Xi Jinping dan Vladimir Putin membicarakan ide keabadian melalui transplantasi organ, di tengah kemajuan riset medis, inovasi teknologi, serta perdebatan soal batas usia manusia. (Unsplash/Piron Guillaume)

Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin sempat membicarakan kemungkinan mencapai keabadian lewat transplantasi organ dalam sebuah pertemuan di Beijing pada 3 September 2025. 

Percakapan keduanya terekam kamera televisi pemerintah dan kemudian viral, memicu diskusi luas tentang batas umur manusia, kemajuan medis, serta arah penelitian transplantasi organ.

Putin, melalui penerjemah berbahasa Mandarin, menyebut bahwa dengan kemajuan bioteknologi, organ dapat diganti berulang kali sehingga seseorang dapat terlihat lebih muda meski usia terus bertambah. 

“Diramalkan bahwa pada abad ini, kita mungkin dapat hidup hingga usia 150 tahun,” katanya. Xi Jinping menanggapi dengan senyum dan menyebut bahwa gagasan itu "tidak sepenuhnya mustahil".


Kemajuan nyata dalam transplantasi organ

Meski komentar Xi dan Putin terkesan spekulatif, transplantasi organ telah lama menjadi langkah penting dalam dunia medis. 

Data dari NHS Blood and Transplant di Inggris mencatat lebih dari 100.000 orang diselamatkan lewat transplantasi dalam tiga dekade terakhir.

Organ yang ditransplantasikan memiliki rentang umur fungsional berbeda. Ginjal dari donor hidup dapat bertahan 20–25 tahun, sementara dari donor meninggal sekitar 15–20 tahun. 

Hati bisa berfungsi hingga 20 tahun, jantung sekitar 15 tahun, dan paru-paru rata-rata 10 tahun. Dalam kasus tertentu, pasien ginjal dilaporkan masih sehat lebih dari 50 tahun setelah transplantasi.

Di Indonesia, transplantasi ginjal dan hati menjadi prosedur paling banyak dilakukan. Perkembangan teknologi operasi, pencocokan Human Leukocyte Antigen (HLA), dan dukungan jaminan kesehatan nasional membantu memperbesar peluang kesintasan pasien.

Namun keberhasilan transplantasi bukan berarti tanpa tantangan. Proses operasi membawa risiko besar, dan tubuh penerima organ berpotensi menolak organ baru. 

Untuk itu, pasien diwajibkan mengonsumsi obat imunosupresif seumur hidup. Obat ini mencegah penolakan, tetapi juga menekan sistem kekebalan tubuh sehingga meningkatkan kerentanan terhadap infeksi dan kanker.

Profesor Neil Mabbott dari Roslin Institute, Universitas Edinburgh menjelaskan, “Stres, trauma, dan dampak operasi transplantasi, ditambah dengan penggunaan obat imunosupresif yang berkelanjutan untuk mencegah penolakan organ transplantasi, akan terlalu berat bagi pasien usia lanjut.”

Ia menambahkan, “Hidup lebih lama, tetapi menderita berbagai penyakit yang menyertai penuaan, dan keluar masuk rumah sakit untuk transplantasi jaringan lainnya, kedengarannya bukan cara yang menarik untuk menghabiskan masa pensiun saya!”

Inovasi baru: dari babi hingga sel punca

Untuk mengatasi keterbatasan donor organ manusia, ilmuwan mengembangkan berbagai inovasi. Salah satu yang paling menonjol adalah xenotransplantasi, yakni penggunaan organ babi hasil rekayasa genetika agar kompatibel dengan manusia. 

Sejumlah uji coba awal pada ginjal dan jantung menunjukkan hasil menjanjikan.

Selain itu, penelitian berbasis sel punca membuka jalan bagi regenerasi organ baru. Pada 2020, tim dari University College London (UCL) dan Francis Crick Institute berhasil membangun kembali timus manusia dari sel punca, diuji pada tikus dengan hasil positif. 

Rumah sakit Great Ormond Street di London juga berhasil menumbuhkan cangkok usus dari sel pasien sendiri, sebuah terobosan yang berpotensi mengurangi risiko penolakan organ.

Di luar transplantasi organ, eksperimen alternatif juga dilakukan, misalnya transfusi plasma darah dari donor muda. 

Namun, uji coba ini tidak terbukti efektif. Pengusaha teknologi asal Amerika Serikat, Bryan Johnson, sempat melakukan transfusi plasma darah anaknya dengan harapan memperlambat penuaan. Eksperimen itu akhirnya dihentikan karena tak menunjukkan manfaat medis nyata.

Menurut Dr Julian Mutz dari King’s College London, potensi riset-riset baru memang menarik, tetapi masih perlu kehati-hatian dalam menyimpulkan dampaknya terhadap umur manusia. 

“Apakah strategi semacam itu akan berdampak signifikan terhadap harapan hidup, khususnya harapan hidup maksimum manusia, masih belum pasti, meskipun ini merupakan bidang yang sangat menarik secara ilmiah,” ujarnya.

Batas biologis umur manusia

Gagasan tentang keabadian menabrak satu kenyataan yaitu tubuh manusia memiliki keterbatasan biologis. 

Data paling ekstrem datang dari Jeanne Calment, perempuan asal Prancis yang hidup hingga usia 122 tahun. Ia tercatat sebagai manusia tertua yang terverifikasi dalam sejarah.

Ilmuwan memperkirakan batas usia maksimal manusia sekitar 125 tahun. Studi terbaru menunjukkan, secara teori manusia bisa hidup hingga 130 tahun atau lebih, tetapi probabilitasnya sangat kecil. 

Risiko kematian meningkat sepanjang hidup, meskipun setelah usia 110 tahun, peluang bertahan hidup setahun lagi menjadi seperti “melempar koin” dengan peluang 50 persen.

Prof Neil Mabbott menekankan bahwa penuaan membawa penurunan kemampuan tubuh melawan infeksi dan memperbaiki kerusakan sel. 

“Kita mulai merespons infeksi secara kurang efektif, dan tubuh kita menjadi lebih lemah, rentan terhadap cedera, serta kurang mampu pulih dan memperbaiki diri,” katanya.

Dengan kondisi itu, ide mengganti organ berulang kali untuk memperpanjang hidup hingga 150 tahun dinilai banyak ahli lebih menyerupai fiksi ilmiah daripada realitas medis.

Antara panjang umur dan kualitas hidup

Bagi sebagian ilmuwan, tujuan utama bukanlah mencapai umur ekstrem, melainkan memastikan kehidupan yang sehat di usia lanjut. 

Transplantasi memang memperpanjang umur, tetapi kualitas hidup pasien bergantung pada kondisi fisik, efek samping obat, serta akses terhadap layanan kesehatan.

Pertanyaan etis juga muncul yaitu apakah sumber daya medis harus difokuskan untuk memperpanjang umur orang kaya atau elit politik, sementara banyak pasien di seluruh dunia masih menunggu donor organ untuk bertahan hidup?

Di sisi lain, komentar Xi dan Putin juga dilihat dalam konteks politik. Xi, yang sudah menghapus batas masa jabatan presiden di China, dan Putin, yang mendukung riset anti-penuaan di Rusia, dianggap mencerminkan bagaimana isu umur panjang juga menjadi bagian dari perbincangan elit global.


Diskusi ringan antara Xi Jinping dan Vladimir Putin tentang transplantasi organ dan keabadian mengangkat kembali pertanyaan lama tentang batas umur manusia. 

Sementara teknologi transplantasi telah menyelamatkan banyak nyawa dan terus berkembang melalui inovasi seperti xenotransplantasi dan sel punca, para ahli sepakat bahwa keabadian masih jauh dari kenyataan.

Ilmu pengetahuan menunjukkan manusia memiliki batas biologis sekitar 120–130 tahun, dan memperpanjang umur lewat transplantasi berulang menghadapi risiko medis serius.