Model konsep pesawat tempur generasi baru dipamerkan oleh Dassault Aviation dan Airbus dalam sebuah paneran dirgantara paris 18 Juni 2023. | Julien de Rosa/AFP

Program Future Combat Air System (FCAS) yang digagas Prancis, Jerman, dan Spanyol kini menghadapi ketidakpastian serius. Proyek pesawat tempur generasi keenam senilai sekitar €100 miliar itu kembali tersendat setelah perbedaan pandangan antarmitra tak kunjung terurai, terutama terkait kepemimpinan industri dan kebutuhan militer nasional.

Situasi ini mencuat ke ruang publik pada pertengahan Desember, ketika CEO Dassault Aviation, Eric Trappier, secara terbuka mempertanyakan apakah FCAS akan benar-benar terwujud. 

Pernyataan tersebut muncul setelah pertemuan menteri pertahanan ketiga negara di Berlin pada 11 Desember gagal menghasilkan kesepakatan konkret.

FCAS diluncurkan pada 2017 sebagai simbol ambisi European strategic autonomy. Program ini dirancang untuk menggantikan Rafale milik Prancis dan Eurofighter Typhoon yang dioperasikan Jerman serta Spanyol mulai sekitar 2040. 

Tidak hanya sebuah pesawat tempur, FCAS dibayangkan sebagai system of systems yang mengintegrasikan pesawat berawak generasi baru, drone pendamping, serta combat cloud berbasis data dan kecerdasan buatan.

Sejak awal, Uni Eropa melihat FCAS sebagai pilar penting dalam upaya memperkuat basis industri dan teknologi pertahanan Eropa. Program ini terkait dengan European Defence Fund dan agenda kerja sama multinasional melalui PESCO. 

Namun, perjalanan proyek tersebut sejak beberapa tahun terakhir berjalan lambat, terutama akibat perdebatan internal di antara para mitra industri.

Inti kebuntuan FCAS terletak pada persaingan antara Dassault Aviation dari Prancis dan Airbus Defence and Space yang berbasis di Jerman dan Spanyol. Keduanya berselisih soal siapa yang memimpin desain New Generation Fighter, elemen utama dalam FCAS.

Dassault menilai kepemimpinan teknis perlu diberikan secara jelas, dengan merujuk pada pengalamannya mengembangkan dan memproduksi Rafale. 

Airbus, di sisi lain, menekankan pembagian kerja yang lebih seimbang dan menuding mitranya mencoba keluar dari kerangka tata kelola yang telah disepakati sebelumnya.

Perbedaan ini tidak hanya menyangkut struktur organisasi, tetapi juga hak kekayaan intelektual dan pembagian peran jangka panjang. Hingga kini, kesepakatan soal hal-hal mendasar tersebut belum tercapai, meskipun kontrak Fase 1B telah ditandatangani pada Desember 2022.

Di luar persoalan industri, FCAS juga dibebani perbedaan kebutuhan operasional ketiga negara. Prancis membutuhkan pesawat yang mampu beroperasi dari kapal induk dan kompatibel dengan misi nuklir nasionalnya. Kebutuhan ini berkaitan langsung dengan doktrin pertahanan dan force de frappe Prancis.

Jerman, sebaliknya, tidak memiliki kapal induk dan telah memutuskan membeli F-35 buatan Amerika Serikat untuk menjalankan peran nuclear sharing NATO. 

Keputusan tersebut memperkuat interoperabilitas dengan Amerika Serikat, namun pada saat yang sama mengurangi urgensi Berlin terhadap pengembangan pesawat tempur Eropa yang sepenuhnya mandiri.

Spanyol berada di posisi yang lebih pasif. Meski tetap mendukung FCAS, Madrid sejauh ini belum memainkan peran penentu dalam meredakan perbedaan antara Paris dan Berlin.

Kebuntuan FCAS berpotensi membawa konsekuensi luas. Bagi Jerman dan Spanyol, kegagalan program ini dapat memperdalam ketergantungan pada platform non-Eropa, terutama dari Amerika Serikat. 

Hal tersebut juga berarti berkurangnya pengaruh mereka dalam menentukan arah pengembangan kekuatan udara Eropa di masa depan.

Bagi Prancis, situasinya lebih kompleks. Paris masih memiliki kemampuan untuk melanjutkan pengembangan Rafale secara nasional. Namun, langkah itu akan menjauhkan Prancis dari ambisi membangun arsitektur pertahanan udara Eropa yang terintegrasi.

Di tingkat Eropa, FCAS yang tersendat memperkuat fragmentasi pasar pertahanan. Alih-alih konsolidasi, negara-negara Eropa kembali menempuh jalur pengadaan masing-masing, dengan implikasi biaya dan interoperabilitas jangka panjang.

Di sisi lain, program pesaing seperti Global Combat Air Programme (GCAP) yang melibatkan Inggris, Italia, dan Jepang menunjukkan kemajuan lebih stabil. GCAP menargetkan kesiapan operasional pada pertengahan 2030-an dan telah menetapkan struktur kepemimpinan yang relatif jelas.

Sejumlah pejabat pertahanan Eropa menyebutkan bahwa negara-negara di luar GCAP mulai mencermati program tersebut. Meski belum ada keputusan resmi, perkembangan ini menambah tekanan politik terhadap FCAS yang sejauh ini belum keluar dari kebuntuan.

Para pejabat pemerintah Prancis dan Jerman masih menyatakan komitmen politik terhadap FCAS, sembari mengakui adanya perbedaan mendasar yang perlu diselesaikan. 

Hingga akhir 2025, belum ada keputusan baru terkait kelanjutan Fase berikutnya, dan sejumlah pilihan strategis ditunda ke 2026.

Lembaga kajian pertahanan di Eropa menilai FCAS masih memiliki nilai strategis sebagai proyek bersama, tetapi menekankan pentingnya penyesuaian tata kelola dan kejelasan kepemimpinan. Tanpa itu, proyek ini dinilai sulit bergerak sesuai jadwal awal.

FCAS kini berada pada tahap krusial. Program ini mencerminkan ambisi besar Eropa untuk mandiri di bidang pertahanan, sekaligus memperlihatkan kompleksitas kerja sama multinasional yang sarat kepentingan industri dan doktrin militer berbeda. 

Sejauh ini, masa depan FCAS masih ditentukan oleh kemampuan para mitra untuk menjembatani perbedaan yang telah lama mengemuka.