Biro Keamanan Nasional Taiwan memperingatkan lima model AI asal China karena pelanggaran privasi, risiko kebocoran data, dan bias politik pro-Beijing berdasarkan hasil audit keamanan terbaru. | EPA

Biro Keamanan Nasional (NSB) Taiwan mengeluarkan peringatan mendesak pada Minggu (17/11) terkait lima model kecerdasan buatan buatan China yang dinilai memiliki risiko keamanan signifikan serta bias politik. 


Peringatan tersebut menyasar DeepSeek, Doubao, Wenxin Yiyan, Tongyi Qianwen, dan Tencent Yuanbao setelah kelimanya gagal dalam audit keamanan yang dilakukan lembaga intelijen Taiwan bekerja sama dengan Biro Investigasi Kementerian Kehakiman dan Biro Investigasi Kriminal Badan Kepolisian Nasional.

Audit menemukan pelanggaran yang meliputi pengumpulan data berlebihan, akses perangkat tanpa izin, serta pemaksaan persetujuan privasi. Tongyi Qianwen milik Alibaba tercatat sebagai model dengan catatan keamanan terburuk, melanggar 11 dari 15 indikator. 

Doubao dan Yuanbao menyusul dengan masing-masing 10 pelanggaran, Wenxin Yiyan sembilan pelanggaran, dan DeepSeek delapan pelanggaran, sebagaimana diberitakan Taipei Times dan Taiwan News.

NSB menyebutkan aplikasi tersebut meminta akses lokasi real-time, mengambil tangkapan layar perangkat, hingga mengirimkan percakapan ke server perusahaan berbasis di China. Berdasarkan Undang-Undang Intelijen Nasional dan Undang-Undang Keamanan Siber China, perusahaan teknologi China diwajibkan menyerahkan data pengguna kepada otoritas negara bila diminta. 

“Risiko keamanan siber yang meluas ini memerlukan kehati-hatian publik terhadap potensi kebocoran data,” ujar NSB dalam pernyataan resmi yang dikutip Taiwan News.

Selain celah keamanan, audit juga menyoroti bias politik dalam keluaran konten. Model-model tersebut diketahui menampilkan narasi yang sejalan dengan posisi resmi Beijing, termasuk menyebut Taiwan sebagai bagian dari Republik Rakyat China dan menghindari istilah seperti demokrasi, hak asasi manusia, atau Lapangan Tiananmen. Dalam beberapa skenario prompt, sistem bahkan dapat menghasilkan instruksi serangan siber atau contoh kode eksploitasi dasar.

Peringatan Taiwan muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap platform kecerdasan buatan asal China. Amerika Serikat, Italia, Jerman, Belanda, dan beberapa negara Eropa telah mengeluarkan peringatan serupa atau melakukan pembatasan penggunaan. 

Pada Juni, regulator Jerman meminta Apple dan Google menghapus DeepSeek dari toko aplikasi, sementara Italia telah lebih dulu melarang aplikasi tersebut.

Taiwan sebelumnya telah memblokir penggunaan DeepSeek di lingkungan pemerintahan sejak Februari tahun ini. Namun, empat aplikasi lain masih belum dibatasi. Dewan Urusan Daratan mengatakan Beijing menggunakan teknologi AI untuk menyebarkan disinformasi dan memengaruhi opini publik menjelang pemilu. 

“Ini bukan hanya isu teknologi, tetapi juga keamanan nasional,” ujar juru bicara dewan dalam keterangan yang dikutip Taipei Times.

Sejauh ini, pemerintah Taiwan belum mengumumkan langkah lanjutan terkait pembatasan penggunaan model AI tersebut di sektor publik maupun komersial.