Bayu Risanto diabadikan IAU sebagai asteroid, menandai pengakuan global atas risetnya dalam prakiraan cuaca dan ilmu atmosfer. | Ikadriyarkara.org

Nama ilmuwan sekaligus imam Yesuit asal Indonesia, Christoforus Bayu Risanto, resmi diabadikan sebagai nama asteroid oleh Working Group for Small Body Nomenclature (WGSBN) di bawah International Astronomical Union (IAU). Penetapan tersebut tercantum dalam WGSBN Bulletin edisi 12 Januari 2026.

Asteroid itu kini memiliki nama resmi (752403) Bayurisanto = 2015 PZ114. Penamaan tersebut menjadi bentuk pengakuan internasional atas kontribusi Bayu Risanto dalam riset meteorologi dan ilmu atmosfer, khususnya terkait peningkatan akurasi prakiraan cuaca di wilayah dengan keterbatasan data observasi.

Berdasarkan buletin WGSBN, asteroid Bayurisanto berada di sabuk asteroid utama di antara orbit Mars dan Jupiter. Objek ini sebelumnya tercatat dengan penomoran sementara 2015 PZ114 sebelum memperoleh nama tetap yang disetujui oleh IAU, otoritas internasional yang mengatur nomenklatur benda langit.

Penamaan asteroid oleh IAU umumnya diberikan kepada individu yang dinilai memiliki kontribusi signifikan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, kebudayaan, atau kemanusiaan. Proses tersebut melalui seleksi dan persetujuan WGSBN, kelompok kerja khusus yang menangani penamaan planet minor dan komet.

Christoforus Bayu Risanto dikenal sebagai peneliti di bidang meteorologi numerik dan ilmu atmosfer. Fokus risetnya mencakup pengembangan metode untuk meningkatkan ketepatan prakiraan cuaca di kawasan yang minim instrumen pengamatan, dengan mengombinasikan model fisik atmosfer dan teknik data assimilation. Salah satu pendekatan yang ia kembangkan adalah pemanfaatan data kelembapan atmosfer dari GPS meteorology.

Pendekatan tersebut dinilai relevan bagi negara berkembang dan wilayah kepulauan yang memiliki keterbatasan jaringan observasi cuaca, termasuk kawasan tropis. Sejumlah kajiannya juga menyoroti pemodelan cuaca ekstrem serta convective-permitting models untuk memahami pola hujan berintensitas tinggi.

Bayu Risanto lahir pada 1981. Ia mengawali pendidikan tinggi dengan meraih gelar Sarjana Filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara pada 2007, sebelum melanjutkan studi di Amerika Serikat dan meraih gelar doktor Ilmu Atmosfer serta Penginderaan Jauh dari University of Arizona pada 2021.

Selama masa studi doktoralnya, Bayu Risanto menerima Krider Endowment Scholarship in Atmospheric Science/Physics pada 2020, yang mendukung risetnya di bidang atmosfer dan fisika cuaca. Publikasi ilmiahnya telah dikutip lebih dari 100 kali dalam berbagai jurnal internasional, dengan fokus pada prakiraan cuaca dan pemodelan atmosfer.

Sejak Juli 2024, Bayu Risanto bergabung dengan Vatican Observatory atau Specola Vaticana, salah satu lembaga riset astronomi tertua di dunia di bawah naungan Tahta Suci Vatikan. Di lembaga tersebut, ia terlibat dalam riset lintas disiplin yang menjembatani sains atmosfer, astronomi, dan pengamatan Bumi dari perspektif global.

Selain aktivitas riset, Bayu Risanto juga tercatat sebagai anggota sejumlah asosiasi ilmiah internasional. Ia bergabung dengan American Meteorological Society sejak 2014, American Geophysical Union sejak 2018, serta European Geophysical Union sejak 2023.

Dalam buletin WGSBN yang sama, nama Bayurisanto tercantum bersama sejumlah nama lain yang merujuk pada tokoh religius, ilmuwan, dan intelektual dari berbagai negara dan periode sejarah. Daftar tersebut antara lain memuat nama Faustina, Ledochowska, dan Alabiano, yang sebelumnya juga telah diabadikan sebagai planet minor.

Penamaan asteroid Bayurisanto menambah daftar ilmuwan Indonesia yang memperoleh pengakuan internasional melalui nomenklatur benda langit. Informasi tersebut juga dilaporkan oleh sejumlah media nasional, termasuk Media Indonesia dan MerahPutih, yang menyoroti kontribusi Bayu Risanto dalam pengembangan sains atmosfer serta relevansinya bagi mitigasi bencana berbasis data cuaca.