Pesawat pengebom B-1B Angkatan Udara AS bersama jet tempur F-16, F-15K Korea Selatan, dan F-2 Jepang terbang dalam latihan udara trilateral di lokasi yang dirahasiakan pada 3 November 2024. | U.S. Air Force/South Korea Defense Ministry

China dan Rusia kembali menggelar patroli udara strategis di atas Laut China Timur dan Pasifik barat pada Selasa. Kegiatan yang berlangsung sekitar pukul 10.00 waktu setempat itu mendorong Korea Selatan mengerahkan jet tempur setelah sembilan pesawat militer kedua negara memasuki Korea Air Defense Identification Zone (KADIZ). Tidak ada pelanggaran wilayah udara teritorial Korea Selatan.

Menurut pernyataan Joint Chiefs of Staff (JCS) Korea Selatan, tujuh pesawat Rusia dan dua pesawat China terdeteksi memasuki KADIZ sebelum keluar sekitar satu jam kemudian. JCS menjelaskan bahwa pesawat-pesawat tersebut telah diidentifikasi sejak berada di luar zona, sehingga Angkatan Udara mengirim jet tempur sebagai langkah kesiapsiagaan. 

“Kami mengidentifikasi pesawat China dan Rusia sebelum mereka memasuki KADIZ dan mengerahkan jet tempur Angkatan Udara untuk bersiap menghadapi kemungkinan apa pun,” ujar JCS, seperti dikutip dari CBS News.

Patroli berulang Sejak 2019

Patroli gabungan semacam ini telah menjadi pola operasi rutin di sekitar Semenanjung Korea sejak 2019, umumnya berlangsung satu hingga dua kali per tahun. Pada patroli sebelumnya, November 2024, sebelas pesawat China dan Rusia juga memasuki zona pertahanan udara Korea Selatan. 

Media seperti South China Morning Post melaporkan bahwa operasi terbaru melibatkan pesawat pembom dan jet tempur, terdiri atas empat pesawat Rusia serta dua pesawat China pada segmen latihan tertentu.

Pemerintah Korea Selatan pada berbagai kesempatan menyatakan penyesalan atas manuver berulang ini dan meminta Beijing serta Moskow memberikan pemberitahuan sebelumnya untuk mencegah potensi eskalasi.

Ekspansi kerja sama militer

Di sisi lain, patroli tersebut merefleksikan penguatan koordinasi militer China dan Rusia. Kedua negara mendeklarasikan kemitraan “tanpa batas” pada 2022 dan hingga pertengahan 2025 telah menggelar lebih dari seratus latihan bersama, berdasarkan data ChinaPower Project dari Center for Strategic and International Studies.

Kementerian Pertahanan China menyebut operasi udara bersama dilakukan di bawah rencana kerja sama tahunan dan “tidak ditujukan pada pihak ketiga.” Rusia menggambarkan kegiatan ini sebagai patroli strategis rutin untuk menguji interoperabilitas kedua angkatan udara.

Dalam beberapa tahun terakhir, cakupan operasi juga meluas. Pada Juli 2024, kedua negara untuk pertama kalinya menerbangkan pesawat pembom berkemampuan nuklir dalam patroli bersama di dekat Alaska. Mereka juga menggelar latihan angkatan laut serta latihan anti-rudal di berbagai titik Pasifik sepanjang 2025.

Kementerian Pertahanan Korea Selatan sebelumnya meminta kedua negara mengambil “langkah yang tepat” agar insiden serupa tidak terulang, terutama karena aktivitas tersebut kerap berdekatan dengan zona pertahanan udara beberapa negara di kawasan.