Bobibos menjadi sorotan setelah inovasi bahan bakar berbasis jerami ini diuji publik dan menarik perhatian BRIN serta pemerintah. | AI Generated

Bahan bakar nabati Bobibos berbahan dasar jerami mulai mendapat perhatian publik setelah diluncurkan di Jonggol, Bogor, pada awal November 2025. Sejumlah pejabat pemerintah dan peneliti menyoroti inovasi ini, sementara uji coba lapangan dilakukan di Subang pada 11 November.

Bobibos dikembangkan oleh peneliti independen Muhammad Ikhlas Thamrin setelah riset lebih dari satu dekade. Produk ini diklaim memiliki nilai oktan 98,1 dan dapat menggantikan bensin konvensional.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan pihaknya tengah mendalami struktur kimia jerami dan peluang kolaborasi riset. BRIN menyebut jerami mengandung selulosa, hemiselulosa, lignin, dan glukosa yang memungkinkan diproses menjadi bahan bakar.

“Dalam waktu dekat, BRIN akan mengambil inisiatif untuk menghubungi Bobibos mengenai inovasi ini. Semoga minggu ini atau awal minggu depan komunikasi sudah dapat dilakukan,” ujar Hari Setyapraja, peneliti Pusat Riset Teknologi Bahan Bakar BRIN, Rabu (12/11).

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melakukan uji coba Bobibos pada traktor di Subang. Ia menyebut Jawa Barat siap bekerja sama untuk produksi massal apabila riset lanjutan memenuhi standar keamanan dan kualitas.

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, juga membuka ruang pembahasan lanjutan. “Pertamina menyambut baik inovasi energi alternatif dan membuka peluang kolaborasi,” kata Simon dalam pernyataannya pada 10 November.

Namun, Kementerian ESDM menyatakan proses evaluasi belum tuntas. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pihaknya masih mempelajari data teknis. Dirjen Migas Laode Sulaeman menegaskan produk bahan bakar baru membutuhkan pengujian minimal delapan bulan sebelum bisa beredar resmi.

“Bobibos belum memiliki sertifikasi. Semua bahan bakar harus melalui uji keselamatan, performa, dan emisi sebelum izin edar diterbitkan,” kata Laode.

Ikhlas menjelaskan Bobibos diproduksi melalui proses biokimia dengan lima tahap ekstraksi menggunakan mesin yang ia rancang sendiri. Ia menyebut 3.000 liter Bobibos membutuhkan sekitar 9.000 ton jerami, setara hasil satu hektare sawah.

“Bobibos bukan hanya energi, tapi juga harapan. Kami ingin sawah tidak hanya menumbuhkan pangan, tetapi juga energi,” ucap Ikhlas saat peluncuran.

Secara global, penelitian konversi jerami menjadi biofuel meningkat beberapa tahun terakhir. Aston University di Inggris sedang meneliti metode ekstraksi energi dari jerami padi dengan biaya lebih rendah. Di Filipina, perusahaan Inggris Straw Innovations mengoperasikan fasilitas yang mampu mengolah 10.000 ton jerami per tahun menjadi energi biomassa, biochar, dan pupuk.

Sejumlah publikasi ilmiah menunjukkan jerami dapat menghasilkan bioetanol melalui pretreatment kimiawi dan fermentasi, dengan kandungan selulosa mencapai 40–50 persen.

BRIN menyebut tren riset energi saat ini mengarah pada pemanfaatan limbah pertanian seperti jerami dan tandan kosong kelapa sawit agar tidak berbenturan dengan kebutuhan pangan.

Sejauh ini, Bobibos masih dalam tahap pengujian terbatas sambil menunggu proses sertifikasi standar bahan bakar nasional.