HTMS Chang (LPD-792) adalah sebuah kapal landing platform dock (LPD) Tipe 071E milik Angkatan Laut Kerajaan Thailand. | Oppufc/Wikimedia Commons/CC BY-SA 1.0

Dewan Keamanan Nasional Thailand menyetujui langkah penegakan maritim untuk mencegah bahan bakar dan pasokan militer mencapai Kamboja melalui jalur laut. Keputusan itu diambil pada Selasa (14/12), saat bentrokan perbatasan antara Thailand dan Kamboja memasuki pekan kedua tanpa tanda mereda. Kebijakan tersebut dijalankan di perairan dekat pelabuhan-pelabuhan Kamboja yang ditetapkan sebagai zona berisiko tinggi.

Langkah ini melibatkan Thailand Maritime Enforcement Command Center yang akan mengoordinasikan inspeksi terhadap kapal berbendera Thailand. Fokus pemeriksaan diarahkan pada tujuan kargo dan jenis pengiriman yang berpotensi mendukung operasi militer Kamboja. 

Otoritas Thailand menegaskan kebijakan itu dimaksudkan untuk mengganggu rantai pasokan, tanpa menerapkan blokade penuh terhadap pengiriman internasional.

Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Thailand, Chatchai Bangchuad, menjelaskan bahwa penegakan dilakukan secara selektif. Menurutnya, aparat akan menilai muatan kapal berdasarkan tujuan akhir dan potensi penggunaannya dalam aktivitas militer.

Di sisi lain, pembatasan juga diberlakukan di jalur darat. Militer Thailand pada Senin (13/12) menghentikan seluruh pengiriman bahan bakar melalui pos pemeriksaan Chong Mek yang berbatasan dengan Laos. Keputusan itu diambil setelah otoritas keamanan menerima intelijen bahwa pasokan bahan bakar dialihkan untuk mendukung pasukan Kamboja.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Laksamana Muda Surasant Kongsiri, mengatakan pembatasan tersebut dilakukan demi kepentingan keamanan nasional. Ia menekankan bahwa kebijakan ini tidak ditujukan untuk merugikan Laos. 

“Niat kami bukan untuk menyebabkan dampak pada rakyat atau pemerintah Laos,” ujarnya.

Akibat penangguhan itu, lebih dari 100 truk pengangkut bahan bakar dilaporkan tertahan di pos pemeriksaan. Kementerian Energi Thailand mengonfirmasi tidak ada ekspor minyak dari Thailand ke Kamboja sejak Juli. 

Secara keseluruhan, pengiriman bahan bakar Thailand ke Kamboja tahun ini tercatat sekitar 30.000 ton, turun tajam dibanding hampir 180.000 ton pada tahun sebelumnya, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Pembatasan logistik ini berlangsung di tengah konflik bersenjata yang kembali pecah sejak 7 Desember. Otoritas nasional menyebut sedikitnya 38 orang dari kedua pihak tewas dalam delapan hari terakhir, sementara lebih dari 500.000 warga terpaksa mengungsi dari wilayah terdampak.

Kamboja menuduh Thailand mengerahkan jet tempur F-16 untuk melancarkan serangan udara di Provinsi Siem Reap, wilayah yang juga menjadi lokasi kompleks candi kuno Angkor Wat. Tuduhan tersebut muncul seiring intensitas pertempuran yang masih berlanjut di sejumlah titik perbatasan.

Upaya diplomatik kawasan belum membuahkan hasil. Pertemuan khusus menteri luar negeri Asia Tenggara yang semula dijadwalkan Selasa ditunda hingga 22 Desember atas permintaan Thailand. 

Penundaan itu terjadi tak lama setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim kedua negara telah menyepakati gencatan senjata, pernyataan yang segera dibantah oleh pejabat Thailand dan Kamboja karena baku tembak masih berlangsung, menurut laporan CNN.

Thailand menyatakan tidak akan menyetujui gencatan senjata sebelum Kamboja mengumumkannya lebih dulu dan menunjukkan penarikan pasukan dari wilayah sengketa.