Garuda Indonesia amankan Rp6,65 triliun dari BPI Danantara untuk membeli 50 pesawat Boeing. Langkah ini jadi strategi bisnis sekaligus diplomasi dagang RI-AS guna tekan tarif ekspor Indonesia hingga 19%. (ANTARA FOTO/AMPELSA/WSJ)

Garuda Indonesia (Persero) Tbk resmi mengamankan dana jumbo senilai Rp6,65 triliun atau sekitar US$405 juta untuk mendukung rencana pembelian 50 pesawat Boeing asal Amerika Serikat. Skema pembiayaan ini tak hanya bersumber dari kas perusahaan, tetapi juga dukungan negara dan rencana kerja sama dengan investor eksternal. 

Langkah ini menjadi bagian dari paket negosiasi perdagangan Indonesia-AS yang diharapkan bisa menurunkan tarif impor produk Indonesia ke Negeri Paman Sam hingga 19% dan menutup defisit neraca dagang RI.

Dari total kebutuhan dana yang diperkirakan mencapai miliaran dolar AS untuk pembelian bertahap selama lima tahun, Garuda sudah mengantongi kucuran utama dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), sovereign wealth fund milik pemerintah, senilai Rp6,65 triliun per 23 Juni 2025. 

Direktur Utama Garuda, Irfan Setiaputra, menyebut suntikan modal ini bukan hanya menopang akuisisi pesawat, tetapi juga menjaga kesehatan keuangan pasca-restrukturisasi yang rampung pada Juni lalu. 

“Pendanaan ini bagian dari komitmen negara untuk memastikan Garuda bisa ekspansi tanpa mengulang krisis masa lalu,” ujarnya dalam keterangannya, dikutip Kamis (24/7).

Selain modal negara, Garuda juga menyiapkan dana internal dari kas perusahaan yang tersisa setelah program restrukturisasi utang disetujui Menteri BUMN, Presiden, dan RUPS Luar Biasa pada akhir Juni. 

Perusahaan menegaskan tidak seluruh beban pembelian akan ditopang anggaran negara. “Kami sedang menjajaki kolaborasi dengan sejumlah investor strategis dan lembaga pembiayaan untuk memastikan kebutuhan modal kerja dan belanja modal terpenuhi,” tambah Irfan, sembari menyebut negosiasi dengan Boeing mencakup skema pembayaran bertahap, uang muka, dan penggunaan deposit dari pesanan lama yang sempat dibatalkan.

Rencana akuisisi 50 pesawat ini meliputi varian Boeing 737 MAX, 777, hingga 787 Dreamliner, yang akan memperkuat armada Garuda dan Citilink untuk rute domestik maupun internasional. 

Sebagian armada yang sudah masuk akan menggunakan skema sewa (leasing) dengan biaya sekitar US$400.000 per bulan per unit, sementara pembelian baru diproyeksikan mulai rampung dalam lima tahun mendatang. 

Boeing disebut tengah menahan deposit lama Garuda yang bisa menjadi bagian penyelesaian transaksi, sehingga mengurangi tekanan pembiayaan awal.

Langkah Garuda ini tak sekadar ekspansi bisnis, tetapi juga strategi diplomasi dagang. Pemerintah Indonesia berharap impor besar dari AS, termasuk pembelian 50 Boeing ini, bisa mempercepat negosiasi penurunan tarif ekspor Indonesia ke pasar Amerika, dari level saat ini ke kisaran 19%. 

“Ini bukan sekadar pengadaan armada, tapi strategi bilateral untuk memperbaiki posisi dagang RI yang defisit terhadap AS,” kata seorang pejabat Kementerian Perdagangan. 

Indonesia mencatat defisit neraca dagang dengan AS sekitar US$2,8 miliar sepanjang 2024, sehingga pemerintah menilai langkah Garuda bisa memberi leverage tambahan dalam lobi dagang.

Garuda menargetkan penambahan total armada hingga 120 pesawat dalam lima tahun ke depan, seiring rencana membuka rute baru dan memperkuat jaringan penerbangan regional. 

Dengan sumber dana campuran Rp6,65 triliun dari BPI Danantara, kas internal, investor eksternal, hingga potensi keringanan deposit maskapai pelat merah ini berharap bisa keluar dari bayang-bayang krisis dan bersaing di pasar global.