AS mendesak G7 dan Uni Eropa memberlakukan tarif besar pada China dan India terkait pembelian minyak Rusia. (Foto: Ega Tanto/Wikimedia Commons)


Departemen Keuangan Amerika Serikat pada Jumat (12/9) mendesak sekutu dari Grup Tujuh (G7) dan Uni Eropa (UE) agar memberlakukan tarif signifikan terhadap barang-barang asal China dan India. Langkah itu ditujukan untuk menekan pembelian minyak Rusia oleh kedua negara, yang dinilai masih mengalirkan dana ke mesin perang Moskow di Ukraina.

“Pembelian minyak Rusia oleh Tiongkok dan India mendanai mesin perang Putin dan memperpanjang pembunuhan tanpa arti terhadap rakyat Ukraina,” kata seorang juru bicara Departemen Keuangan AS dalam pernyataan email kepada Reuters.

Presiden AS Donald Trump mengungkapkan ketidaksabarannya yang kian menipis terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam wawancara dengan Fox News pada Jumat, Trump menyebut kesabarannya “sudah hampir habis dengan cepat”. 

Ia menegaskan bahwa sanksi keras akan diarahkan ke sektor perbankan serta energi, termasuk lewat tarif tambahan.

Trump sebelumnya sudah menaikkan tarif 25% untuk India, sehingga total bea masuk hukuman atas barang-barang asal India kini mencapai 50%. Kebijakan itu dimaksudkan agar New Delhi menghentikan impor minyak mentah Rusia dengan harga diskon. 

Namun, Trump belum menjatuhkan tarif tambahan untuk China, karena pemerintahannya masih menjaga keseimbangan perdagangan yang dinilai sensitif dengan Beijing.

Menurut laporan Bloomberg, AS mengusulkan tarif sekunder sebesar 50% hingga 100% terhadap China dan India. Juru bicara Departemen Keuangan menekankan bahwa sekutu Eropa perlu ikut serta dalam langkah ini.

“Awal minggu ini, kami menegaskan kepada sekutu UE kami bahwa jika mereka benar-benar serius ingin mengakhiri perang di halaman belakang mereka sendiri, mereka harus bergabung dengan kami dan menerapkan tarif yang berarti, yang akan dicabut pada hari perang berakhir,” ujarnya.

Meski begitu, implementasi kebijakan ini tidak mudah. Sejumlah negara Uni Eropa, termasuk Hongaria, kerap menolak sanksi keras terhadap sektor energi Rusia. 

Usulan AS juga mencakup larangan terhadap armada bayangan kapal tanker Rusia, jaringan perdagangan, hingga perusahaan energi Rosneft.

Di sisi lain, Kremlin justru meningkatkan operasi militernya. Akhir pekan lalu, Rusia melancarkan serangan udara terbesar ke Ukraina dengan mengerahkan lebih dari 800 drone dan 13 rudal. 

Data militer menunjukkan serangan drone kini berlangsung hampir tiap malam dengan jumlah ratusan, berbeda dari awal tahun yang hanya belasan.

Kremlin pada Jumat juga mengakui bahwa pembicaraan damai dengan Ukraina “lebih berada dalam keadaan jeda” ketimbang aktif. Pemerintah Ukraina sebelumnya sudah berulang kali memperingatkan bahwa jalur diplomasi berjalan buntu.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan bertemu Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di Madrid pada Jumat. Pertemuan itu membahas isu perdagangan sekaligus kekhawatiran soal pencucian uang. 

Bessent sebelumnya mengatakan sanksi tambahan terhadap pembeli minyak Rusia berpotensi membuat ekonomi Moskow “runtuh total” dan pada akhirnya memaksa Putin kembali ke meja perundingan.

Sejauh ini, belum ada tanggapan resmi dari Beijing maupun New Delhi terkait dorongan AS dan sekutu G7. Namun, India dan China tercatat masih menjadi dua pasar terbesar bagi ekspor minyak mentah Rusia sejak invasi ke Ukraina dimulai pada 2022.