![]() |
| Friedrich Merz, seorang politisi Jerman terkemuka. Ia adalah pemimpin partai Uni Demokrat Kristen (CDU) dan saat ini menjabat sebagai Kanselir Jerman. | Michael Lucan/Wikimedia Commons |
Kanselir Jerman Friedrich Merz menyampaikan peringatan keras terhadap Rusia pada Sabtu, 13 Desember 2025, dengan membandingkan ambisi teritorial Presiden Vladimir Putin dengan tuntutan Adolf Hitler menjelang Perjanjian Munich 1938.
Pernyataan itu disampaikan Merz saat berbicara di konferensi partai Christian Social Union (CSU) di Munich, di tengah berlanjutnya perundingan damai berisiko tinggi terkait perang Ukraina yang digelar di Berlin akhir pekan ini.
Merz menegaskan bahwa perang Rusia di Ukraina tidak semata konflik bilateral, melainkan ancaman langsung terhadap keamanan Eropa.
Ia memperingatkan bahwa pemberian konsesi teritorial kepada Moskwa tidak akan menghentikan agresi Rusia, seraya merujuk pada kegagalan Perjanjian Munich yang kala itu memberi Jerman Nazi izin mencaplok Sudetenland Cekoslowakia.
“Ini adalah perang agresi Rusia melawan Ukraina—dan melawan Eropa. Jika Ukraina jatuh, perang tidak akan berhenti. Pada 1938, Sudetenland tidak cukup. Putin juga tidak akan berhenti,” ujar Merz di hadapan delegasi CSU, seperti dikutip sejumlah media Eropa.
Pernyataan tersebut muncul saat diplomat Amerika Serikat, Ukraina, dan sejumlah negara Eropa melanjutkan pembicaraan damai di Berlin. Fokus utama perundingan adalah usulan gencatan senjata, isu konsesi teritorial, serta jaminan keamanan jangka panjang bagi Kyiv.
Dalam konteks yang lebih luas, Merz menuduh Putin berupaya memulihkan Uni Soviet dalam batas-batas lamanya. Menurutnya, ambisi itu berisiko besar bagi negara-negara bekas Soviet yang kini menjadi anggota NATO dan Uni Eropa.
Anadolu Agency melaporkan, Merz menilai Kremlin berusaha “secara fundamental mengubah batas-batas di Eropa,” dengan potensi ancaman langsung terhadap keamanan kawasan.
Di sisi lain, Kremlin membantah keras tudingan tersebut. Juru bicara kepresidenan Rusia, Dmitry Peskov, menyebut pernyataan Merz sebagai “kebodohan total” dan menegaskan bahwa Putin berulang kali menyatakan pemulihan USSR adalah sesuatu yang mustahil. Bantahan serupa juga disampaikan Moskwa melalui Reuters, yang menyebut Rusia tidak berniat menyerang NATO.
Sementara itu, dinamika diplomatik terus bergerak. Berlin dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan tingkat tinggi pada Senin, 15 Desember, yang mempertemukan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dengan Merz, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Pertemuan ini menyusul dialog akhir pekan antara utusan khusus AS Steve Witkoff, Jared Kushner, serta pejabat Ukraina untuk membahas proposal perdamaian Washington.
Rencana awal AS yang terdiri dari 28 poin mencantumkan opsi penyerahan seluruh wilayah Donbas kepada Rusia, namun proposal itu ditolak Kyiv. Ukraina kemudian mengajukan tawaran tandingan berisi 20 poin yang menghapus klausul konsesi atas wilayah yang belum sepenuhnya dikuasai Rusia, sebagaimana dilaporkan CNN dan The New York Times.
Di tengah proses tersebut, Merz kembali menekankan pentingnya solidaritas Eropa. Ia menyoroti perlunya Uni Eropa memperkuat pertahanan, menjaga hubungan erat dengan Inggris Raya, serta mempertahankan aliansi NATO sebagai pilar keamanan kawasan.
Merz juga menyatakan Jerman berencana mengalokasikan bantuan senilai €11,5 miliar untuk Ukraina pada 2026, sebuah komitmen yang disebutnya krusial di tengah ketidakpastian arah perundingan damai.

0Komentar