrak semua perahu, dan sekarang kami menyerang daerah itu. Ini adalah area implementasi. Di situlah mereka menerapkan. Dan itu tidak ada lagi.”

Trump tidak mengungkapkan rincian lebih lanjut mengenai serangan tersebut.

Meski kerap menampilkan diri sebagai “presiden perdamaian” yang, menurut klaimnya, pantas mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian karena telah mengakhiri delapan perang di seluruh dunia tahun ini, serangan di Venezuela merupakan bagian dari rangkaian aksi militer pemerintahannya sejak dilantik pada Januari.

Armed Conflict Location & Event Data (ACLED), lembaga pemantau konflik nonpartisan, mengatakan bahwa AS telah melakukan atau menjadi mitra dalam 622 pemboman luar negeri menggunakan drone atau pesawat sejak 20 Januari 2025, ketika Trump mulai menjabat.

Rangkaian serangan ini kontras dengan janji Trump kepada pemilih untuk mengakhiri keterlibatan AS dalam konflik asing.

Negara mana saja yang dibom AS tahun 2025?

AS tercatat melakukan serangan militer terhadap tujuh negara sepanjang 2025.

Venezuela dan Laut Karibia

Pekan ini, AS mengonfirmasi satu serangan terhadap fasilitas dermaga di wilayah Venezuela sebagai bagian dari eskalasi kampanye pemerintahan Trump terhadap kapal-kapal yang diklaim menyelundupkan narkoba ke AS. Hingga kini, tidak ada rincian lokasi serangan yang dirilis.

Serangan itu menyusul penyitaan dua kapal tanker minyak oleh Angkatan Laut AS di lepas pantai Venezuela pada awal Desember. Langkah tersebut dipandang sebagai upaya menekan sumber pendapatan utama pemerintahan Presiden Nicolas Maduro. Washington mengklaim kapal-kapal itu merupakan bagian dari “armada bayangan” yang menyelundupkan minyak yang dikenai sanksi.

Sejak Agustus, AS meningkatkan kehadiran militernya di Laut Karibia ke tingkat terbesar dalam beberapa dekade. Langkah ini memicu kekhawatiran sejumlah pemerintah di kawasan. Pemerintahan Trump menyebutnya dibenarkan karena perdagangan narkoba ke AS merupakan keadaan darurat nasional, meski sejumlah laporan menunjukkan Venezuela bukan sumber utama narkoba yang melintasi perbatasan AS.

Pada 2 September, AS mulai menyerang perahu-perahu kecil di Karibia yang diduga terlibat perdagangan narkoba. Diperkirakan lebih dari 30 kapal telah dihantam sejak saat itu. Pemerintahan Trump menyatakan kapal-kapal tersebut dioperasikan oleh organisasi “teroris” Venezuela, termasuk kelompok Tren de Aragua dan Tentara Pembebasan Nasional Kolombia. Namun, sejauh ini tidak ada bukti yang dipublikasikan.


Militer AS melancarkan serangan terhadap kapal yang diduga milik kartel narkoba Venezuela yang sedang menuju Amerika Serikat. Tangkapan Layar Video Reuters

Human Rights Watch mengungkapkan sedikitnya 95 orang tewas dalam serangan terhadap perahu-perahu tersebut, dan menuduh Washington melakukan “pembunuhan di luar hukum”.

Kontroversi meningkat setelah terungkap bahwa serangan pertama pada 2 September melibatkan taktik “ketuk ganda”, ketika dua orang yang selamat dari serangan awal kemudian tewas dalam serangan lanjutan. Sejumlah anggota parlemen AS dari Partai Republik dan Demokrat mendesak Pentagon merilis rekaman lengkap insiden tersebut. Namun, Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan rekaman itu tidak akan dirilis.

Pemerintah Venezuela menuduh AS menggunakan isu narkoba sebagai kedok untuk mendorong perubahan pemerintahan. Trump, di sisi lain, menyebut Venezuela sebagai “negara narkoba” dan mengatakan hari-hari Maduro “sudah dihitung”.

Nigeria

Pada Hari Natal, AS melancarkan serangan pertama dari apa yang disebut Trump sebagai operasi “kuat dan mematikan” terhadap kelompok yang diklaim berafiliasi dengan ISIS di Negara Bagian Sokoto, Nigeria barat laut.

Serangan ini menyusul tekanan diplomatik selama berminggu-minggu terhadap pemerintah Nigeria, yang dituduh Trump dan sejumlah tokoh Partai Republik, termasuk Senator Ted Cruz, membiarkan terjadinya “genosida terhadap umat Kristen”. Nigeria, yang penduduknya hampir seimbang antara Muslim dan Kristen, membantah tuduhan tersebut dan menyatakan kedua komunitas sama-sama terdampak kekerasan.

Nigeria memang menghadapi kekerasan dari kelompok bersenjata yang terkait al-Qaeda dan ISIS, terutama di wilayah timur laut dan barat laut. Namun, tuduhan serangan terhadap petani Kristen terjadi di kawasan Sabuk Tengah, yang terpisah dari konflik di utara.

Meski dua isu itu berbeda, Abuja akhirnya menyetujui operasi militer AS di utara Nigeria pada 25 Desember. Komando Afrika AS menyatakan “beberapa teroris ISIS terbunuh”, sementara Kementerian Luar Negeri Nigeria menyebut operasi itu “berhasil”.

Serangan tersebut diduga menargetkan kelompok bersenjata Lakurawa, yang beroperasi di koridor hutan antara Sokoto dan Kebbi. Setidaknya satu rudal atau puing-puing menghantam kota Jabo. Militer Nigeria kemudian mengonfirmasi serangan terhadap persembunyian kelompok bersenjata di Hutan Buani, tanpa merinci jumlah korban.

Meski AS dan Nigeria memiliki sejarah panjang kerja sama keamanan, serangan Natal itu menjadi aksi militer kinetik pertama AS yang diketahui di negara Afrika Barat tersebut. Para analis menilai langkah ini juga bertujuan merespons basis pendukung Kristen Trump di dalam negeri. Trump menyatakan serangan lanjutan akan menyusul.

Somalia

AS telah lama melatih pasukan Somalia dan melakukan serangan udara terhadap kelompok bersenjata seperti al-Shabab dan ISIS-Somalia. Al-Shabab, yang berafiliasi dengan al-Qaeda, diperkirakan memiliki sekitar 7.000 pejuang dan menguasai wilayah luas di Somalia selatan-tengah. ISIS-Somalia yang lebih kecil, dengan sekitar 1.500 pejuang, aktif di wilayah Puntland.

Dalam setahun terakhir, 7.289 orang tewas akibat aktivitas kelompok bersenjata di Somalia, menurut Africa Center for Strategic Studies. Pada masa jabatan pertamanya, Trump menarik sebagian besar pasukan AS dari Somalia, tetapi pemerintahan Joe Biden mengerahkan kembali mereka pada Mei 2022.

Dalam masa jabatan kedua Trump, serangan udara AS meningkat tajam sejak Februari. Setidaknya 111 serangan tercatat sepanjang tahun ini, melampaui total serangan di era George W Bush, Barack Obama, dan Biden digabungkan, menurut pemantau konflik.

Korban sipil juga dilaporkan. Pada Desember, Drop Site News mengungkapkan sedikitnya 11 warga sipil, termasuk tujuh anak-anak, tewas dalam serangan di wilayah Lower Juba. AS tidak merilis data resmi korban sipil di Somalia.

Suriah

Pada 19 Desember, AS menyerang 70 posisi ISIS di Suriah sebagai balasan atas penembakan di Palmyra yang menewaskan dua tentara AS dan seorang penerjemah sipil. Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas penembakan tersebut, tetapi Trump menyalahkan ISIS.

Operasi balasan, yang diberi nama sandi Hawkeye, merusak sejumlah fasilitas penyimpanan senjata ISIS di berbagai lokasi. Trump menyebut serangan itu sebagai pembalasan “sangat serius”, sementara Hegseth menyebutnya sebagai “deklarasi balas dendam”.

Pasukan AS telah lama ditempatkan di Suriah untuk menargetkan ISIS. Hingga Desember 2024, sekitar 900 tentara AS berada di negara itu, sebelum jumlahnya sementara dilipatgandakan. Kurang dari 1.000 tentara dilaporkan masih berada di Suriah pada April.

Iran

Di tengah konflik singkat antara Iran dan Israel pertengahan tahun 2025, AS menyerang tiga situs nuklir utama Iran—Natanz, Isfahan, dan Fordow—pada 22 Juni. Trump mengatakan serangan itu bertujuan membatasi “ancaman nuklir” Teheran.

Iran mengonfirmasi kerusakan besar di beberapa fasilitas, sementara Pentagon memperkirakan serangan tersebut menunda program nuklir Iran sekitar dua tahun. Iran kemudian menyerang pangkalan udara AS di Qatar dalam respons yang dinilai simbolis.


Sebuah citra satelit menunjukkan truk yang diposisikan di dekat pintu masuk fasilitas pengayaan bahan bakar Fordow, dekat Qom, Iran, 19 Juni 2025. | Maxar Technologies/Handout via REUTERS

Trump mengumumkan gencatan senjata Iran-Israel pada hari yang sama, mengakhiri perang 12 hari yang menewaskan lebih dari 1.100 warga Iran dan 28 warga Israel. Namun, Trump juga memperingatkan akan menyerang Iran kembali jika Teheran melanjutkan program nuklirnya.

Yaman

Sejak Januari 2024, AS menargetkan kelompok Houthi di Yaman dalam serangkaian serangan udara dan laut. Di bawah pemerintahan Trump, serangan meningkat menjadi hampir setiap hari pada Maret 2025 dalam Operasi Rough Rider.

Serangan tersebut menghancurkan pelabuhan, bandara, dan infrastruktur lainnya. Gencatan senjata akhirnya dicapai pada 6 Mei dengan mediasi Oman. AS mengklaim menewaskan sekitar 500 anggota Houthi, sementara otoritas kesehatan Yaman melaporkan 123 orang tewas, sebagian besar warga sipil.

Irak

Pada 13 Maret, AS melancarkan serangan udara di Provinsi al-Anbar, Irak, menewaskan Abdallah “Abu Khadijah” al-Rifai, tokoh senior ISIS. Serangan dilakukan bersama intelijen Irak dan dikonfirmasi melalui tes DNA.

Trump memuji operasi tersebut sebagai contoh “perdamaian melalui kekuatan”. Perdana Menteri Irak juga menyebut al-Rifai sebagai salah satu teroris paling berbahaya di kawasan.

Janji lama dan realitas baru

Trump meraih dukungan luas saat berjanji menghentikan keterlibatan AS dalam perang luar negeri. Dalam pidato pelantikannya pada Januari 2025, ia mengatakan keberhasilannya akan diukur dari “perang yang kita akhiri—dan perang yang tidak pernah kita masuki”.


Presiden Donald Trump menunjuk kepada pendukung pada akhir rapat umum kampanye di Atkinson Country Club pada 16 Januari 2024, di Atkinson, New Hampshire. | The White House

Namun, menurut Sarang Shidore dari Quincy Institute for Responsible Statecraft, upaya Trump kerap tidak disertai diplomasi berkelanjutan. Di Amerika Latin khususnya, kebijakan ini dinilai mengingatkan kembali pada pola intervensi AS abad ke-20.

“Peningkatan serangan di Amerika Latin serta operasi di Nigeria dan Somalia sebagian bersifat performatif dan dipengaruhi dinamika politik domestik,” kata Shidore.