![]() |
| Iron Beam, senjata laser buatan Israel. | Rafael Advanced Defense Systems/Wikimedia Commons |
Militer Israel resmi mengoperasikan sistem pertahanan udara berbasis laser Iron Beam setelah menerima konfigurasi operasional penuh dari Rafael Advanced Defense Systems. Pengumuman tersebut disampaikan Kementerian Pertahanan Israel pada akhir Desember 2025, menandai pertama kalinya sistem intersepsi laser daya tinggi masuk layanan reguler militer.
Sistem Iron Beam kini terintegrasi dalam jaringan pertahanan udara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan telah ditempatkan di wilayah Israel. Pemerintah Israel menyatakan sistem ini dirancang untuk menghadapi ancaman jarak dekat, seperti roket, mortir, dan unmanned aerial vehicle (UAV), terutama serangan yang diluncurkan dalam jumlah besar.
Pengoperasian penuh tersebut dilakukan setelah rangkaian uji coba dan penggunaan terbatas sejak Oktober 2024. Pada periode itu, versi awal sistem laser ini dikerahkan di perbatasan utara Israel dan dilaporkan berhasil mencegat puluhan drone yang diluncurkan Hizbullah dari Lebanon, berdasarkan keterangan IDF.
Kementerian Pertahanan Israel menjelaskan Iron Beam menggunakan laser berdaya sekitar 100 kilowatt dengan jangkauan efektif hingga 10 kilometer. Sistem ini melengkapi pertahanan berlapis Israel yang telah ada, termasuk Iron Dome, David’s Sling, dan sistem Arrow, dengan fokus pada penanganan ancaman jarak dekat berbiaya rendah.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyebut pengoperasian Iron Beam sebagai tonggak penting bagi keamanan nasional. Ia menyatakan sistem tersebut menjadi pencegat laser daya tinggi pertama di dunia yang mencapai kematangan operasional penuh dan mampu memberikan kemampuan intersepsi presisi dengan biaya relatif rendah.
Di sisi industri pertahanan, Rafael Advanced Defense Systems menyatakan pengiriman Iron Beam ke IDF menandai dimulainya fase operasional sistem pertahanan udara berbasis energi terarah. Perusahaan itu menyebut sistem laser tersebut telah melalui pengujian ekstensif dan dinilai efektif menghadapi berbagai jenis ancaman udara jarak dekat.
Pengembangan serta percepatan produksi Iron Beam dipengaruhi situasi keamanan regional dalam beberapa tahun terakhir, termasuk konflik dengan Hamas, meningkatnya ancaman drone dari Hizbullah, serta keterbatasan stok rudal pencegat konvensional. Israel mengalokasikan sekitar US$530 juta sejak 2024 untuk mempercepat produksi dan integrasi sistem ini ke dalam pertahanan udara nasional.

0Komentar