![]() |
| Mayoritas anak muda Indonesia usia 20–30 tahun jadi tulang punggung keluarga. Biaya hidup naik, tabungan nol, dan masa depan finansial makin terjepit. (Ilustrasi: Apluswire/Rst) |
Usia produktif yang mestinya jadi masa membangun karier dan tabungan, justru berubah jadi masa penuh beban bagi jutaan anak muda Indonesia. Gaji pas-pasan habis untuk keluarga, sementara mimpi punya rumah dan dana darurat kian menjauh.
Fenomena generasi sandwich kini melebar ke kalangan anak muda. Litbang Kompas pada 2024 menemukan, 67% responden usia 17 tahun ke atas ikut menanggung biaya hidup orang tua, adik, atau anggota keluarga lain.
Mayoritas dari mereka berada di rentang usia 20–30 tahun, kelompok yang semestinya fokus membangun kemandirian finansial.
Survei Jakpat dan Tirto pada 2023 juga menunjukkan, 48,6% generasi sandwich di Indonesia kesulitan mencapai tujuan finansial pribadi. Dari jumlah itu, 33,6% menyebut “agak sulit”, sementara 15% menyatakan “sangat sulit”. Mayoritas dari kelompok ini bekerja penuh waktu di kota besar dengan penghasilan yang kerap tidak sebanding dengan tingginya biaya hidup.
“Banyak milenial muda yang seharusnya bisa menabung untuk membeli rumah atau investasi, justru mengalihkan 40–60% penghasilannya untuk keluarga. Bukan hanya orang tua, tapi juga adik-adik yang masih sekolah,” kata Rina Putri, perencana keuangan dari Finansialku.
Biaya Hidup Naik, Gaji Jalan di Tempat
Kesenjangan antara kenaikan biaya hidup dan gaji membuat generasi sandwich semakin terjepit. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi kebutuhan pokok mencapai 3,2% pada Juni 2024, sementara kenaikan rata-rata upah minimum nasional hanya 1,8%.
Di kota besar seperti Jakarta, biaya sewa tempat tinggal, transportasi, dan kebutuhan dasar terus merangkak. Untuk keluarga muda berpenghasilan Rp7–12 juta per bulan, pengeluaran rutin bisa habis hanya untuk kebutuhan harian dan transfer ke kampung halaman.
“Generasi ini banyak yang tidak punya dana darurat. Berdasarkan riset Treasury, 40% generasi sandwich di Indonesia bahkan tidak memiliki tabungan darurat sama sekali, karena seluruh penghasilan mereka tersedot untuk kebutuhan sehari-hari,” jelas Dian Arifianto, analis finansial, dalam riset yang dirilis Februari 2024.
Di luar masalah keuangan, tekanan psikologis juga menghantui. Studi dari Binus Psychology (2022) menemukan hanya 28% generasi sandwich di Indonesia merasa hidup mereka nyaman secara finansial. Sisanya, 30% merasa “cukup untuk hidup”, 30% “hanya bisa memenuhi kebutuhan dasar”, dan 11% menyatakan penghasilan mereka tidak mencukupi.
“Banyak klien kami datang dengan gejala burnout. Mereka merasa hidupnya habis bekerja, tanpa punya ruang untuk diri sendiri. Bahkan, ada yang mengalami kecemasan berlebih karena tidak bisa menolak permintaan keluarga,” jelas Dr. Intan Wulandari, psikolog keluarga Universitas Indonesia.
Kondisi ini diperparah dengan tren gaya hidup di kota besar. Banyak generasi muda yang merasa tertekan karena tidak bisa mengikuti standar gaya hidup teman sebayanya, lantaran harus menyisihkan sebagian besar penghasilan untuk keluarga.
Milenial dan Gen Z Jadi Mayoritas Korban
Berbeda dengan negara maju di mana generasi sandwich umumnya berusia 40–60 tahun, di Indonesia fenomena ini justru menimpa milenial muda dan Gen Z awal (20–40 tahun). Mereka baru beberapa tahun bekerja, gaji belum stabil, namun sudah menanggung keluarga besar.
Laporan Pinhome pada Oktober 2024 mengungkap, generasi sandwich di kelompok usia ini memiliki tingkat kepemilikan properti terendah dibanding generasi lainnya. Prioritas finansial mereka tersedot untuk membiayai kebutuhan orang tua dan adik-adik, sehingga mimpi memiliki rumah harus ditunda.
“Kalau kondisi ini berlanjut, dampaknya bukan hanya pada individu, tapi juga pada perekonomian nasional. Daya beli kelompok usia produktif bisa melemah karena tabungan dan investasi mereka nyaris nol,” kata Arief Budiman, ekonom INDEF.
Cerita Nyata: “Gaji Habis, Tabungan Nol”
Dwi, 28 tahun, karyawan swasta di Bekasi, menggambarkan hidupnya seperti berlari di tempat. Gajinya Rp8 juta per bulan, namun harus membayar kontrakan Rp2 juta, biaya sekolah adik Rp1,5 juta, serta mengirim Rp2 juta setiap bulan ke orang tua di kampung. Sisanya habis untuk transportasi dan makan. Tabungan? Hampir tidak ada.
“Saya belum menikah, tapi tabungan selalu nol di akhir bulan. Kadang terpaksa pinjam ke teman kalau ada kebutuhan mendesak,” ujarnya kepada Apluswire.
Cerita seperti Dwi bukan hal langka. Data OJK per Mei 2024 menunjukkan, pinjaman online (fintech) tumbuh 17% dibanding tahun sebelumnya, banyak digunakan oleh pekerja usia muda untuk kebutuhan konsumtif mendesak, termasuk biaya keluarga.
Minim Dukungan dari Sistem Sosial
Di negara seperti Jepang atau Jerman, sebagian beban generasi sandwich ditopang kebijakan sosial berupa subsidi daycare lansia, cuti berbayar untuk caregiving, hingga insentif pajak. Di Indonesia, dukungan seperti ini nyaris tidak ada.
Jaminan kesehatan nasional (BPJS) memang membantu, tapi tidak menutupi biaya perawatan jangka panjang atau kebutuhan pendamping lansia. Beban akhirnya sepenuhnya jatuh pada anak muda.
“Tanpa intervensi pemerintah, generasi produktif akan terus terhimpit. Padahal, mereka inilah yang mendorong pertumbuhan ekonomi,” jelas Aviliani, ekonom senior dan anggota Komite Ekonomi Nasional.
Kondisi ini juga memunculkan kesenjangan gender. Banyak perempuan muda terpaksa mengurangi jam kerja atau menolak promosi agar bisa merawat orang tua, yang akhirnya menghambat karier mereka.
Bagaimana Anak Muda Bertahan?
Meski terjepit, banyak generasi sandwich mencoba bertahan. Strategi yang umum dilakukan antara lain menekan pengeluaran hiburan, mulai berinvestasi di instrumen aman, hingga mengambil asuransi untuk melindungi keuangan keluarga.
Pakar keuangan menyarankan langkah konkret. “Mulailah dari membagi penghasilan untuk tiga pos utama: kebutuhan pokok, proteksi (asuransi), dan tabungan meski kecil. Disiplin mengalokasikan dana darurat sangat penting agar tidak terjebak utang,” kata Rina Putri.
Dari sisi psikologis, saran yang umum diberikan adalah berbagi beban dengan saudara kandung, memanfaatkan bantuan komunitas, dan tetap menyediakan waktu untuk diri sendiri.
Studi BMC Public Health (2022) menunjukkan, pendekatan kolektif melibatkan keluarga besar dan dukungan profesional dapat menurunkan stres hingga 30%.
Solusi Sistemik untuk Generasi Produktif
Fenomena ini diperkirakan semakin besar seiring usia harapan hidup Indonesia yang sudah mencapai 73,5 tahun dan tren keluarga kecil di perkotaan. Tanpa kebijakan yang memadai, dampaknya bisa menggerus pertumbuhan ekonomi karena generasi produktif kehilangan daya beli dan daya investasi.
Ekonom INDEF, Arief Budiman, menilai pemerintah perlu langkah nyata:
Insentif pajak untuk anak muda yang merawat orang tua.
Pusat perawatan lansia komunitas dengan biaya terjangkau.
Subsidi daycare lansia dan asuransi perawatan jangka panjang.
Kampanye literasi keuangan sejak usia kuliah agar generasi berikutnya lebih siap.
“Kalau tidak, kita akan punya generasi produktif yang lelah sebelum waktunya. Dampaknya bukan cuma ke individu, tapi juga ke pertumbuhan ekonomi nasional,” tegas Arief.
Bagi jutaan anak muda yang terjebak sebagai generasi sandwich, bertahan mungkin terasa seperti pilihan satu-satunya. Namun, dengan strategi finansial yang disiplin dan dukungan kebijakan yang lebih inklusif, beban ini bisa diperingan.
“Kita tidak bisa menghilangkan kewajiban keluarga, tapi negara dan sistem bisa membuatnya lebih manusiawi. Anak muda harus bisa bekerja keras tanpa kehilangan masa depan,” pungkas Aviliani.

0Komentar