Mobil nasional Indonesia akhirnya siap memasuki tahap implementasi. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memastikan seluruh aspek proyek mulai dari merek, perusahaan, hingga rencana produksi telah disiapkan dan tinggal menunggu pelaksanaan. Langkah ini digadang jadi tonggak baru kemandirian industri otomotif Tanah Air.
Rencana besar ini juga tengah diusulkan menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) agar proses produksi bisa berjalan lebih cepat. Proyek tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, yang menargetkan mobil buatan Indonesia meluncur dalam tiga tahun ke depan.
PT Pindad (Persero) resmi menandatangani Head of Agreement (HoA) dengan perusahaan asal Korea Selatan, KG Mobility (KGM), pada 13 Mei 2025. Penandatanganan kerja sama itu menjadi langkah awal pengembangan mobil dan bus listrik nasional di Indonesia.
Dalam proyek ini, KGM akan mendukung Pindad melalui evaluasi produk, transfer teknologi, hingga rekayasa kendaraan listrik. Target produksinya disebut mencapai sekitar 200 ribu unit kendaraan, mencakup mobil dan bus listrik.
“Merek sudah ada, industrinya sudah siap, perusahaan juga sudah saya temui,” ujar Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita, dikutip dari pernyataan resminya. Ia menambahkan, proses persiapan sudah matang dan kini fokus beralih pada tahap pelaksanaan di lapangan.
Kementerian Perindustrian telah mengajukan proyek mobil nasional ini agar masuk daftar Proyek Strategis Nasional. Jika disetujui, proyek ini akan mendapat prioritas dalam hal perizinan, pendanaan, dan fasilitas fiskal.
Presiden Prabowo sebelumnya juga menegaskan dukungan penuh terhadap proyek tersebut. Ia menyebut pemerintah telah menyiapkan lahan untuk pembangunan pabrik dan meminta percepatan agar mobil nasional bisa diproduksi massal sebelum tiga tahun.
Selama ini, Pindad dikenal sebagai produsen alat utama sistem pertahanan (alutsista), termasuk kendaraan taktis dan militer. Masuknya perusahaan ini ke sektor otomotif sipil dan kendaraan listrik menjadi langkah diversifikasi strategis, sekaligus memperluas kapasitas industri nasional.
Sementara itu, KG Mobility yang sebelumnya dikenal sebagai SsangYong Motor sudah berpengalaman di industri otomotif global, termasuk ekspor kit knock-down (KD) ke berbagai negara. Tahun lalu, perusahaan ini mengekspor sekitar 1.060 unit KD ke Indonesia, dengan rencana peningkatan hingga 3.000 unit tahun ini.
Bagi KGM, Indonesia menjadi pasar potensial karena memiliki basis pengguna otomotif terbesar di Asia Tenggara. Kerja sama ini juga dianggap strategis dalam memperkuat rantai pasok kendaraan listrik di kawasan regional.
Proyek ini sejalan dengan target pemerintah untuk mendorong produksi kendaraan listrik dan rendah emisi di dalam negeri. Pemerintah menilai, pengembangan mobil nasional berbasis listrik akan menjadi fondasi menuju ekosistem kendaraan ramah lingkungan di masa depan.
Selain itu, kerja sama ini diharapkan mempercepat transfer teknologi, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat kapasitas industri komponen lokal, termasuk baterai, motor listrik, dan sistem elektronik.
Meski target peluncuran dalam tiga tahun disebutkan, rincian tahapan mulai dari pembuatan prototipe, pembangunan pabrik, hingga jadwal produksi massal belum diumumkan secara detail. Pemerintah juga belum mempublikasikan lokasi pasti pembangunan pabrik serta besaran investasi yang digelontorkan.
Sementara itu, sejumlah pihak menilai tantangan terbesar proyek ini ada pada kesiapan rantai pasok komponen lokal, infrastruktur pengisian daya listrik, dan persaingan dengan merek asing yang sudah lebih dulu bermain di pasar kendaraan listrik Indonesia.
Kendati begitu, pemerintah tetap optimistis proyek mobil nasional ini bisa terealisasi sesuai target, dengan harapan menjadi simbol kebanggaan baru industri otomotif Indonesia sekaligus langkah konkret menuju kemandirian teknologi otomotif dalam negeri.

0Komentar