![]() |
| Militer AS meluncurkan operasi drone pengawasan di Gaza untuk memantau kepatuhan gencatan senjata antara Israel dan Hamas. (WEB.mil.USA) |
Militer Amerika Serikat meluncurkan operasi drone pengawasan di atas Jalur Gaza, sebagai upaya memantau kepatuhan terhadap gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Hamas. Misi ini dilakukan dengan persetujuan Israel dan menandai keterlibatan langsung Washington yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah konflik tersebut.
Penerbangan drone mendukung Pusat Koordinasi Sipil-Militer baru di Kiryat Gat, Israel selatan. Di pusat tersebut, sekitar 200 tentara AS bekerja sama dengan militer Israel dan perwakilan internasional dari Inggris, Kanada, Yordania, dan Uni Emirat Arab.
Pusat yang berlokasi di fasilitas kargo yang diubah ini mulai beroperasi pada 17 Oktober 2025 dan menjadi pusat saraf pemantauan rencana perdamaian Gaza 20 poin dari pemerintahan Trump.
Langkah ini dilakukan agar pejabat Amerika memiliki pemahaman langsung tentang kondisi lapangan, alih-alih hanya mengandalkan intelijen Israel.
Mantan Duta Besar AS untuk Israel, Dan Shapiro, menyebut langkah ini sebagai bentuk pengawasan Amerika yang sangat intrusif, sambil menambahkan, "jika ada transparansi penuh dan kepercayaan lengkap antara Israel dan Amerika Serikat, ini tidak akan diperlukan."
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, saat mengunjungi pusat koordinasi pada Jumat lalu, menekankan pentingnya misi ini.
"Ini adalah misi bersejarah tidak ada preseden untuk ini, karena ini belum pernah terjadi sebelumnya," ujarnya kepada wartawan.
Departemen Luar Negeri juga menunjuk diplomat veteran Steven Fagin sebagai pemimpin sipil pusat, dengan pengalaman sebagai duta besar untuk Yaman dan wakil kepala misi di Baghdad.
Operasi pemantauan ini muncul di tengah tekanan pada gencatan senjata yang disepakati pada 10 Oktober 2025. Serangan udara Israel baru-baru ini menanggapi serangan Hamas di dekat Rafah, menewaskan beberapa pihak dan sempat menghentikan distribusi bantuan kemanusiaan.
Kapten Timothy Hawkins, juru bicara Pentagon, menegaskan pentingnya keberadaan pusat koordinasi.
"Pusat ini memiliki ruang operasi yang memungkinkan kami memantau secara real-time apa yang terjadi di lapangan di Gaza," katanya.
Hawkins menambahkan, misi pusat mencakup tiga tujuan utama yaitu, mempertahankan gencatan senjata, mengoordinasikan bantuan kemanusiaan, dan mempersiapkan penempatan pasukan stabilisasi internasional.

0Komentar