![]() |
| bagian sayap pesawat Garuda Indonesia yang sedang terparkir di apron Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng, Indonesia. | APLUSWIRE/Larissa Meidiana |
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk memastikan pembahasan rencana merger dengan Pelita Air Service masih berlangsung dan belum memasuki tahap keputusan final dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Keterangan tersebut disampaikan Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia Thomas Sugiarto Oentoro dalam konferensi pers virtual, Kamis 27 November 2025.
Thomas menjelaskan bahwa perusahaan tengah melakukan kajian mendalam bersama para pemegang saham, termasuk Danantara dan Pertamina, untuk menilai opsi konsolidasi dua maskapai pelat merah tersebut.
“Itu adalah satu yang kita masih dalam tahap pembicaraan dengan pemegang saham yaitu Danantara dan juga dengan Pertamina,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kajian teknis dan finansial masih berjalan sehingga belum ada detail yang dapat dipublikasikan.
Pelita Air ikuti arah pemegang saham
Dari pihak Pelita Air, Pj Corporate Secretary Patria Rhamadonna menyebutkan bahwa perusahaan siap mengikuti keputusan pemegang saham terkait wacana merger. Patria mengatakan pembahasan dengan Danantara berlangsung intens dalam beberapa pekan terakhir.
“Prinsipnya, kami akan ikuti arahan dari pemegang saham. Apa pun itu, kami yakin keputusan tersebut diambil untuk kepentingan bangsa,” ucapnya dalam media briefing, Rabu 26 November 2025.
Ia menambahkan, target penyelesaian belum ditetapkan. “Sekarang sih masih intens dibicarakan. Jadi kalau untuk target sih yang pasti kalau targetnya secepatnya,” kata Patria.
Bagian dari konsolidasi BUMN
Sebelumnya, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menyampaikan bahwa proses konsolidasi Pelita Air dan Garuda Indonesia terus berjalan dan akan disampaikan kepada Danantara untuk mendapatkan penilaian serta keputusan final.
“Semua proses masih berjalan terus, proses berjalan, kita laporkan ke Danantara juga untuk bisa ada penilaian sekaligus keputusan,” ujar Simon saat ditemui di Kementerian ESDM, 10 November 2025.
Pertamina sebelumnya menyatakan bahwa rencana penggabungan Pelita Air dengan Garuda Indonesia merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk kembali fokus pada bisnis inti di sektor minyak, gas, dan energi terbarukan. Wacana ini pertama kali diungkapkan dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR pada 11 September 2025.
Dari sisi regulator investasi BUMN, Chief Operating Officer Danantara Indonesia Dony Oskaria menyebutkan bahwa merger dua maskapai tersebut selaras dengan peta jalan konsolidasi BUMN.
Ia menekankan bahwa pemerintah tidak ingin perusahaan negara di sektor yang sama tersebar terlalu banyak. Rencana ini masuk dalam 22 program kerja Danantara hingga akhir 2025, termasuk restrukturisasi empat sektor utama BUMN, salah satunya industri penerbangan.

0Komentar