Presiden AS Donald Trump menegaskan komitmen penuh Amerika Serikat sebagai mitra kuat bagi negara-negara ASEAN lewat serangkaian kesepakatan dagang di Kuala Lumpur. (AP)

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan komitmen penuh Washington untuk menjadi “mitra kuat” bagi negara-negara Asia Tenggara dalam KTT ASEAN ke-47 yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Minggu (26/10). 

Dalam kunjungan itu, Trump juga menandatangani serangkaian perjanjian perdagangan strategis dengan Malaysia, Thailand, Kamboja, dan Vietnam, langkah yang disebutnya sebagai “babak baru hubungan ekonomi AS–ASEAN.”

“Pesan kami kepada negara-negara Asia Tenggara adalah bahwa AS 100 persen bersama Anda, dan kami bermaksud menjadi mitra serta sahabat kuat bagi banyak generasi mendatang,” kata Trump di hadapan para pemimpin ASEAN, seperti dikutip dari The New York Times (26/10). 

Kunjungan ini menjadi yang pertama bagi Trump ke Malaysia, sekaligus kehadiran perdananya di KTT ASEAN sejak 2017.

Dalam pertemuan tersebut, Trump meneken perjanjian perdagangan timbal balik dengan empat negara ASEAN. Kesepakatan itu mempertahankan tarif ekspor ke AS sebesar 19 persen bagi Malaysia, Thailand, dan Kamboja, serta 20 persen untuk Vietnam. Sebagai imbalannya, keempat negara berkomitmen menghapus berbagai hambatan tarif dan non-tarif untuk produk Amerika Serikat.

Malaysia menjadi negara dengan perjanjian paling komprehensif. Negeri jiran itu sepakat tidak akan melarang atau membatasi kuota ekspor mineral penting dan tanah jarang ke AS, langkah yang dinilai strategis di tengah kebijakan pembatasan ekspor oleh China. 

Selain itu, Malaysia juga menandatangani komitmen investasi senilai US$ 70 miliar dalam sepuluh tahun ke depan serta memberikan akses pasar preferensial bagi barang industri dan pertanian AS.

Sementara itu, Thailand akan menghapus tarif atas 99 persen produk Amerika dan membeli 80 unit pesawat buatan AS senilai US$ 18,8 miliar, ditambah produk energi sekitar US$ 5,4 miliar per tahun. 

Adapun Kamboja menyetujui penghapusan semua tarif atas produk pangan dan pertanian AS, sedangkan Vietnam berkomitmen memperluas impor energi dan teknologi tinggi dari Amerika.

Selain kesepakatan dagang, Trump juga menyaksikan penandatanganan Perjanjian Perdamaian Kuala Lumpur antara Thailand dan Kamboja. Kesepakatan itu mengakhiri konflik perbatasan yang meletus pada Juli 2025 dan menewaskan sedikitnya 48 orang. 

“NO WAR! Jutaan nyawa terselamatkan. Sungguh kehormatan bisa menyelesaikan ini,” tulis Trump di platform Truth Social sebelum meninggalkan Malaysia pada Senin (27/10).

Langkah Trump di Asia Tenggara langsung memicu sentimen positif di pasar. Indeks MSCI ASEAN dilaporkan menguat setelah kunjungan tersebut, dengan valuasi sekitar 14 kali proyeksi laba, masih di bawah rata-rata global. 

Menurut laporan Bisnis.com (27/10), para analis menilai kehadiran Trump menjadi sinyal positif bagi stabilitas perdagangan kawasan dan berpotensi menarik kembali arus investasi asing.

Namun, tidak semua pihak menyambut hangat. Sekitar 200 orang dilaporkan menggelar aksi protes di Taman Ampang, Kuala Lumpur, menolak kedatangan Trump. Mereka mengecam sikap pro-Israel pemerintah AS dalam konflik Gaza, seperti dilaporkan The Star.

Trump dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Jepang dan Korea Selatan untuk bertemu dengan Presiden China Xi Jinping, yang pertemuannya disebut-sebut bakal jadi salah satu momen diplomatik paling dinantikan di kawasan Asia Timur tahun ini.