![]() |
| Kapal khusus yang sedang melakukan pemasangan kabel bawah laut. |
Sekitar 60-70% jalur kabel bawah laut Sarawak-Johor melintasi perairan Indonesia, sehingga Malaysia harus menanti izin sebelum studi rute bisa dimulai.
Proyek kabel energi dan digital yang hendak menyambungkan Sarawak dengan Semenanjung Malaysia hingga Singapura tersendat di titik krusial: izin dari Jakarta belum turun. Studi dasar laut yang menentukan rute akhir kabel itu baru bisa dijalankan setelah Indonesia memberi lampu hijau.
Wakil Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Fadillah Yusof mengungkap alasannya. Sekitar 60 hingga 70% jalur kabel yang diusulkan akan menembus kedaulatan laut Indonesia. Tanpa persetujuan Jakarta, kapal survei tak bisa turun ke perairan itu.
Fadillah, yang merangkap jabatan Menteri Transisi Energi dan Transformasi Air, menyebut pihaknya sudah mengirim surat permohonan kepada otoritas Indonesia. Studi dasar laut untuk memetakan rute paling aman dan efisien secara teknis, katanya, baru bisa berjalan begitu izin itu keluar.
"Kami telah mengirimkan surat kepada pihak-pihak terkait dan setelah mendapatkan persetujuan, barulah semua pihak yang terlibat akan melakukan studi dasar laut untuk menentukan rute kabel," kata Fadillah, dikutip Bernama.
Ketidakpastian rute ini bukan perkara kecil. Proyek tersebut digadang-gadang sebagai tulang punggung baru bagi ketahanan telekomunikasi dan transmisi listrik yang menghubungkan Malaysia Timur dengan Malaysia Barat. Tanpa kepastian jalur, seluruh perencanaan teknis ikut menggantung.
Kerja sama kelistrikan lintas batas antara Sarawak dan Kalimantan sebenarnya bukan hal baru. Interkoneksi Sarawak-Kalimantan Barat, hasil kolaborasi Sarawak Energy Berhad dengan PLN, telah beroperasi sejak 2016. Awal tahun ini, interkoneksi Sarawak-Sabah juga baru diresmikan, menyusul jejak kerja sama serupa di kawasan Borneo.
Kabel Sarawak-Johor menjadi kepingan lain dari cetak biru besar bernama ASEAN Power Grid (APG). Di bawah koordinasi ASEAN Centre for Energy yang berbasis di Jakarta, Malaysia tengah menyinkronkan standar teknis agar transmisi daya bisa mengalir mulus lewat jaringan yang sudah menghubungkan Laos, Thailand, Malaysia, hingga Singapura.
Fadillah memaparkan visi yang lebih ambisius dari sekadar satu kabel. Sarawak, Sabah, Kalimantan, dan Brunei nantinya akan membentuk satu kesatuan bernama Grid Kalimantan, tersambung secara sistemik dengan wilayah Indonesia lainnya serta Filipina.
"Dalam konteks ASEAN Power Grid di wilayah ini, Sarawak, Kalimantan, Sabah, dan Brunei nantinya akan membentuk apa yang disebut Grid Kalimantan yang akan terhubung ke Indonesia, pulau-pulau Indonesia lainnya, dan Filipina," katanya.
Kuching diposisikan sebagai simpul utama. Dari kota itu, transmisi akan diteruskan menuju Semenanjung Malaysia lewat Johor, lalu berlanjut ke Singapura.
"Dari Kuching, akan terhubung ke Semenanjung melalui Johor dan sebagian ke Singapura," lanjutnya.
Skema besar itu kini bergantung pada satu langkah kecil yang belum juga terjadi: jawaban dari Jakarta.

0Komentar