 |
Presiden Trump berbicara dengan wartawan di dalam pesawat Air Force One pada hari Minggu saat kembali ke Pangkalan Gabungan Andrews di Maryland. (Alex Brandon / AP) |
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan baru dengan Venezuela terkait pengalihan pasokan minyak mentah ke AS. Dalam kesepakatan itu, otoritas sementara Venezuela disebut bersedia menyerahkan sekitar 30 juta hingga 50 juta barel minyak, yang akan dijual dengan harga pasar dan hasilnya dikelola langsung oleh pemerintah AS.
“Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Otoritas Sementara di Venezuela akan menyerahkan antara 30 hingga 50 juta barel minyak berkualitas tinggi yang berada di bawah sanksi kepada Amerika Serikat,” tulis Trump melalui unggahan di platform media sosial Truth Social, Selasa (6/1/2026) waktu setempat.
Trump menyatakan minyak Venezuela itu akan dijual dengan harga pasar, dan seluruh hasil penjualannya akan berada di bawah kendalinya sebagai Presiden AS.
“Untuk memastikan penggunaannya benar-benar memberikan manfaat bagi rakyat Venezuela dan Amerika Serikat,” lanjut Trump dalam pernyataannya.
Trump menyatakan minyak tersebut akan diangkut menggunakan kapal penyimpanan dan langsung dibawa ke pelabuhan bongkar muat di wilayah AS. Ia menegaskan telah memerintahkan Menteri Energi Chris Wright untuk segera mengeksekusi rencana tersebut. Menurut Trump, minyak Venezuela yang diserahkan merupakan minyak berkualitas tinggi dan termasuk dalam kategori minyak yang selama ini dikenai sanksi.
Kesepakatan ini muncul di tengah perubahan signifikan situasi politik di Venezuela. Tiga hari sebelum pengumuman tersebut, pasukan AS menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro bersama istrinya dalam sebuah operasi di Caracas.
Maduro kemudian dibawa ke New York dan kini menghadapi dakwaan konspirasi perdagangan narkoba di pengadilan federal AS. Otoritas sementara Venezuela yang disebut Trump merujuk pada pemerintahan transisi yang terbentuk setelah penangkapan tersebut.
Trump menyampaikan bahwa hasil penjualan minyak akan berada di bawah kendalinya sebagai Presiden AS. Ia menyebut mekanisme ini dimaksudkan untuk memastikan dana digunakan bagi kepentingan masyarakat Venezuela dan AS.
“Saya telah meminta Menteri Energi Chris Wright untuk segera mengeksekusi rencana ini,” tulis Trump, seraya menambahkan bahwa distribusi minyak akan dilakukan secara langsung ke wilayah AS.
Dari sisi nilai ekonomi, minyak mentah Venezuela saat ini diperdagangkan di kisaran US$55 per barel. Dengan asumsi volume maksimal 50 juta barel, potensi nilai penjualan diperkirakan berada pada rentang sekitar US$1,65 miliar hingga US$2,75 miliar, bergantung pada harga pasar saat transaksi dilakukan.
Di sisi lain, kesepakatan ini berpotensi memengaruhi pasokan minyak Venezuela ke China. Selama ini, Beijing merupakan pembeli terbesar minyak Venezuela, dengan porsi mencapai sekitar 80% dari total ekspor negara tersebut.
Data yang dikutip Reuters menunjukkan ekspor minyak Venezuela sepanjang 2025 berada di bawah satu juta barel per hari. AS dinilai berpeluang mengambil alih kendali atas salah satu sumber pasokan energi penting bagi China, di tengah investasi puluhan miliar dolar yang telah digelontorkan Beijing melalui skema minyak-untuk-pinjaman.
Meski demikian, Trump menyatakan AS tetap akan mengizinkan penjualan minyak Venezuela yang legal ke China dan negara lain. Namun, kontrol AS terhadap sektor energi Venezuela dinilai dapat mengubah posisi China sebagai pembeli utama minyak negara tersebut.
Trump juga dijadwalkan bertemu dengan para eksekutif perusahaan minyak besar AS di Gedung Putih pada Jumat mendatang. The Wall Street Journal melaporkan pertemuan itu akan dihadiri perwakilan Chevron, ConocoPhillips, dan Exxon Mobil. Agenda pembahasan mencakup peluang investasi untuk menghidupkan kembali produksi minyak Venezuela yang selama bertahun-tahun mengalami penurunan.
Saat ini, Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak AS yang masih beroperasi di Venezuela. Adapun aset ConocoPhillips dan Exxon Mobil sebelumnya dinasionalisasi oleh pemerintah Venezuela di bawah Presiden Hugo Chávez pada pertengahan 2000-an. Trump menyebut perusahaan-perusahaan minyak AS berpotensi menggelontorkan investasi miliaran dolar AS untuk merehabilitasi infrastruktur dan kapasitas produksi minyak Venezuela yang telah menua.
0Komentar