Hampir lima jam perundingan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan utusan Amerika Serikat pada Rabu (3/12) dini hari di Moskwa berakhir tanpa terobosan, berdasarkan laporan dari Kremlin.
Pertemuan yang mempertemukan Putin dengan Steve Witkoff dan Jared Kushner itu kembali menyoroti perbedaan tajam terkait masa depan keamanan Ukraina, terutama soal kemungkinan keanggotaan negara tersebut di NATO yang disebut sebagai hambatan utama menuju penyelesaian konflik.
Perkembangan ini berawal dari upaya diplomasi tingkat tinggi yang digelar setelah Washington mengirim utusan khusus sebagai bagian dari langkah pemerintahan Donald Trump untuk menyiapkan peta jalan penyelesaian perang.
Menurut dokumen yang beredar pada November yang dikutip dari Reuters, rencana 28 poin yang diusulkan Trump secara jelas menyebut Ukraina tidak akan diterima di NATO. Situasi tersebut terjadi akibat kebuntuan panjang terkait jaminan keamanan yang diminta Kyiv sejak invasi Rusia pada 2022.
Dalam konteks tersebut, Moskwa menilai aspirasi Ukraina bergabung dengan aliansi itu sebagai ancaman langsung, sementara Kyiv memandang jalur NATO sebagai perlindungan esensial.
Menurut catatan Kremlin, delegasi AS disebut siap mempertimbangkan proposal utama Rusia, meski belum ada komitmen konkret. Di sisi lain, laporan dari berbagai media internasional menunjukkan tidak ada kemajuan berarti terkait pengaturan keamanan atau syarat gencatan senjata.
Jika ditarik ke belakang, isu integrasi Ukraina ke NATO telah menjadi pusat ketegangan geopolitik Eropa sejak lebih dari satu dekade.
“Salah satu pertanyaan kunci yang dibahas adalah aspirasi Ukraina untuk bergabung dengan NATO,” ujar penasihat Kremlin Yuri Ushakov dilansir Al Jazeera, yang menyebut perwakilan Amerika telah menanggapi sejumlah masukan Rusia. Namun demikian, tidak ada rincian tambahan mengenai bentuk kompromi yang mungkin dipertimbangkan Washington.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyatakan pada hari yang sama bahwa belum ada konsensus di antara 32 negara anggota mengenai keanggotaan Ukraina, meski ia menegaskan pintu tetap terbuka. Pengakuan itu mengacu pada perdebatan internal, terutama keberatan dari AS di bawah Trump serta sikap Hongaria dan Slovakia yang menentang.
Selain isu NATO, pembahasan juga mencakup status wilayah. Ushakov menegaskan tidak ada kompromi yang tercapai mengenai wilayah Ukraina yang saat ini dikuasai Rusia sekitar 19% termasuk Krimea, Donetsk, Luhansk, Kherson, dan Zaporizhzhia.
Pemerintah Ukraina menolak menyerahkan wilayah, berdasarkan catatan yang disampaikan pejabat Kyiv pada beberapa kesempatan. Di sisi lain, sejumlah menteri luar negeri Eropa menilai Putin belum menunjukkan minat nyata untuk mengarah pada gencatan senjata.
“Cukup jelas bahwa dia tidak menginginkan perdamaian dalam bentuk apa pun,” kata Menteri Luar Negeri Estonia Margus Tsahkna pada pertemuan NATO di Brussels. Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha ikut mendesak Rusia untuk “tidak menyia-nyiakan waktu dunia”.
Kendati begitu, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Rusia tidak menolak usulan AS dan menggambarkan dinamika tersebut sebagai proses negosiasi biasa di mana sejumlah poin diterima dan lainnya tidak dapat disetujui.
Mengacu pada laporan resmi, kedua pihak menyebut pertemuan itu bermanfaat dan sepakat melanjutkan diskusi pada tingkat ahli. Dengan demikian, pembahasan lanjutan masih terbuka seiring upaya diplomatik yang terus bergerak.

0Komentar