![]() |
| Uni Eropa menyetujui larangan penuh impor gas dari Rusia mulai Januari 2028. Keputusan ini menandai langkah besar Eropa mengakhiri ketergantungan energinya pada Moskwa. (Wikimedia Commons) |
Menteri energi Uni Eropa pada Senin (20/10) sepakat melarang seluruh impor gas dari Rusia mulai Januari 2028. Langkah ini menjadi keputusan paling tegas blok tersebut sejak invasi Rusia ke Ukraina, menandai akhir dari ketergantungan energi Eropa terhadap Moskwa yang telah berlangsung puluhan tahun.
Kesepakatan itu diambil dalam pertemuan para menteri energi di Luxembourg melalui pemungutan suara mayoritas yang memenuhi syarat.
Dalam rencana yang disetujui, impor gas pipa dan gas alam cair (LNG) asal Rusia akan dihentikan secara bertahap mulai 2026, dengan pelarangan penuh berlaku dua tahun kemudian.
Keputusan ini diambil setelah UE terus mengalirkan sekitar €15 miliar per tahun kepada Rusia melalui pembelian gas—uang yang menurut banyak pihak justru ikut membantu membiayai perang Moskwa di Ukraina.
Dari 27 anggota, hanya Hongaria dan Slovakia yang menolak keputusan tersebut. Kedua negara yang terkurung daratan ini masih sangat bergantung pada pasokan energi Rusia dan mempertahankan hubungan diplomatik yang lebih dekat dengan Moskwa.
Menteri Luar Negeri Hongaria, Peter Szijjarto, menilai kebijakan baru itu berpotensi mengancam keamanan energi negaranya.
“Pasokan energi kami yang aman di Hongaria akan dihancurkan,” tulisnya lewat media sosial usai rapat.
Sementara Perdana Menteri Slovakia, Robert Fico, sebelumnya menyebut langkah semacam itu sebagai “bunuh diri ekonomi” dan memperingatkan bahwa Eropa sedang membangun “Tirai Besi baru”.
Meski ada dua penolakan, proposal tetap lolos karena sistem pemungutan suara di Dewan Eropa tak menuntut persetujuan bulat, cukup dukungan mayoritas tertimbang dari sedikitnya 15 negara anggota.
Larangan impor gas Rusia akan diterapkan secara bertahap mulai 1 Januari 2026. Kontrak baru dengan perusahaan Rusia akan dilarang sejak saat itu.
Sementara kontrak jangka pendek yang sudah ada sebelum 17 Juni 2025 masih boleh berjalan hingga 17 Juni 2026. Untuk kontrak jangka panjang, batas akhirnya ditetapkan pada 1 Januari 2028.
Namun, teks kesepakatan juga memberikan pengecualian khusus bagi negara yang tak punya akses laut seperti Hongaria dan Slovakia. Mereka diperbolehkan memodifikasi kontrak yang ada dalam kondisi tertentu, asalkan menyerahkan strategi diversifikasi yang menjelaskan bagaimana mereka akan mencari pasokan alternatif di masa depan.
Keputusan ini juga muncul di tengah tekanan politik dari Washington. Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali mendesak negara-negara Eropa untuk berhenti “membiayai perang melawan diri mereka sendiri” dengan membeli energi dari Rusia.
Komisioner Energi Uni Eropa, Dan Jørgensen, mengatakan keputusan ini diambil dengan pertimbangan matang meski tidak semua pihak setuju.
“Kami tentu lebih suka keputusan diambil secara bulat, tapi kami tidak bisa membiarkan diri kami diperas oleh Rusia,” ujarnya di hadapan media.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, Uni Eropa telah memangkas ketergantungan energinya terhadap Moskwa secara besar-besaran. Gas Rusia kini hanya menyumbang sekitar 13% dari total impor energi UE pada 2025—turun jauh dari hampir 45% pada 2021, ketika Rusia menyalurkan sekitar 157 miliar meter kubik gas per tahun ke Eropa.
Langkah pengurangan ini dilakukan lewat percepatan pembangunan terminal LNG di beberapa negara, termasuk Jerman dan Belanda, serta peningkatan kerja sama energi dengan Norwegia, Aljazair, dan Amerika Serikat.
Proposal larangan impor gas Rusia ini kini tinggal menunggu persetujuan resmi dari Parlemen Eropa. Dukungan kuat diperkirakan akan mengalir, mengingat rancangan aturan serupa sebelumnya telah disetujui di tingkat komite dengan suara mayoritas besar.
Jika disahkan, Uni Eropa akan resmi menutup bab panjang ketergantungan energinya pada Moskwa—sebuah hubungan yang selama ini menjadi salah satu alat pengaruh utama Rusia di benua Eropa.

0Komentar