Sebuah kendaraan melewati area pertambangan penambang emas dan tembaga PT Freeport Indonesia (PTFI) di Grasberg, Mimika, Papua. (JP/Nethy Dharma Somba)

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengkaji pembukaan dua kawasan tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia yang tidak terdampak longsor di kompleks Grasberg, Papua. Langkah ini dibahas di tengah investigasi penyebab longsor di area Grasberg Block Cave (GBC) yang masih berlangsung.

Rencana tersebut menjadi krusial karena berkaitan dengan pendapatan negara, kesejahteraan ribuan karyawan, dan pasokan bahan baku untuk smelter Freeport di Gresik. Bahlil menyebut dua area tambang yang dipertimbangkan adalah Deep Mill Level Zone (DMLZ) dan Big Gossan.

“Ada bagian yang memang tidak ada kaitannya dengan musibah. Ini lagi di-exercise untuk bagaimana bisa kita produksi,” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (10/11/2025).

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno membenarkan bahwa Freeport telah mengajukan izin pengoperasian kembali dua tambang tersebut. 

“Kalau misalnya tidak terdampak, ya boleh-boleh saja. Tetapi mitigasinya seperti apa, itu yang kita mau tahu,” ujar Tri.

Bahlil memastikan proses investigasi longsor dilakukan tanpa tenggat waktu tertentu. Menurutnya, penyelidikan yang melibatkan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) serta Direktorat Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) harus dilakukan hati-hati.

“Enggak bisa kita pakai deadline, nanti kita target waktu, kemudian kerjanya enggak benar. Ini nyawa, jadi harus betul-betul teliti,” tegasnya.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung sebelumnya menyebut, keterlibatan Ditjen Gakkum bertujuan menelusuri kemungkinan adanya pelanggaran hukum atau kelalaian dari insiden tersebut.

Penghentian operasi Freeport sejak September berdampak besar terhadap perekonomian nasional. Bahlil menjelaskan, terhentinya produksi berpengaruh pada penerimaan negara, pendapatan daerah, kesejahteraan pekerja, serta pasokan konsentrat ke smelter di Gresik.

“Kalau tidak ada produksi, efeknya panjang. Ada dampak terhadap karyawan, pendapatan daerah, bahkan smelter bisa terganggu,” ujar Bahlil.

Insiden longsor material basah terjadi pada 8 September 2025 di area GBC Extraction 28–30 Panel. Sebanyak tujuh pekerja meninggal dunia, dan proses evakuasi yang berlangsung selama 27 hari dinyatakan selesai pada 5 Oktober 2025. Sejak saat itu, seluruh operasi tambang bawah tanah Freeport dihentikan sementara hingga hasil investigasi rampung.