Suasana bursa kerja di Beijing, China, di mana para pencari kerja muda sedang meninjau materi perekrutan.

Kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah peta ketenagakerjaan industri teknologi di Asia. Perusahaan-perusahaan teknologi terbesar di China memangkas lebih dari 130.000 posisi secara bertahap, sedangkan sektor layanan TI India diperkirakan kehilangan hingga 35.000 pekerjaan sepanjang 2026 melalui gelombang yang dikenal sebagai "PHK senyap".

Di China, pemangkasan terjadi di sejumlah raksasa internet seperti Alibaba, Tencent, ByteDance, Meituan, dan Baidu. Berdasarkan laporan Rest of World dan sejumlah media lain, perusahaan-perusahaan tersebut memilih mengurangi tenaga kerja tanpa pengumuman besar seperti yang lazim dilakukan perusahaan teknologi di Silicon Valley.

Berbagai cara ditempuh untuk mendorong karyawan mengundurkan diri, mulai dari mutasi paksa, rekayasa penilaian kinerja, hingga pembekuan promosi. Strategi itu dinilai mampu menekan jumlah pegawai tanpa memicu sorotan regulator.

Alibaba susut tajam, jutaan pekerjaan terancam

Alibaba menjadi perusahaan dengan penyusutan tenaga kerja paling mencolok. Sepanjang 2025, jumlah karyawannya turun sekitar 34%, dari 194.320 orang menjadi 128.197 orang. Penurunan tersebut dipicu divestasi bisnis sekaligus percepatan investasi pada teknologi AI.

Baidu juga mencatat penurunan hampir 7% dalam periode yang sama. Reuters pada Juni melaporkan semakin banyak perusahaan di China melakukan PHK berskala kecil demi meningkatkan produktivitas berbasis AI. Dampaknya merambah sektor teknologi, hiburan, hingga periklanan.

Risiko yang lebih besar masih membayangi. Laporan Citibank memperkirakan sekitar 9,6% dari seluruh lapangan kerja di China, atau sekitar 70 juta posisi, berada dalam kategori berisiko tinggi tergantikan AI. Angka itu bahkan meningkat menjadi 13,6% untuk kelompok pekerja berusia 20-an tahun.

Pemerintah China mulai bersiap menghadapi perubahan tersebut. Pada Januari 2026, Kementerian Sumber Daya Manusia dan Jaminan Sosial China mengumumkan rencana membangun sistem pemantauan untuk mengukur dampak AI terhadap pasar tenaga kerja.

India hadapi gelombang "PHK denyap"

Transformasi serupa juga berlangsung di industri layanan TI India yang bernilai sekitar US$315 miliar. Perusahaan penyedia solusi ketenagakerjaan TeamLease memperkirakan antara 10.000 hingga 15.000 profesional teknologi telah kehilangan pekerjaan akibat PHK senyap hingga Mei 2026.

Menurut laporan Economic Times, jumlah itu diproyeksikan meningkat menjadi 25.000 hingga 35.000 pekerja sepanjang tahun kalender ini. Sementara itu, CIEL HR Services memperkirakan sekitar 12.000 orang telah terdampak, dengan total kehilangan pekerjaan pada akhir tahun diperkirakan mencapai 18.000 hingga 21.000 orang.

Gelombang kali ini berbeda dibandingkan pemangkasan besar pada 2025. Saat itu, Tata Consultancy Services dan Accenture secara terbuka memangkas lebih dari 23.000 posisi. Kini, pengurangan tenaga kerja lebih banyak dilakukan melalui evaluasi kinerja dan penilaian kompetensi yang berujung pada pengunduran diri karyawan tanpa pengumuman resmi.

Data Layoffs.fyi menempatkan India sebagai negara dengan dampak PHK teknologi terkait AI terbesar kedua di dunia pada 2026 setelah Amerika Serikat.

Permintaan talenta AI justru meningkat

Meski jumlah pekerjaan menyusut di sejumlah bidang, kebutuhan terhadap tenaga ahli AI terus bertambah. Data Naukri.com menunjukkan perekrutan untuk posisi khusus AI di India meningkat 16% secara tahunan, ketika rekrutmen sektor TI secara keseluruhan justru turun 3%.

NASSCOM juga memperkirakan industri teknologi India masih mampu menciptakan tambahan bersih sekitar 135.000 lapangan kerja pada tahun fiskal ini sehingga total tenaga kerja sektor tersebut mendekati 6 juta orang.

Direktur Pelaksana sekaligus Chief Executive Officer CIEL HR Services, Aditya Narayan Mishra, mengatakan perubahan yang terjadi lebih mencerminkan pergeseran kebutuhan industri dibandingkan penyusutan permanen pasar kerja.

"Pengurangan tenaga kerja yang kita saksikan saat ini sebagian besar disebabkan oleh perusahaan-perusahaan yang sedang merombak cara mereka beroperasi," ujar Mishra. Ia menggambarkan tren tersebut sebagai "penyesuaian tenaga kerja, bukan penurunan lapangan kerja secara menyeluruh".