![]() |
| Roket Soyuz yang membawa wahana antariksa Meteor-M Rusia dan 18 satelit Rusia dan asing lepas landas dari landasan peluncuran di Kosmodrom Vostochny di Timur Jauh Rusia. | Roscosmos |
Layanan intelijen Barat menilai Rusia tengah mengembangkan senjata anti-satelit baru yang berpotensi melumpuhkan konstelasi internet Starlink milik Elon Musk. Sistem yang masih bersifat konseptual itu disebut dirancang untuk menyebarkan awan padat serpihan kecil di orbit rendah Bumi, langkah yang dapat mengganggu keselamatan ruang angkasa bagi seluruh negara pengguna satelit. Temuan tersebut tercantum dalam laporan intelijen rahasia yang dibagikan kepada Associated Press (AP) pada Desember 2025.
Penilaian itu disusun berdasarkan intelijen dari dua layanan negara anggota NATO yang memantau aktivitas riset militer Rusia. Senjata tersebut, yang dijuluki sebagai sistem “efek-zona”, disebut menargetkan orbit sekitar 550 kilometer, ketinggian operasional utama satelit Starlink dengan menyebarkan ratusan ribu pelet logam berdensitas tinggi. Mekanisme ini dirancang untuk menciptakan area gangguan luas, bukan menghantam satu satelit secara langsung.
Laporan tersebut menyebut pelet berukuran beberapa milimeter itu berpotensi sulit dilacak oleh sensor berbasis darat maupun luar angkasa. Kondisi ini dinilai dapat menyulitkan atribusi jika terjadi kegagalan satelit secara serentak.
Menurut penilaian intelijen yang dikutip AP, proyek tersebut masih berada dalam tahap “pengembangan aktif”, meski belum ada keterangan mengenai jadwal penyebaran maupun uji coba operasional.
Konteks pengembangan ini tak lepas dari peran Starlink dalam perang Ukraina. Sejak awal invasi Rusia, jaringan satelit komersial tersebut menjadi tulang punggung komunikasi militer dan sipil Ukraina, terutama saat infrastruktur darat rusak atau terganggu. Pejabat Barat menyebut sistem itu mendukung komunikasi komando, koordinasi medan tempur, hingga konektivitas publik.
Di sisi lain, pejabat dan tokoh militer Rusia sebelumnya telah berulang kali menyatakan bahwa satelit komersial yang membantu operasi militer Kyiv dapat dianggap sebagai target sah. Moskwa juga mengklaim telah mengoperasikan sistem pertahanan S-500 yang, menurut pernyataan resmi Rusia, memiliki kemampuan menghadapi objek di orbit rendah Bumi.
Rusia sejauh ini belum memberikan komentar langsung terkait laporan pengembangan senjata tersebut. Namun sebelumnya, Kremlin kerap menyuarakan seruan di Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk melarang penempatan senjata di orbit. Presiden Vladimir Putin juga menegaskan bahwa Rusia “tidak berniat” menempatkan senjata nuklir di luar angkasa.
Meski begitu, konsep awan serpihan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pakar keamanan ruang angkasa. Brigadir Jenderal Christopher Horner, komandan Divisi Antariksa militer Kanada, mengatakan kepada Reuters bahwa meskipun dirinya belum menerima pengarahan resmi, pendekatan semacam itu secara teknis memungkinkan. Ia mengingatkan bahwa penyebaran serpihan dalam skala besar dapat berdampak luas pada semua satelit di jalur orbit yang sama.
Sejumlah analis independen juga meragukan senjata tersebut akan digunakan secara nyata. Victoria Samson dari Secure World Foundation menilai pendekatan itu berisiko membuat orbit rendah Bumi tidak aman bagi semua pihak, termasuk Rusia dan mitranya yang juga bergantung pada satelit orbit rendah.
Penilaian serupa disampaikan Clayton Swope dari Center for Strategic and International Studies, yang menyebut konsep tersebut lebih berfungsi sebagai alat pencegah psikologis dibandingkan senjata operasional.
Para analis juga mencatat bahwa serpihan dari sistem semacam itu tidak akan tetap berada di satu ketinggian orbit. Saat meluruh ke atmosfer, fragmen dapat mengancam konstelasi satelit lain serta platform berawak seperti Stasiun Luar Angkasa Internasional dan stasiun Tiangong milik China, yang beroperasi pada ketinggian lebih rendah.

0Komentar