Kapal serbu amfibi USS America berlabuh di Pelabuhan Selatan Manila, Selasa, 21 Maret 2023. | Bullit Marquez/Stars and Stripes


China melayangkan peringatan keras kepada Filipina menyusul pengembangan Pangkalan Operasi Garis Depan Mahatao di Provinsi Batanes, fasilitas yang dinilai memperkuat kehadiran militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Asia Pasifik dan berdekatan langsung dengan Taiwan. 

Beijing menilai langkah tersebut berisiko memperburuk stabilitas kawasan dan menyeret Manila ke rivalitas strategis negara besar.

Pangkalan Mahatao terletak di Pulau Batan, wilayah paling utara Filipina yang menghadap Selat Luzon. Kawasan ini berada di jalur strategis penghubung Laut China Selatan dan Samudra Pasifik, serta berdekatan dengan Taiwan bagian selatan, sehingga kerap dipandang memiliki nilai penting dalam perhitungan keamanan regional.

Dalam perkembangan terbaru, personel militer AS bersama Filipina melakukan inspeksi terhadap fasilitas tersebut pada Rabu (17/12/2025). Kegiatan ini melibatkan Atase Angkatan Udara AS Kolonel William Herbert dan Komandan Komando Luzon Utara Filipina Letnan Jenderal Aristotle Gonzales.

Militer Filipina menjelaskan inspeksi dilakukan untuk menilai kesiapan pangkalan dalam mendukung kerja sama pertahanan jangka panjang antara kedua negara. 

Dalam pernyataan resminya, militer Filipina menyebut fokus penilaian mencakup aspek teknis dan operasional pangkalan.

“Tim tersebut menilai medan operasional, kondisi infrastruktur, dan kelayakan strategis untuk mendukung kegiatan pertahanan gabungan dan interoperabilitas di masa depan,” kata militer Filipina, seperti dikutip The Associated Press.

Pangkalan Operasi Garis Depan Mahatao diresmikan pada 28 Agustus 2025. Pemerintah Filipina menyatakan fasilitas ini akan berfungsi sebagai pusat pertahanan teritorial, peningkatan kesadaran domain maritim, serta dukungan bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana. 

Kendati demikian, citra satelit menunjukkan pembangunan yang berlangsung konsisten sejak akhir 2023, termasuk helipad, dermaga kecil, dan fasilitas peluncuran perahu.

Sejumlah analis pertahanan menilai infrastruktur tersebut berpotensi memiliki fungsi militer yang lebih luas. Analisis Naval News mencatat keberadaan bangunan baru yang menyerupai depot penyimpanan dan pemeliharaan rudal, yang dinilai kemungkinan disiapkan untuk menampung rudal supersonik BrahMos buatan India yang dimiliki Filipina.

Sebelumnya, sistem rudal anti-kapal NMESIS buatan AS juga sempat ditempatkan di wilayah Batanes dalam rangka latihan bersama, meski tanpa pelaksanaan tembakan langsung.

Langkah Filipina dan AS ini menuai reaksi keras dari Beijing. Pemerintah China memperingatkan Manila agar tidak mengizinkan penempatan sistem persenjataan AS di wilayahnya. 

Beijing bahkan menyebut langkah tersebut sebagai “kehancuran yang ditimbulkan sendiri”, di tengah meningkatnya gesekan di perairan yang juga bersinggungan dengan zona ekonomi eksklusif Filipina.

Peneliti Proyek Monitor Keamanan Taiwan Universitas George Mason, Jaime Ocon, menilai penguatan kehadiran AS di wilayah utara Filipina akan memengaruhi perhitungan militer China, terutama dalam skenario darurat terkait Taiwan.

“Peningkatan kehadiran AS di Batanes, seperti pembangunan landasan pacu dan pelabuhan tambahan, benar-benar dapat mempersulit operasi darurat Taiwan bagi China,” ujarnya kepada Naval News. Ia menambahkan, “Mereka tidak ingin Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk merespons dan ingin menutup titik masuk ini.”

Sementara itu, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. sebelumnya menyatakan bahwa keterlibatan negaranya dalam situasi terkait Taiwan hampir tak terelakkan. 

Ia menyoroti faktor geografis Filipina serta keberadaan banyak pekerja Filipina di Taiwan, yang membuat Manila berada pada posisi strategis dalam perhitungan keamanan kawasan dan menjadi salah satu elemen penting dalam strategi AS di Asia Pasifik.