Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Ekonomi Jacob Helberg dan Duta Besar Jepang untuk Amerika Serikat Shigeo Yamada. | X/@UnderSecE


Amerika Serikat bersama enam negara sekutunya menandatangani deklarasi strategis baru bertajuk Pax Silica pada Jumat waktu setempat untuk membangun ekosistem rantai pasokan kecerdasan buatan (AI) dan mineral kritis yang dinilai tepercaya. 

Deklarasi ini diteken dalam pertemuan puncak perdana di Washington dan melibatkan Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Australia, Inggris Raya, Singapura, serta Israel. Inisiatif tersebut dipimpin Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Ekonomi, Jacob Helberg, di tengah meningkatnya kekhawatiran negara-negara Barat atas dominasi China dalam rantai pasok teknologi strategis.

Pertemuan itu juga dihadiri perwakilan Belanda, Uni Emirat Arab, Kanada, dan Uni Eropa. Namun, negara-negara tersebut belum bergabung sebagai penandatangan awal. 

Pemerintah AS menyebut deklarasi ini sebagai upaya terkoordinasi untuk memperkuat ketahanan rantai pasok teknologi penting yang menopang ekonomi berbasis AI, sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu negara pemasok.

Langkah ini muncul di tengah perubahan lanskap geopolitik teknologi global. Dalam beberapa tahun terakhir, China memegang posisi dominan dalam pengolahan elemen tanah jarang dan mineral kritis yang dibutuhkan untuk semikonduktor, magnjjiuet berkinerja tinggi, baterai, hingga pusat data AI. 

Data industri menunjukkan China menguasai sekitar 89 persen kapasitas pemurnian tanah jarang global dan hampir 90 persen produksi magnet tanah jarang berkinerja tinggi.

Tekanan kian terasa setelah Beijing pada Oktober lalu memperluas pembatasan ekspor terhadap 12 dari 17 elemen tanah jarang. Kebijakan tersebut menyasar penggunaan di sektor semikonduktor dan AI, termasuk aplikasi yang berpotensi terkait pertahanan. Sejumlah pemerintah Barat menilai langkah itu berisiko mengganggu pasokan global dan memperbesar kerentanan industri teknologi strategis.

Dalam konteks itulah Pax Silica dirancang sebagai kerangka kerja sama lintas sektor. Nama deklarasi ini menggabungkan kata Latin pax, yang merujuk pada stabilitas dan kemakmuran, dengan silica, bahan dasar silikon untuk chip komputer. 

Negara-negara penandatangan berkomitmen bekerja sama di sepanjang rantai pasok AI, mulai dari pengembangan perangkat lunak, desain dan manufaktur semikonduktor, pemrosesan mineral kritis, hingga manufaktur canggih, logistik, jaringan energi, dan infrastruktur data.

Departemen Luar Negeri AS menyatakan koalisi ini bertujuan melindungi material dan kapabilitas yang menjadi fondasi pengembangan AI. Selain itu, inisiatif ini juga diarahkan untuk memastikan negara-negara yang sejalan dapat mengembangkan dan menerapkan teknologi baru dalam skala besar tanpa bergantung pada praktik pasokan yang bersifat memaksa.

Helberg menjelaskan bahwa Pax Silica diposisikan sebagai wadah baru untuk membahas persaingan ekonomi AI secara lebih terstruktur. Ia menilai belum ada forum yang secara khusus mempertemukan negara-negara dengan kepentingan serupa dalam membangun ekosistem AI yang aman dan berkelanjutan. Menurutnya, kerja sama ini juga menyentuh aspek kebijakan industri yang selama ini tersebar di berbagai forum terpisah.

Deklarasi tersebut menekankan komitmen terhadap praktik pasar yang adil serta koordinasi untuk menghadapi distorsi pasar akibat kelebihan kapasitas dan praktik dumping yang tidak adil. 

Meski tidak menyebut China secara eksplisit, sejumlah pejabat yang terlibat mengakui bahwa desain kebijakan ini tidak lepas dari dinamika persaingan dengan Beijing.

Dari Asia Timur, Korea Selatan menyatakan kesiapan berkontribusi melalui kekuatan industrinya. Wakil Menteri Luar Negeri Kedua Korea Selatan, Kim Jina, yang hadir mewakili Seoul, menyampaikan bahwa pemerintahnya akan memanfaatkan keunggulan perusahaan nasional di sektor baterai, semikonduktor, dan energi. Langkah itu diharapkan dapat memperkuat stabilitas rantai pasok bersama dan memperluas kolaborasi teknologi lintas negara.

Di sisi lain, pemerintahan Presiden Donald Trump membingkai Pax Silica sebagai bagian dari pendekatan diplomasi ekonomi baru. Pemerintah AS menyebut inisiatif ini bertumpu pada investasi swasta, perusahaan bebas, dan mekanisme pasar untuk mendorong keamanan ekonomi dan teknologi. Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan upaya Washington menarik kembali investasi manufaktur strategis ke negara-negara mitra.

Saat ini, koalisi Pax Silica masih berada pada tahap awal. Pemerintah AS menyebut sejumlah negara lain berpotensi bergabung seiring dengan perluasan kerja sama dan proyek konkret di bidang AI, semikonduktor, dan mineral kritis. 

Diskusi lanjutan dijadwalkan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan untuk merumuskan mekanisme implementasi dan bentuk kolaborasi teknis antaranggota.

Langkah pembentukan Pax Silica menambah daftar inisiatif multilateral yang lahir di tengah kompetisi teknologi global. Sejumlah pengamat menilai kerja sama semacam ini akan memengaruhi arah investasi, kebijakan industri, serta arsitektur rantai pasok teknologi strategis dalam beberapa tahun ke depan, terutama di sektor yang berkaitan langsung dengan pengembangan kecerdasan buatan.