Studi terbaru Universitas Stanford menemukan pekerjaan tingkat pemula turun 13% sejak AI generatif meluas pada 2022. CEO Anthropic Dario Amodei peringatkan hingga 50% pekerjaan kerah putih level awal bisa hilang dalam lima tahun. (Ilustrasi: Apluswire/)

Pemimpin industri kecerdasan buatan (AI) kembali memperingatkan dampak teknologi ini terhadap pasar kerja, setelah sebuah studi dari Universitas Stanford menemukan bukti bahwa pekerjaan tingkat pemula di sektor yang terpapar AI mengalami penurunan tajam sejak akhir 2022. 

CEO Anthropic, Dario Amodei, bahkan memprediksi hingga 50% pekerjaan kerah putih level awal bisa hilang dalam lima tahun mendatang.

Studi yang dirilis pada Selasa (26/8) itu menunjukkan bahwa pekerjaan untuk orang berusia 22–25 tahun di bidang yang banyak terdampak AI turun 13% sejak peluncuran ChatGPT pada akhir 2022. 

Bidang pengembangan perangkat lunak dan layanan pelanggan menjadi sektor dengan penurunan paling besar.

Sebaliknya, posisi serupa untuk pekerja yang lebih berpengalaman justru stabil atau meningkat. Peneliti menyimpulkan bahwa pengalaman kerja dapat menjadi perlindungan terhadap risiko penggantian oleh teknologi AI.

"Ada bukti nyata bahwa AI mulai memberikan dampak besar," kata Erik Brynjolfsson, ekonom Stanford, kepada Axios. 

Ia menyebut fenomena ini sebagai "perubahan tercepat dan terluas" yang pernah terjadi di tempat kerja, sebanding dengan lonjakan kerja jarak jauh selama pandemi.

Amodei, yang pertama kali menyampaikan peringatannya pada Mei lalu, menilai kecepatan perubahan ini belum sepenuhnya disadari oleh pekerja maupun pembuat kebijakan.

"Kebanyakan dari mereka tidak menyadari bahwa ini akan segera terjadi," ujar Amodei. "Kami, sebagai produsen teknologi ini, memiliki tugas dan kewajiban untuk jujur tentang apa yang akan datang."

Ia memperkirakan AI bisa menghapus 50% pekerjaan level awal untuk pekerja kerah putih, dengan potensi kenaikan tingkat pengangguran global sebesar 10–20% dalam satu hingga lima tahun ke depan.

Geoffrey Hinton, yang dikenal sebagai "Godfather of AI," juga telah menyampaikan pandangan serupa. Ia menilai profesi seperti paralegal dan pekerja call center berisiko tinggi digantikan sepenuhnya oleh AI. 

"Kalau saya bekerja di bidang itu, saya akan merasa ketakutan," katanya.

Temuan Stanford diperkuat oleh data ketenagakerjaan terbaru. Proporsi karyawan berusia 21–25 tahun di perusahaan teknologi publik besar turun hampir separuh antara Januari 2023 hingga Juli 2025.

Beberapa bidang mencatat penurunan perekrutan entry-level paling tajam, di antaranya pemasaran (turun 75,6%), sumber daya manusia (turun 72,3%), dan teknik (turun 72,2%).

Bank investasi Goldman Sachs sebelumnya memperkirakan AI berpotensi mengotomatisasi setara dengan 300 juta pekerjaan penuh waktu di seluruh dunia. 

Analisis mereka menyebut dua pertiga pekerjaan di AS terpapar pada sejumlah tingkat otomatisasi, dengan setengah dari beban kerja di posisi tersebut bisa digantikan sepenuhnya.

Perubahan ini menandai pergeseran mendasar dalam cara perusahaan memandang perekrutan pekerja baru. 

Menurut sejumlah pengamat industri, banyak perusahaan mulai mempertanyakan manfaat melatih lulusan muda ketika AI dapat melakukan sejumlah besar tugas dasar dengan lebih cepat dan akurat.

Perdebatan kini berfokus pada bagaimana pasar kerja global beradaptasi menghadapi perubahan besar yang dipicu oleh teknologi ini. 

Sementara sebagian pihak melihat AI sebagai peluang untuk meningkatkan produktivitas, studi terbaru Stanford menunjukkan risiko nyata yang harus segera ditanggapi oleh pembuat kebijakan.