![]() |
| Produk baja milik PT Krakatau Steel. | humas Kementerian Perdagangan |
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) tengah menghadapi tekanan keuangan serius hingga membuat perseroan tidak lagi memiliki akses pembiayaan normal dari perbankan. Upaya penyelamatan kini masuk tahap final melalui pembahasan dukungan pendanaan dari PT Danantara Asset Management dengan skema shareholder loan senilai US$250 juta. Informasi ini disampaikan oleh manajemen Danantara dalam paparan resmi pekan ini.
Pembiayaan itu diajukan untuk kebutuhan modal kerja, terutama pembelian slab baja dan produk turunan bagi sejumlah fasilitas produksi. KRAS turut menyiapkan opsi tambahan pembiayaan hingga US$500 juta sebagai bagian dari restrukturisasi lanjutan, tergantung kesepakatan dengan pihak kreditur.
Menurut Danantara, kondisi finansial KRAS memburuk setelah dua kali insiden kebakaran fasilitas Hot Strip Mill (HSM) dalam dua tahun terakhir, termasuk pada 5 Mei 2023 di Cilegon. Peristiwa tersebut menghentikan operasi HSM#1 dan ikut menekan kemampuan produksi perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2025, perseroan mencatat posisi modal kerja negatif sekitar Rp27 triliun. Kas yang tersedia hanya sekitar Rp1 triliun, sementara total liabilitas mencapai Rp23,7 triliun. Sebagian kebutuhan bahan baku KRAS saat ini masih dibiayai oleh pihak ketiga dengan suku bunga tinggi.
“Kondisi keuangan Krakatau Steel saat ini tidak baik, dan perseroan hampir tidak punya ruang bergerak,” ujar Managing Director Holding Operasional BPI Danantara, Febriyani Eddy, dalam pernyataan yang dikutip Jumat. Ia menambahkan, pembahasan dukungan pendanaan sedang memasuki fase akhir.
Di sisi lain, KRAS menyampaikan bahwa pendanaan shareholder loan dirancang untuk menjamin kelangsungan operasi, terutama pemenuhan material strategis seperti slab, hot rolled coil (HRC), dan cold rolled coil (CRC), sesuai arus kas masing-masing fasilitas.
Dalam dokumen proyeksi yang disampaikan ke otoritas, KRAS memperkirakan suntikan modal tersebut dapat memperbaiki kemampuan operasional dan meningkatkan EBITDA hingga US$31,9 juta setelah pendanaan berjalan.
Sementara itu, lembaga riset INDEF menilai potensi pemulihan tetap terbuka apabila tahap restrukturisasi utang dan eksekusi modal kerja dapat diselesaikan.
“Dukungan pendanaan dibutuhkan agar perusahaan bisa fokus pada stabilisasi produksi dan efisiensi,” ujar analis INDEF dalam keterangan tertulis.
Namun, sejumlah catatan muncul dari internal Danantara terkait evaluasi operasional dan tata kelola. Salah satu pejabat Danantara menyebut masih ada pekerjaan besar terkait disiplin keuangan, termasuk evaluasi proyek blast furnace yang dinilai tidak menghasilkan kinerja sesuai harapan dan menyisakan beban utang.
Hingga berita ini diturunkan, manajemen KRAS belum menyampaikan pembaruan lanjutan mengenai finalisasi struktur pendanaan dan jadwal implementasi.

0Komentar