KGPAA Hamangkunegoro Sudibyo Raja Putra Narendra Mataram atau Gusti Purbaya resmi menyatakan diri sebagai SISKS Pakubuwono (PB) XIV dalam upacara adat Jumeneng Dalem Nata Binayangkare di Siti Hinggil, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sabtu (15/11).
Prosesi berlangsung sekitar pukul 10.55 WIB ketika Hamangkunegoro keluar dari Kori Kamandungan mengenakan ageman takwa warna pink fuchsia, jarik parang barong, dan kuluk hitam-emas, diiringi drumband prajurit serta bergodo. Acara dihadiri keluarga besar keraton dan sejumlah abdi dalem.
Di Bangsal Manguntur Tangkil, Hamangkunegoro membacakan sumpah kepemimpinan atau sabda dalem untuk menjalankan Keraton Surakarta berlandaskan syariat Islam, paugeran keraton, dan kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Setelah prosesi pengukuhan, gamelan monggang dibunyikan saat PB XIV duduk di dampar kencana sebelum menerima ucapan selamat dari para tamu. Rangkaian Jumeneng Dalem ditutup dengan kirab agung di Pagelaran sebagai tanda dimulainya masa kepemimpinan baru.
Hamangkunegoro, lahir 26 September 2002 dan merupakan putra bungsu mendiang PB XIII dari permaisuri GKR Pakubuwono (KRAy Pradapaningsih), telah ditetapkan sebagai adipati anom pada 27 Februari 2022.
Penetapan tersebut dilakukan langsung oleh PB XIII dengan gelar KGPAA Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram. Ia menempuh pendidikan hukum di Universitas Diponegoro dan melanjutkan studi magister di Universitas Gadjah Mada.
Pihak keraton melalui GKR Timoer Rumbaikusuma Dewayani menyebut bahwa pengukuhan Hamangkunegoro sebagai PB XIV sudah sesuai dengan paugeran adat.
“Prosesi hari ini telah dilaksanakan mengikuti tata aturan keraton. Susuhunan resmi kami adalah PB XIV Hamangkunegoro,” ujar GKR Timoer dalam keterangan resminya.
Di tengah prosesi penobatan, situasi internal keraton masih diwarnai dinamika. Dua hari sebelum pengukuhan, pada 13 November 2025, sejumlah anggota keluarga besar keraton mengukuhkan putra tertua PB XIII, KGPH Hangabehi, sebagai Pakubuwono XIV dalam acara terpisah.
Kondisi itu memunculkan kembali istilah “raja kembar” di lingkungan Keraton Surakarta, situasi yang pernah muncul dalam beberapa fase sejarah suksesi sebelumnya.
Di sisi lain, pihak resmi keraton menegaskan bahwa tata adat sudah dipenuhi dan Hamangkunegoro menjalankan peran sebagai Susuhunan. Sejauh ini belum ada pernyataan lanjutan dari kelompok pendukung Hangabehi mengenai langkah berikutnya.
Pergantian susuhunan di Keraton Kasunanan Surakarta menjadi salah satu peristiwa penting dalam tradisi Mataram Surakarta, terutama karena berlangsung di tengah dinamika internal keluarga keraton.
Pengucapan sumpah yang menekankan syariat Islam, paugeran, dan loyalitas kepada NKRI menunjukkan posisi keraton dalam menjaga kesinambungan tradisi di ruang sosial modern.
Unsur visual yang digunakan mulai dari warna pink fuchsia, jarik parang barong, hingga kuluk hitam-emas kembali menegaskan simbolisme adat Jawa dalam ritus kenegaraan keraton.

0Komentar