Fenomena 'rojali' atau rombongan jarang beli kian marak di pusat perbelanjaan Indonesia. Konsumsi rumah tangga melambat jadi sinyal daya beli kelas menengah atas sedang menurun. (TribunNews/Ilham Oktafian)

Fenomena "rojali" alias rombongan jarang beli makin terasa belakangan ini. Mal di Jakarta dan kota besar tampak padat, tapi kasir-kasir justru sepi. Orang datang untuk makan, nongkrong, atau sekadar cuci mata tanpa transaksi berarti. 

Ini bukan cuma gejala sosial biasa, tapi sinyal ekonomi penting: konsumsi rumah tangga Indonesia sedang melambat.

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 4,87% pada kuartal I 2025, turun dari 4,91% pada periode yang sama tahun lalu. 

Padahal, periode ini bertepatan dengan Ramadan dan Lebaran momen yang biasanya mendorong belanja masyarakat.

Tak hanya itu, sinyal pelemahan konsumsi juga terlihat dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bank Indonesia yang stagnan. Pada Januari dan Maret 2025, indeks hanya tumbuh 0,5% secara tahunan, dan Februari naik 2% yoy. 

Angka ini jauh dari cukup untuk menopang ekonomi domestik, mengingat konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 54% terhadap PDB nasional.

Kepala Ekonom BCA, David Sumual, mengungkapkan bahwa fenomena “rojali” memang semakin nyata di lapangan. 

“'Rojali' ini memang kelihatan. Di mal-mal kan kita lihat. Orang Jakarta kalau ke mal biasanya makan saja, cari diskon, cafe yang diskon, apalagi sekarang ada e-commerce,” ujar David.

Menurutnya, kelas menengah atas yang selama ini menjadi motor penggerak belanja justru mulai menahan diri. Mereka memilih mengalihkan uangnya ke investasi. 

“Giro aja ada yang menawarkan 7 persen, apalagi deposito. Terus juga yield SBN lumayan tinggi dan ada instrumen lain emas digital, emas biasa, perhiasan. Instrumen investasi posisinya lagi menarik bagi mereka (konsumen),” tambahnya.

Tak sedikit dari mereka yang menghindari belanja barang-barang sekunder dan mewah. Penjualan tas dan arloji branded, misalnya, mulai lesu. 

“Saya bertemu dengan beberapa supplier produk-produk luxurious seperti tas, arloji, mereka merasakan (penurunan minat beli) mirip-mirip krisis 2008,” kata David.

Pergeseran perilaku konsumsi ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Inflasi pangan yang menyentuh 3,8% secara tahunan pada Juni 2025, stagnasi upah riil, serta meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) seperti yang dialami lebih dari 11 ribu karyawan Sritex ikut menekan daya beli masyarakat.

Kondisi ini dikenal dengan istilah downtrading, yakni kecenderungan konsumen untuk beralih ke barang yang lebih murah atau menunda pembelian yang tidak esensial. 

Alhasil, sektor ritel melambat, dan pertumbuhan ekonomi ikut terkoreksi. Target pertumbuhan 5,2% tampak berat dicapai, mengingat realisasi kuartal pertama baru 4,87%.

Meski begitu, harapan masih ada. Bank Indonesia dan pemerintah menaruh optimisme pada semester II 2025. 

Beberapa faktor diyakini bisa mengangkat kembali konsumsi. inflasi yang tetap terkendali dalam kisaran 2,5% ±1%, percepatan penyaluran bansos, membaiknya ekspor karena penurunan tarif impor dari mitra dagang seperti AS, serta pemulihan sektor pertanian seiring naiknya harga gabah.

“Inflasi diperkirakan masih akan rendah dan stabil tentunya daya beli tidak akan tergerus sehingga daya beli akan tetap baik,” ujar Juli Budi Winantya, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI. 

Ia menambahkan, “Confidence yang semakin membaik akan membuat ekspektasi untuk melakukan konsumsi rumah tangga juga akan semakin meningkat.”

Namun, risiko tetap mengintai. Penurunan konsumsi bisa memicu efek domino, dari tergerusnya tabungan rumah tangga, meningkatnya ketergantungan pada insentif pemerintah, hingga kemungkinan deflasi jika permintaan tidak pulih. Terlebih, dua bulan pertama 2025 sempat mencatat deflasi beruntun indikasi lemahnya permintaan domestik.

“Pemerintah juga belanja dan memberikan stimulus. Saya pikir, kondisi konsumsi semester II akan berbeda jauh dengan semester I secara keseluruhan,” kata David. 

Ia menilai, kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif bisa menjadi titik balik, asalkan dibarengi dengan perbaikan struktural seperti jaminan sosial dan kepastian pekerjaan.

Fenomena “rojali” memang terlihat sepele di permukaan. Tapi di balik ramainya mal, ada kecemasan ekonomi yang nyata. Dan jika konsumsi tak segera pulih, maka yang terdampak bukan hanya kasir atau toko ritel melainkan perekonomian nasional secara keseluruhan.