Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengumumkan lifting minyak Indonesia mencapai 619.000 barel per hari pada September–Oktober 2025, melampaui target APBN 2025 sebesar 605.000 barel/hari. (Instagram/@bahlillahadalia)

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan capaian produksi minyak siap jual atau lifting nasional mencapai 619.000 barel per hari pada September–Oktober 2025. Angka itu melampaui target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebesar 605.000 barel per hari.

“Alhamdulillah, saya laporkan kepada teman-teman HIPMI, per hari ini lifting kita di bulan September–Oktober sudah mencapai 619.000 barel per day. Jadi sudah melampaui target dari APBN 2025,” ujar Bahlil saat berbicara di HIPMI–Danantara Business Forum 2025 di Jakarta, Senin (19/10/2025).

Menurut Bahlil, capaian ini menjadi langkah penting karena untuk pertama kalinya sejak 2008 target lifting minyak dalam APBN berhasil terpenuhi.

“Ini enggak pernah tercapai sejak 2008. Kali ini tercapai,” tegasnya di hadapan para pengusaha muda.

Data Kementerian ESDM menunjukkan realisasi lifting minyak nasional sepanjang September 2025 mencapai sekitar 619.000 barel per hari, dengan rata-rata kumulatif Januari hingga awal Oktober berada di kisaran 605.000–607.000 barel per hari. Angka itu naik dibanding rata-rata produksi 2024 yang berada di sekitar 580.000 barel per hari.

Harga minyak mentah Indonesia (ICP) juga tercatat meningkat, dari rata-rata Agustus menjadi sekitar US$ 66,81 per barel pada September 2025. Kenaikan harga dan peningkatan produksi dinilai sebagai sinyal positif bagi kinerja sektor hulu migas nasional.

Bahlil menyebut capaian tersebut sebagai hasil kerja keras berbagai pihak di sektor energi, termasuk optimalisasi lapangan minyak yang sudah ada dan percepatan eksplorasi wilayah kerja baru. 

“Insya Allah target tahun ini bisa tercapai, bahkan lebih,” katanya.

Bahlil menyinggung masa keemasan industri minyak Indonesia pada era 1996–1997. Saat itu, Indonesia menjadi salah satu eksportir minyak mentah terbesar dunia, dengan lifting mencapai 1,5–1,6 juta barel per hari, sementara konsumsi domestik hanya sekitar 500.000 barel per hari.

“Dulu 1996–1997 kita itu pernah jadi salah satu eksportir minyak mentah terbesar di dunia,” ujarnya. “Sekarang kebalik, konsumsi kita sudah 1,5–1,6 juta barel per hari, sementara produksi hanya 580.000 barel per hari. Artinya kita impor 1 juta barel per hari.”

Menurutnya, perubahan regulasi pascakrisis ekonomi Asia 1996–1997 menjadi salah satu penyebab utama turunnya produksi nasional. Ia menuding intervensi International Monetary Fund (IMF) pada masa itu telah mengubah struktur pengelolaan sektor migas, termasuk pembatasan peran Pertamina dan penerapan Undang-Undang Migas baru.

“IMF sebagai dokter yang mengobati penyakit Indonesia waktu itu membuat berbagai macam kebijakan termasuk regulasi. Pertamina salah satu yang terdampak. Apa yang terjadi? Lifting kita turun terus,” kata Bahlil.

Kementerian ESDM menjelaskan, peningkatan produksi tahun ini tak lepas dari sejumlah langkah strategis yang dijalankan pemerintah, antara lain:

1. Optimalisasi sumur eksisting melalui teknologi lanjutan seperti Enhanced Oil Recovery (EOR) dan pengeboran horizontal.

2. Reaktivasi sumur idle, yaitu sumur yang telah dibor namun belum berproduksi maksimal.

3. Eksplorasi cekungan baru, dari total sekitar 128 cekungan migas di Indonesia, baru sekitar 20 yang aktif berproduksi.


Pemerintah juga mempercepat proses perizinan bagi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) di sektor hulu migas agar investasi bisa berjalan lebih efisien. 

Selain itu, kerja sama lintas kementerian, terutama antara Kementerian Keuangan dan Kementerian ESDM, diperkuat untuk memaksimalkan penerimaan negara dari sektor energi dan tambang.

Meski capaian lifting kali ini disambut positif, sejumlah pihak di sektor energi menilai tantangan masih besar. 

Sebagian besar lapangan minyak Indonesia tergolong tua (mature fields) dengan laju produksi alami yang terus menurun. Banyak cekungan potensial belum dikembangkan karena menunggu persetujuan Plan of Development (POD).

Pengamat energi dari Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, menilai capaian lifting 619.000 barel per hari patut diapresiasi, namun harus dilihat apakah bisa berkelanjutan hingga akhir tahun. 

“Yang penting bukan hanya tembus target harian, tapi konsisten sampai akhir tahun agar angka kumulatifnya benar-benar di atas APBN,” ujarnya saat dihubungi terpisah, Senin (20/10/2025).

Pemerintah menargetkan produksi minyak nasional bisa mencapai 900.000–1.000.000 barel per hari pada 2028–2030. Langkah itu menjadi bagian dari visi pemerintah untuk memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional.

Capaian lifting September–Oktober 2025 yang melampaui target APBN disebut menjadi titik awal perbaikan. Namun, Bahlil menegaskan pemerintah masih perlu menjaga momentum agar tren peningkatan ini tidak berhenti di tengah jalan.