![]() |
| Ilustrasi chip China. | Apluswire/Robin Santoso |
China tengah menyiapkan paket dukungan negara berskala besar untuk industri semikonduktor yang nilainya diperkirakan mencapai sekitar US$70 miliar atau sekitar Rp1.169 triliun. Langkah ini muncul di tengah pembatasan akses terhadap teknologi chip canggih dari Amerika Serikat dan sekutunya, yang dalam beberapa tahun terakhir semakin menekan kemampuan industri teknologi China.
Rencana tersebut, yang masih dibahas di tingkat pejabat tinggi Beijing, diposisikan sebagai bagian dari strategi jangka menengah untuk memperkuat kemandirian teknologi, khususnya di sektor semikonduktor yang kini dipandang sebagai fondasi utama ekonomi digital dan pengembangan kecerdasan buatan.
Sejak 2018, hubungan teknologi antara China dan Amerika Serikat terus memburuk. Washington memberlakukan serangkaian kontrol ekspor yang membatasi penjualan chip canggih Nvidia, peralatan manufaktur semikonduktor, serta teknologi litografi mutakhir ke China. Kebijakan ini diperluas pada 2022 dan 2023, dengan dukungan dari negara-negara seperti Belanda dan Jepang.
Pembatasan tersebut berdampak langsung pada kemampuan perusahaan China untuk memproduksi chip dengan proses paling maju.
Dalam keterangannya, otoritas AS menyebut kebijakan ini bertujuan mencegah pemanfaatan teknologi canggih untuk kepentingan militer dan keamanan nasional China.
Di sisi lain, Beijing menilai langkah tersebut sebagai upaya menahan perkembangan industrinya. Karena itu, pemerintah China sejak beberapa tahun terakhir mengalihkan fokus dari integrasi global menuju penguatan kapasitas domestik.
Skala dan bentuk dukungan negara
Mengutip laporan South China Morning Post, paket baru ini diperkirakan bernilai antara 200 hingga 500 miliar yuan, atau setara US$28–71 miliar, yang akan digelontorkan dalam beberapa tahun ke depan. Jika direalisasikan penuh, nilainya mendekati bahkan berpotensi melampaui alokasi langsung pemerintah AS dalam CHIPS and Science Act.
Namun, struktur kebijakan China berbeda. Dukungan tersebut tidak hanya berbentuk subsidi tunai, tetapi juga mencakup pinjaman berbunga rendah dari bank milik negara, penyertaan modal, keringanan pajak, serta insentif nonfiskal lainnya.
Skema ini dirancang sebagai tambahan dari National Integrated Circuit Industry Investment Fund, atau yang dikenal sebagai Big Fund, yang sudah berjalan sejak pertengahan 2010-an.
Pemerintah pusat, bank pembangunan negara, serta otoritas daerah diperkirakan akan terlibat dalam pendanaan dan implementasi kebijakan ini.
Membangun ekosistem, bukan sekadar pabrik
Berbeda dari pendekatan yang hanya berfokus pada pembangunan pabrik wafer, kebijakan terbaru China menargetkan seluruh rantai nilai semikonduktor. Dukungan diarahkan ke desain chip (fabless), manufaktur (foundry), pengembangan akselerator AI, hingga industri pendukung seperti material dan peralatan produksi.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penggunaan chip buatan dalam negeri oleh lembaga pemerintah, badan usaha milik negara, dan proyek infrastruktur digital yang menerima subsidi. Dalam beberapa kebijakan daerah, pusat data yang menggunakan akselerator AI domestik dilaporkan memperoleh insentif tambahan, termasuk potongan tarif listrik.
Pendekatan ini sering disebut sebagai sistem whole nation, ketika kebijakan fiskal, regulasi, dan permintaan pasar dikoordinasikan untuk tujuan strategis yang sama.
Dampak awal di pasar domestik
Rencana subsidi tersebut mulai tercermin di pasar modal China. Saham sejumlah perusahaan teknologi semikonduktor domestik mengalami kenaikan signifikan, didorong oleh ekspektasi peningkatan permintaan dan dukungan kebijakan.
Perusahaan pengembang GPU dan akselerator AI seperti Moore Threads dan Biren Technology termasuk yang sering disebut sebagai kandidat penerima manfaat. Di sisi manufaktur, SMIC sebagai foundry terbesar di China diperkirakan tetap menjadi salah satu fokus utama, mengingat perannya dalam produksi chip logika untuk pasar domestik.
Meski demikian, hingga kini pemerintah China belum mengumumkan daftar resmi perusahaan penerima atau rincian alokasi dana per sektor.
Kapasitas teknologi saat ini
Di tengah skala pendanaan yang besar, tantangan teknologi tetap menjadi isu utama. China masih tertinggal beberapa generasi dalam teknologi proses manufaktur paling canggih.
Saat ini, perusahaan seperti TSMC dan Samsung telah memproduksi chip dengan node 3 nanometer dan bersiap menuju 2 nanometer, sementara kemampuan China sebagian besar masih berada di kisaran 14 hingga 7 nanometer.
Keterbatasan ini berkaitan erat dengan larangan ekspor mesin litografi extreme ultraviolet (EUV) buatan ASML, yang menjadi kunci produksi chip paling mutakhir. Tanpa akses tersebut, produsen China harus mengandalkan peralatan deep ultraviolet (DUV) yang dimodifikasi, dengan kompleksitas dan biaya yang lebih tinggi.
Sejumlah analis menyebut bahwa meski teknologi ini cukup untuk banyak aplikasi industri dan militer, kesenjangan dengan pemain global terdepan masih sulit ditutup dalam waktu singkat.
Bagi Beijing, semikonduktor kini tidak lagi dipandang sebagai sektor industri biasa. Dalam berbagai dokumen kebijakan, chip disebut sebagai infrastruktur strategis yang menentukan daya saing ekonomi, ketahanan digital, dan keamanan nasional.
Pembatasan akses terhadap GPU kelas atas dan alat manufaktur dinilai menciptakan titik tekan (choke point) yang dapat digunakan dalam dinamika geopolitik. Karena itu, investasi besar-besaran diposisikan sebagai upaya mengurangi kerentanan struktural, bukan semata perhitungan efisiensi ekonomi.
Di sisi lain, kebijakan ini turut mempercepat fragmentasi ekosistem teknologi global. Semakin banyak sistem AI dan pusat data di China yang dibangun di atas tumpukan perangkat keras dan perangkat lunak domestik, terpisah dari standar Barat.
Status kebijakan hingga saat ini
Hingga pertengahan Desember 2025, paket subsidi tersebut masih berada pada tahap pembahasan internal. Pejabat Beijing belum mengumumkan jadwal final, besaran pasti, maupun mekanisme distribusinya. Namun, sejumlah sumber menyebutkan bahwa kebijakan ini akan diluncurkan secara bertahap dan disesuaikan dengan prioritas strategis pemerintah pusat.
Yang jelas, langkah ini menandai kelanjutan dari kebijakan industri China yang semakin menempatkan semikonduktor sebagai sektor kunci.

0Komentar