Peluncuran roket Falcon 9 milik SpaceX yang membawa tiga satelit pada 24 September 2025. | NASA

NASA bersama Lawrence Livermore National Laboratory (LLNL) bersiap meluncurkan Misi Pandora pada awal Januari 2026. Satelit berukuran kecil ini dirancang untuk meneliti atmosfer planet di luar tata surya dengan fokus pada pencarian uap air dan penanda kimia yang berkaitan dengan potensi kelayakhunian.

Peluncuran Pandora dijadwalkan berlangsung pada 5 Januari 2026 dari Pangkalan Angkatan Luar Angkasa Vandenberg, California, menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX. Wahana ini telah rampung dibuat sejak Januari 2025 dan didanai melalui program Astrophysics Pioneers NASA, yang mendorong misi ilmiah berskala kecil dengan anggaran terbatas.

Misi senilai sekitar US$20 juta ini akan mengamati sedikitnya 20 exoplanet target selama satu tahun operasi. Setiap planet direncanakan dipantau hingga 10 kali melalui sesi pengamatan selama 24 jam saat transit, yakni ketika planet melintas di depan bintang induknya. Pendekatan tersebut ditujukan untuk mengatasi tantangan utama riset exoplanet, yakni memisahkan sinyal cahaya planet dari variasi cahaya bintang.

Di inti misi ini terdapat teleskop berdiameter 45 sentimeter bernama CODA, yang seluruh strukturnya terbuat dari aluminium. Teleskop ini dikembangkan bersama oleh LLNL dan Corning Specialty Materials. Berbeda dari teleskop reflektif berbahan kaca, desain aluminium dipilih karena dinilai lebih efisien dari sisi biaya dan waktu produksi.

CODA mampu menangkap cahaya tampak dan inframerah-dekat secara bersamaan. Kemampuan ini memungkinkan peneliti membedakan fitur permukaan bintang, seperti bintik bintang, dari sinyal atmosfer planet, sehingga meningkatkan akurasi analisis atmosfer.

“Kami melihat keberadaan air sebagai aspek kritis dari kelayakhunian karena air sangat penting bagi kehidupan seperti yang kita ketahui,” ujar Ben Hord, Fellow Program Postdoctoral NASA di Goddard Space Flight Center, dilansir dari space.com. 

Ia menjelaskan bahwa variasi cahaya dari bintang kerap menutupi atau meniru sinyal air di atmosfer planet, dan di sinilah peran Pandora menjadi relevan.

Berbeda dari misi unggulan seperti James Webb Space Telescope (JWST) yang memiliki keterbatasan waktu pengamatan akibat tingginya permintaan, Pandora dirancang untuk melakukan pemantauan jangka panjang dan berulang. Data yang dihasilkan diharapkan melengkapi, bukan menggantikan, hasil observasi JWST, terutama dalam konteks karakterisasi atmosfer exoplanet.

Peluncuran Pandora berlangsung di tengah meningkatnya minat global terhadap pencarian kehidupan di luar Bumi. Pada 2025, tim astronom yang memanfaatkan JWST melaporkan indikasi molekul dimetil sulfida di atmosfer exoplanet K2-18b, senyawa yang di Bumi umumnya dihasilkan oleh organisme hidup. Temuan tersebut masih memerlukan verifikasi lanjutan, namun mendorong perhatian pada teknik analisis atmosfer yang lebih presisi.

Setelah diluncurkan, Pandora akan beroperasi di orbit sinkron Matahari. Pusat operasi misi berbasis di University of Arizona, sementara bus wahana antariksa disediakan oleh Blue Canyon Technologies, yang juga menangani perakitan akhir dan pengujian lingkungan di Lafayette, Colorado. Pada peluncuran yang sama, Falcon 9 juga membawa muatan rideshare dari Spire Global dan Kepler Communications.

Peneliti utama Pandora, Elisa Quintana, sebelumnya menyatakan pada Desember bahwa misi ini telah melewati sejumlah tonggak penting dan tetap berada di jalur menuju peluncuran sesuai jadwal. Informasi mengenai kesiapan misi dan desain instrumen Pandora telah disampaikan melalui publikasi NASA Science, LLNL, serta laporan media sains seperti Astrobiology dan Space.com.