![]() |
| ilustrasi tempe. | pixabay.com/Bintang_Galaxy |
Kementerian Kebudayaan menggelar Festival Budaya Tempe di Jakarta, Minggu (21/12), sebagai bagian dari upaya pemerintah mendorong pengakuan tempe sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) UNESCO. Kegiatan ini berlangsung di tengah proses pengajuan resmi tempe ke UNESCO yang telah dilakukan sejak awal 2024, dengan target penetapan pada akhir 2026.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa tempe memiliki nilai budaya yang melampaui aspek kuliner. Menurut dia, praktik fermentasi tempe menyimpan pengetahuan turun-temurun yang membentuk ekosistem sosial dan ekonomi di berbagai daerah.
“Budaya tempe ini bukan sekadar bicara tentang material culture tempenya sebagai kuliner, tapi di balik itu ada tradisi pengetahuan terkait fermentasi yang melibatkan jutaan orang,” ujar Fadli dalam acara tersebut.
Festival Budaya Tempe melibatkan pelaku usaha, komunitas perajin, serta pemangku kepentingan budaya. Pemerintah menilai tempe bukan hanya produk pangan, tetapi juga bagian dari sistem pengetahuan tradisional yang hidup dan terus dipraktikkan di masyarakat.
Data Kementerian Kebudayaan mencatat terdapat sekitar 170.000 komunitas tempe di Indonesia dengan total pekerja mencapai 1,5 juta orang. Angka tersebut mencerminkan peran tempe sebagai salah satu fondasi ekonomi budaya nasional, khususnya di sektor pangan rakyat.
Selain aspek budaya dan ekonomi, pemerintah juga melihat tempe sebagai instrumen gastrodiplomasi.
Fadli menyebut tempe berpotensi diperkenalkan lebih luas di tingkat global sebagai sumber protein nabati khas Indonesia. Ia menilai inovasi dari para koki dan pelaku industri kuliner diperlukan agar tempe dapat diterima lintas budaya, baik dari sisi bentuk maupun rasa.
Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Endah Tjahjani Dwirini, mengatakan dokumen nominasi tempe saat ini masih dalam tahap kajian UNESCO. Pemerintah menargetkan pengesahan pada 2026, yang jika tercapai akan menambah daftar WBTB Indonesia yang telah diakui dunia.
Di sisi lain, industri tempe nasional masih menghadapi tantangan struktural, terutama ketergantungan pada kedelai impor. Kebutuhan kedelai nasional diperkirakan mencapai 2,9 juta ton per tahun, sementara serapan kedelai lokal masih di bawah 100.000 ton, menurut data industri yang dikutip sejumlah laporan media.
Fadli mengakui kondisi tersebut dan mendorong penguatan produksi kedelai dalam negeri. Pemerintah juga mendorong peningkatan kualitas produksi tempe melalui pelatihan dan lokakarya bagi perajin, terutama terkait higienitas dan penggunaan bahan organik.

0Komentar