![]() | |
|
Pemerintahan Presiden Donald Trump mempercepat langkah untuk mendorong gencatan senjata Gaza memasuki fase kedua pada awal Januari, di tengah perbedaan pandangan yang belum tuntas terkait pelucutan senjata Hamas dan penarikan lanjutan militer Israel. Dorongan ini mengemuka setelah rangkaian pertemuan diplomatik Amerika Serikat dengan para mediator regional.
Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, pada Sabtu menyatakan bahwa fase pertama gencatan senjata telah menunjukkan sejumlah hasil konkret. Ia menyebut peningkatan aliran bantuan kemanusiaan, pemulangan jenazah sandera, penarikan sebagian pasukan Israel, serta penurunan intensitas pertempuran.
Pernyataan itu disampaikan seusai pertemuan dengan pejabat Mesir, Qatar, dan Turki di Miami, sebagaimana dilaporkan media Israel dan sejumlah outlet internasional.
Dalam forum tersebut, Witkoff menyampaikan kepada para mediator bahwa Washington menargetkan fase kedua dimulai pada awal Januari. Target ini menandai percepatan dari jadwal yang sebelumnya diperkirakan lebih longgar dan langsung menarik perhatian di internal pemerintahan Israel.
Sejumlah pejabat Israel, menurut laporan media setempat, menyatakan kekhawatiran bahwa Trump akan mendorong transisi ke fase berikutnya sebelum Hamas sepenuhnya melucuti senjata.
Bagi Israel, pelucutan senjata dipandang sebagai prasyarat utama sebelum penarikan militer skala besar dan pengaturan keamanan baru di Gaza.
Dalam konteks itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Trump pada 29 Desember di resor Mar-a-Lago, Florida. Pertemuan ini disebut akan membahas arah lanjutan gencatan senjata, termasuk syarat keamanan dan peran aktor internasional pada fase kedua.
Fase kedua gencatan senjata mencakup sejumlah agenda besar, mulai dari penyerahan senjata oleh Hamas, penarikan pasukan Israel lebih jauh dari Gaza, hingga pembentukan Pasukan Stabilisasi Internasional. Selain itu, terdapat rencana pembentukan badan pemerintahan Palestina teknokratis di bawah struktur Board of Peace yang digagas Trump.
Namun, isu pelucutan senjata tetap menjadi hambatan utama. Senator AS Lindsey Graham, yang berbicara di Tel Aviv pada Minggu (21/12/2025), menekankan perlunya tenggat waktu yang jelas bagi Hamas. Ia menyatakan bahwa tanpa pelucutan senjata, tidak akan ada pasukan internasional yang bersedia dikerahkan ke Gaza untuk menjalankan misi stabilisasi.
“Tidak ada pasukan penstabil internasional yang akan datang ke sini dan bertempur sampai Hamas dilucuti,” kata Graham, seperti dikutip The Times of Israel pada Kamis (25/12/2025), seraya mendorong AS menetapkan batas waktu tegas atau membuka kembali ruang operasi militer Israel.
Di sisi lain, Hamas sejauh ini belum menyatakan kesediaan untuk melucuti senjata sepenuhnya. Sejumlah pejabat Hamas kepada media internasional menyebut kelompok itu hanya bersedia membahas opsi “pembekuan” atau penyimpanan senjata, bukan penyerahan total, seperti dilaporkan Al Jazeera.
Persoalan lain muncul terkait komposisi Pasukan Stabilisasi Internasional. Turki menyatakan kesiapan mengerahkan pasukan dan mengambil peran utama dalam misi tersebut. Namun, Israel menolak keterlibatan Ankara karena khawatir Turki justru melindungi Hamas, bukan mendorong pelucutan senjata.
Menurut laporan NPR, Selain Turki, beberapa negara lain seperti Indonesia, Azerbaijan, dan Mesir juga menyampaikan kesiapan untuk berkontribusi pasukan. Pembahasan mengenai struktur, mandat, dan kepemimpinan pasukan ini masih berlangsung dalam forum-forum diplomatik yang dipimpin AS.
Gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober sejauh ini relatif bertahan, meski pelanggaran tetap terjadi. Militer Israel mencatat puluhan pelanggaran oleh militan Palestina hingga pertengahan Desember, sementara otoritas Palestina melaporkan ratusan warga Palestina tewas akibat tindakan militer Israel sejak gencatan senjata dimulai.
Sementara itu, fase pertama gencatan senjata belum sepenuhnya rampung. Salah satu syarat terakhir adalah pengembalian jenazah Ran Gvili, polisi Israel berusia 24 tahun yang tewas saat mempertahankan sebuah kibbutz pada 7 Oktober 2023. Hamas mengaku masih melakukan pencarian dan belum mengembalikan jenazah tersebut, kondisi yang turut menahan peralihan resmi ke fase kedua.

0Komentar