![]() |
| Senjata gelombang mikro Hurricane-3000 China. | @jesusfroman |
China memamerkan sistem senjata gelombang mikro berdaya tinggi terbaru yang diklaim mampu melumpuhkan kawanan drone dari jarak hingga 3 kilometer. Sistem bernama Hurricane 3000 itu dikembangkan oleh perusahaan pertahanan milik negara, China North Industries Group Corporation (Norinco), dan ditempatkan sebagai alternatif berbiaya lebih rendah dibandingkan penggunaan rudal maupun senjata konvensional.
Pengungkapan kemampuan Hurricane 3000 disampaikan dalam wawancara yang dimuat situs berita Guancha berbasis di Shanghai pada Minggu (4/1/2026). Informasi tersebut muncul di tengah sorotan terhadap reputasi industri pertahanan China, menyusul laporan kegagalan sistem radar buatan Beijing yang dipasok ke Venezuela dalam memberikan peringatan dini atas serangan militer Amerika Serikat pada 3 Januari.
Dalam laporan The Independent, China secara terbuka mengecam operasi militer AS tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran nyata hukum internasional. Pada saat yang sama, Beijing menonjolkan pengembangan teknologi persenjataan baru yang diklaim telah memasuki tahap operasional.
Ahli Norinco, Yu Jianjun, menjelaskan bahwa Hurricane 3000 merupakan pengembangan lanjutan dari Hurricane 2000, sistem gelombang mikro berbasis kendaraan yang dirancang untuk mencegat drone kecil hingga jarak 2 kilometer. Berbeda dengan pendahulunya, Hurricane 3000 mengintegrasikan fungsi deteksi, pelacakan, dan penyerangan dalam satu platform bergerak.
“Lebih jauh lagi, kemampuan deteksi, pelacakan, dan tempur berkelanjutan, serta kemampuan tempur otomatis sepenuhnya, semuanya telah ditingkatkan secara signifikan,” ujar Yu.
Ia menjelaskan, sistem ini menggunakan radar untuk mendeteksi target bergerak sebelum proses pelacakan dialihkan ke sensor optoelektronik. Data tersebut kemudian digunakan untuk mengarahkan antena gelombang mikro berdaya tinggi yang memancarkan energi elektromagnetik terfokus guna melumpuhkan sistem elektronik drone.
Hurricane 3000 dipamerkan secara terbuka dalam parade militer China pada September 2025. Sistem yang dipasang di atas truk ini dirancang untuk memperluas pertahanan dari sekadar perlindungan titik jarak dekat menuju penolakan area yang lebih luas. Senjata tersebut juga disebut dapat beroperasi secara mandiri atau terhubung dengan unit laser serta artileri konvensional dalam satu jaringan pertahanan udara.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga mengembangkan senjata anti-drone berbasis gelombang mikro berkekuatan tinggi bernama Leonidas. Sistem ini dikembangkan oleh perusahaan rintisan Epirus dan secara luas dilaporkan memiliki jangkauan operasional sekitar 2 kilometer.
Yu menegaskan bahwa meskipun prinsip kerja senjata gelombang mikro dari berbagai negara relatif serupa, teknologi tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan sistem persenjataan lain.
“Rudal, artileri, senjata gelombang mikro, dan senjata laser masing-masing memiliki kekuatan dalam pertahanan terminal dan saling melengkapi,” katanya.
Menurut Yu, rudal dan artileri masih mempertahankan keunggulan utama dalam hal presisi tinggi, jangkauan jauh, dan kemampuan menghadapi berbagai jenis target. Sementara itu, pengembangan senjata gelombang mikro dinilai menghadapi tantangan teknik yang signifikan, terutama terkait stabilitas daya dan integrasi sistem.
Meski demikian, ia menyebut China berencana memperluas peran senjata gelombang mikro ke luar misi pertahanan drone. Sistem tersebut ke depan juga dapat digunakan untuk mengganggu pengintaian elektronik, jaringan informasi, serta senjata berpemandu presisi dalam skenario operasi militer yang lebih luas.

0Komentar