![]() |
| Aktivitas panen kelapa sawit di Cimulang, Bogor. | Harisutimbul, CC BY-SA 4.0/Wikimedia Commons |
Amerika Serikat menyetujui pembebasan tarif impor untuk sejumlah komoditas tropis asal Indonesia, termasuk minyak kelapa sawit, dalam skema Agreement on Reciprocal Tariff (ART). Namun, produk tekstil tetap dikenakan tarif resiprokal sebesar 19%. Kesepakatan ini dikonfirmasi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Jumat (26/12/2025).
Pembebasan tarif tersebut akan menjadi bagian dari ART yang dijadwalkan ditandatangani Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump pada akhir Januari 2026. Skema ini merupakan kelanjutan dari perundingan dagang resiprokal kedua negara yang telah berlangsung sejak pertengahan 2025.
Airlangga menjelaskan, fasilitas tarif nol persen diberikan khusus untuk komoditas berbasis sumber daya alam tropis. Selain minyak kelapa sawit, produk yang masuk dalam kriteria tersebut antara lain kopi, teh, dan kakao. Sementara itu, produk manufaktur seperti tekstil tidak termasuk dalam skema pembebasan tarif.
“Tekstil bukan dari alam. Jadi ya semua yang sumber daya alam berbasis tropical,” kata Airlangga. Dengan demikian, tekstil sebagai salah satu ekspor utama Indonesia ke AS tetap dikenai tarif resiprokal 19%.
Selain isu tarif, perundingan ART juga mencakup permintaan AS untuk mendapatkan akses terhadap mineral kritis Indonesia. Airlangga mengungkapkan, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) telah memulai penjajakan kerja sama dengan lembaga ekspor AS serta sejumlah perusahaan Amerika yang tertarik berinvestasi di sektor tersebut.
Mineral kritis yang menjadi perhatian AS meliputi tembaga, nikel, bauksit, dan logam tanah jarang. Menurut Airlangga, kebutuhan tersebut berkaitan dengan rantai pasok industri strategis, mulai dari otomotif, pesawat terbang, hingga sektor pertahanan dan teknologi tinggi.
“Akses itu mereka perlukan karena itu untuk otomotif, pesawat terbang, roket, pertahanan, kelautan,” ujar Airlangga.
Ia menambahkan, kerja sama di sektor mineral bukan hal baru, mengingat perusahaan AS seperti Freeport McMoRan telah beroperasi di tambang tembaga Indonesia sejak 1967, sementara Vale menggarap nikel sejak era 1970-an.
Lebih jauh, Airlangga menyebut kesepakatan ART sebenarnya ditargetkan rampung pada akhir Desember 2025. Namun, jadwal tersebut bergeser ke Januari 2026 untuk proses legal drafting. Ia mengatakan seluruh isu substansi telah disepakati setelah pertemuannya dengan Duta Besar Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer di Washington D.C. pada 22 Desember 2025.
Perjanjian ini melanjutkan kesepakatan Juli 2025 yang menurunkan tarif resiprokal Indonesia ke AS dari 32% menjadi 19%. Sebagai timbal balik, Indonesia berkomitmen membebaskan tarif bea masuk atas hampir seluruh produk asal AS yang masuk ke pasar domestik.

0Komentar